Aug 25, 2026
entertainment

Denny Sumargo Jawab Tudingan Berpihak di Tengah Kisruh Sarwendah-Ruben

Malam itu, di studio yang menjadi saksi bisik ratusan kisah para selebritas, Denny Sumargo menatap layar ponselnya lebih lama dari biasanya. Kolom komentar di kanal YouTube miliknya mendadak riuh. Ada...

Denny Sumargo Jawab Tudingan Berpihak di Tengah Kisruh Sarwendah-Ruben

Malam itu, di studio yang menjadi saksi bisik ratusan kisah para selebritas, Denny Sumargo menatap layar ponselnya lebih lama dari biasanya. Kolom komentar di kanal YouTube miliknya mendadak riuh. Ada yang membela, namun tak sedikit pula yang melempar tudingan: ia dianggap memihak dalam perseteruan rumah tangga yang tengah menjadi perbincangan publik.

Semua bermula dari keputusan pria yang akrab disapa Densu itu menghadirkan Sarwendah dan pengacara Ruben Onsu secara bergantian di podcast-nya. Dua episode yang tayang berurutan itu memicu spekulasi liar. Warganet terbelah—sebagian menilai Denny condong ke satu pihak, sebagian lain justru menuduh sebaliknya.

Badai yang Datang dari Dua Arah

Tudingan itu datang hampir bersamaan dari dua kubu yang berseberangan. Ketika episode bersama Sarwendah tayang, sejumlah komentar menilai Denny memberi panggung terlalu besar bagi sang penyanyi untuk mencurahkan isi hatinya. Namun ketika pengacara Ruben Onsu hadir berbicara, giliran pendukung Sarwendah yang mempertanyakan sikap sang pembawa acara.

Fenomena semacam ini, bagi Denny, bukanlah hal baru. Sebagai pembawa acara yang kerap mengundang figur-figur yang tengah berselisih, ia sadar betul bahwa setiap keputusan menghadirkan bintang tamu akan selalu dibaca sebagai sikap oleh publik. Setiap pertanyaan yang ia lontarkan, setiap anggukan yang ia berikan, bisa dipotong dan ditafsirkan sesuka hati.

"Saya ini host. Tugas saya mendengarkan, bukan menghakimi. Kalau ada orang mau cerita, ya saya sediakan ruangnya," ujar Denny menanggapi tudingan tersebut dengan nada tenang.

Menjadi Pendengar di Tengah Perseteruan

Denny menegaskan bahwa posisinya sejak awal adalah netral. Ia tidak berada di kubu Sarwendah, tidak pula membela Ruben Onsu. Baginya, podcast yang ia bangun dengan susah payah adalah rumah bagi siapa pun yang ingin berbicara—termasuk mereka yang tengah menjadi sorotan karena konflik.

Ia juga mengingatkan bahwa dirinya mengenal baik kedua belah pihak. Hubungan pertemanan yang sudah terjalin lama membuatnya enggan mengambil jarak, apalagi menghakimi salah satu dari mereka. Di mata Denny, persahabatan tidak seharusnya dikorbankan hanya untuk memuaskan rasa penasaran publik.

"Dua-duanya teman saya. Masa saya harus milih? Hidup itu nggak sesederhana itu," tuturnya.

Kalimat itu ia ucapkan bukan dengan nada defensif, melainkan seperti seseorang yang lelah harus terus menjelaskan hal yang sama berulang kali.

Ruang Aman bagi Setiap Cerita

Lebih jauh, Denny menjelaskan filosofi di balik programnya. Setiap tamu yang datang, menurutnya, membawa cerita dan sudut pandang masing-masing. Tugasnya bukan memutuskan siapa yang benar dan siapa yang salah, melainkan memastikan setiap orang mendapat kesempatan yang sama untuk didengar.

Ia juga menyadari bahwa di era media sosial, netralitas justru kerap disalahartikan. Tidak memihak dianggap sebagai bentuk keberpihakan terselubung. Padahal, kata Denny, justru di situlah letak tanggung jawab seorang pembawa acara yang sesungguhnya—menahan diri untuk tidak ikut menghakimi, sekalipun jari-jari warganet sudah menunjuk-nunjuk.

"Kalau saya berpihak, justru saya gagal jadi pendengar yang baik. Biarlah publik yang menilai, tugas saya membuka ruang," katanya.

Pelajaran dari Riuhnya Panggung

Kisruh kali ini menjadi pengingat betapa tipisnya batas antara memberi panggung dan dianggap memihak. Bagi Denny Sumargo, risiko itu sudah ia perhitungkan sejak lama. Yang terpenting baginya, setiap tamu pulang dengan perasaan lega karena ceritanya didengar—tanpa dipotong, tanpa dihakimi.

Di tengah derasnya arus penilaian publik, pria berpostur jangkung itu memilih tetap berdiri di tengah. Bukan karena takut mengambil sikap, melainkan karena ia percaya bahwa setiap kisah—serumit apa pun—layak mendapatkan ruang untuk disimak hingga selesai.

Dan mungkin, di situlah letak kekuatan seorang pendengar: ia tidak memilih siapa yang benar, ia hanya memastikan semua suara tidak tenggelam oleh riuhnya prasangka.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS salsa-bintari

Reporter Startup. Meliput ekosistem startup Indonesia, venture capital, dan unicorn.

Comments (0)

User