Oct 10, 2026
entertainment

Di Balik Butir Beras yang Dicuci: Perjuangan Ibu-ibu Menjaga Dapur Tetap Berasap

Di dapur berukuran 2x3 meter itu, tangan Siti Rohmah (52) bergerak perlahan. Sebuah baskom berisi beras setengah kilo diletakkan di atas meja kayu yang catnya mulai mengelupas. Matanya jeli mengamati ...

Di Balik Butir Beras yang Dicuci: Perjuangan Ibu-ibu Menjaga Dapur Tetap Berasap

Di dapur berukuran 2x3 meter itu, tangan Siti Rohmah (52) bergerak perlahan. Sebuah baskom berisi beras setengah kilo diletakkan di atas meja kayu yang catnya mulai mengelupas. Matanya jeli mengamati butir-butir putih yang bercampur dengan serbuk halus dan sesekali terlihat kutu kecil berjalan di sela-sela beras. "Ini bukan sekadar mencuci beras," ujarnya pelan. "Ini soal bagaimana dapur tetap berasap setiap hari."

Siti mengisahkan, kebiasaan mencuci beras dengan cermat ia pelajari dari ibunya tiga puluh tahun silam. Saat itu, beras yang tersimpan di lumbung sering bercampur kutu karena udara lembap. "Ibu selalu bilang, beras yang bersih akan menghasilkan nasi yang pulen dan tidak apek," kenangnya sambil menuangkan air bersih ke dalam baskom. Serbuk putih yang melayang di permukaan air ia buang perlahan, bukan digosok keras.

Teknik Basuh yang Diwariskan dari Generasi ke Generasi

Siti menjelaskan, langkah pertama yang ia lakukan adalah memilih beras dengan telapak tangan. Butir yang mengapung atau bercampur kutu dipisahkan. Setelah itu, air dituangkan hingga menutupi beras, lalu diaduk lembut memutar—bukan diremas. "Kalau digosok terlalu kuat, beras bisa pecah dan nasinya jadi lembek," tuturnya. Proses ini diulang dua hingga tiga kali sampai air bilasan terlihat jernih dan tidak berwarna putih keruh.

Menurut Siti, serbuk putih pada beras bukan hanya kotoran. Ada sisa dedak yang jika tidak dibersihkan bisa membuat nasi berbau apek setelah matang. Karena itu, ia selalu memastikan bilasan terakhir benar-benar bening. "Air terakhir itu penentunya," ujarnya. "Kalau masih keruh, nasi pasti kurang sedap."

"Beras itu seperti hidup. Kalau kita perlakukan dengan sabar, hasilnya juga baik. Kalau buru-buru, yang kita dapat hanya kekecewaan." — Siti Rohmah

Perjuangan Kecil yang Tak Terlihat di Balik Sepiring Nasi

Bagi Siti, mencuci beras bukan pekerjaan sepele. Ia mengaku pernah gagal berkali-kali. Suatu ketika, karena terburu-buru, ia hanya membilas sekali. Hasilnya, nasi yang disajikan untuk keluarganya berbau apek dan teksturnya keras. "Anak-anak saya diam saja, tapi saya tahu mereka tidak habis makan," ujarnya dengan mata berkaca. "Dari situ saya belajar, kesabaran di dapur itu penting."

Kisah Siti bukanlah hal asing di banyak rumah. Di kampungnya, para ibu sering berbagi cara mencuci beras yang benar. Ada yang menambahkan sedikit garam, ada pula yang merendam beras selama sepuluh menit sebelum dimasak. Semua dilakukan demi satu tujuan sederhana: keluarga makan dengan lahap.

Menjaga Tradisi, Merawat Kenangan

Kini, Siti mengajarkan cara mencuci beras kepada anak dan menantunya. Ia ingin kebiasaan ini tidak hilang. "Zaman berubah, beras sekarang lebih bersih. Tapi tetap saja, mencuci dengan benar itu tanda kita menghargai makanan," tuturnya. Di sudut dapur, baskom berisi beras sudah siap dimasak. Uap hangat mulai mengepul dari dandang. Siti tersenyum, "Dari butir-butir ini, saya merawat kenangan dan menghidupkan rumah."

Bagi Siti, mencuci beras adalah perjalanan kecil yang menyentuh. Ada air mata, ada perjuangan, dan ada mimpi sederhana: keluarga yang tumbuh sehat dari dapur yang hangat. "Mungkin orang lain tidak melihatnya," katanya, "tapi bagi saya, inilah cara saya mencintai mereka."

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS kartika-dewi

Reporter Cybersecurity. Fokus pada keamanan siber, privasi data, dan regulasi digital.

Comments (0)

User