Sore itu, langit jingga menggantung di ujung gang sempit kawasan padat penduduk. Kepulan asap tipis menari dari sebuah gerobak kayu sederhana, membawa aroma manis gurih ayam bakar yang menyapa siapa pun yang melintas. Di balik gerobak berukuran dua kali satu meter itu, Sartini, 52 tahun, duduk bersila sambil mengipasi bara arang dengan kipas anyaman bambu yang sudah usang. Jari-jarinya yang keriput bergerak pelan namun pasti, membolak-balik potongan ayam yang telah direndam bumbu kecap sejak subuh. Sesekali ia menyeka keringat di dahi, lalu tersenyum ramah kepada setiap pembeli yang datang.
Bagi banyak orang, seporsi ayam bakar mungkin sekadar santapan pengganjal lapar di kala senja. Namun bagi Sartini, setiap potong ayam yang ia bakar adalah perjuangan hidup yang ia lalui selama hampir dua puluh tahun. Di sinilah, di sudut gang yang sama, ia membesarkan tiga anaknya seorang diri hingga berhasil mengejar mimpi mereka masing-masing.
Berawal dari Kehilangan Terbesar
Sartini mengisahkan, usaha ayam bakarnya lahir dari masa paling gelap dalam hidupnya. Tahun 2006, suaminya meninggal dunia karena sakit, meninggalkan tiga anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Tabungan keluarga nyaris habis untuk biaya pengobatan. Ia sempat bingung harus berbuat apa, karena selama ini hanya menjadi ibu rumah tangga yang tak pernah bekerja di luar rumah.
"Waktu itu saya cuma punya resep ayam bakar dari ibu saya di kampung. Modalnya cuma nekat dan ingatan rasa. Saya pikir, kalau orang lain bisa jualan, saya juga pasti bisa," kenang Sartini sambil matanya menerawang jauh.
Dengan modal Rp300 ribu hasil menjual cincin kawin, ia membeli gerobak bekas, arang, dan lima ekor ayam. Hari pertama berjualan, hanya tiga porsi yang laku. Sisa ayamnya ia bagikan ke tetangga agar tidak busuk. Air matanya jatuh malam itu, tetapi keesokan paginya ia kembali menyalakan arang dengan tekad yang lebih membara.
Jatuh Bangun yang Tak Pernah Ia Ceritakan
Perjalanan Sartini tidak semulus aroma ayam bakarnya. Ia pernah diusir dari lokasi berjualan karena dianggap mengganggu ketertiban. Pernah pula dagangannya basi karena hujan deras membuat pembeli enggan keluar rumah. Bahkan, saat anak keduanya masuk SMP, ia nyaris menyerah karena penghasilan harian yang tak menentu.
"Pernah seharian cuma laku dua porsi. Pulang jualan saya menangis di gerobak. Tapi ingat anak-anak di rumah menunggu, saya bangkit lagi. Ayamnya saya bumbui lagi, besoknya jualan lagi," tuturnya dengan suara bergetar.
Momen mengharukan itu menjadi titik balik dalam perjalanannya. Ia mulai belajar mendengarkan pelanggan setianya: bumbu diperbaiki, kecap dipilih yang lebih berkualitas, dan ayam selalu dibakar dadakan agar hangat saat disantap. Perlahan, dari mulut ke mulut, ayam bakar Bu Sartini dikenal warga sekitar hingga pelanggan datang dari kampung sebelah.
Rahasia di Balik Kelezatan yang Sederhana
Apa yang membuat ayam bakarnya istimewa? Sartini hanya tersenyum kecil. Menurutnya, tidak ada rahasia besar. Ayam direbus terlebih dahulu bersama bumbu rempah, lalu dibakar di atas arang sambil diolesi kecap manis berulang kali hingga meresap dan berwarna kecokelatan mengilap. Prosesnya memakan waktu, tetapi ia tak pernah mau mengambil jalan pintas.
"Ayam bakar itu seperti hidup. Kalau dibakar dengan api terlalu besar, luarnya gosong tapi dalamnya mentah. Harus sabar, pelan-pelan, biar matangnya merata sampai ke tulang," ujarnya penuh makna.
Pelanggan setianya, Rudi, 45 tahun, mengaku sudah dua belas tahun membeli di sini. Baginya, rasa ayam bakar Bu Sartini tak pernah berubah, dan ada ketulusan yang terasa di setiap suapan. "Harganya sederhana, tapi rasanya seperti masakan ibu sendiri," katanya.
Mimpi yang Akhirnya Menyala
Kini, kerja keras itu berbuah manis. Anak sulungnya sudah bekerja sebagai perawat di sebuah rumah sakit, anak keduanya menjadi guru, dan si bungsu baru saja lulus kuliah dengan beasiswa. Gerobak kayu usang itu masih berdiri di tempat yang sama, meski anak-anaknya berkali-kali meminta sang ibu berhenti bekerja dan beristirahat di rumah.
"Saya jualan bukan cuma cari uang. Di sini saya merasa hidup. Asap ini yang dulu membesarkan anak-anak saya. Selama tangan masih bisa mengipas, saya akan terus membakar ayam," kata Sartini sambil tersenyum hangat.
Senja pun turun perlahan. Antrean pembeli mulai memanjang di depan gerobaknya. Di balik kepulan asap yang mengepul, Sartini kembali sibuk dengan kipas bambunya. Seporsi ayam bakar yang sederhana, ternyata menyimpan kisah panjang tentang kehilangan, keberanian, dan cinta seorang ibu yang tak pernah padam — sebuah inspirasi yang tersaji hangat di setiap piring.
Comments (0)