Pukul empat sore, ketika matahari mulai condong ke barat, aroma gurih bawang putih yang menari di minyak panas menyeruak dari dapur berukuran 3x4 meter di sebuah gang kecil di pinggiran Yogyakarta. Di sudut ruangan yang remang itu, tangan Siti Maryam (52) bergerak lincah: membelah terong ungu, menyelipkan adonan ayam berbumbu ke dalamnya, lalu membalurnya dengan tepung sebelum melepasnya perlahan ke wajan. Suara desis yang muncul kemudian, baginya, bukan sekadar bunyi masakan. Itu adalah musik yang telah mengiringi perjalanan hidupnya selama dua puluh tahun terakhir.
Terong isi goreng buatannya tampak sederhana: irisan terong berbalut tepung keemasan, renyah di luar, lembut di dalam, dengan isian ayam cincang yang gurihnya meresap hingga ke serat sayur. Namun di balik kerenyahan itu, tersimpan kisah seorang perempuan yang berjuang membesarkan tiga anaknya seorang diri, satu wajan demi satu wajan.
Bangkit dari Dapur yang Sederhana
Maryam mengisahkan, hidupnya berubah drastis ketika suaminya berpulang dua puluh tahun silam. Sang sulung baru duduk di kelas lima sekolah dasar, sementara si bungsu masih berusia dua tahun. Dengan bekal resep warisan ibunya dan tekad yang tak pernah padam, ia mulai menggoreng terong isi di teras rumah, lalu berkeliling kampung dengan nampan di kepala.
Ada masa-masa ketika hujan deras membuat dagangannya tak laku, dan ia pulang dengan air mata yang ia sembunyikan dari anak-anaknya. Ada pula hari-hari ketika ia harus memilih antara membeli minyak goreng baru atau membayar uang buku sekolah. Namun perempuan itu memilih untuk terus bangkit, karena ia percaya dapur kecilnya menyimpan mimpi yang lebih besar dari kesulitannya.
"Dulu saya cuma punya satu wajan tua dan dua kilogram terong. Tapi ibu saya pernah bilang, masakan yang dibuat dengan hati tidak akan pernah mengkhianati rasa. Kalimat itu yang membuat saya bertahan sampai hari ini," ucap Maryam, suaranya bergetar menahan haru.
Di Balik Layar Kerenyahan yang Melegenda
Di balik layar seporsi terong isi yang renyah itu, ada ketelatenan yang jarang disadari pelanggan. Maryam selalu memilih terong ungu muda yang kulitnya mengilap dan dagingnya padat, karena terong yang terlalu tua akan lembek dan menyerap terlalu banyak minyak. Isiannya diracik dari ayam cincang segar, bawang putih, bawang merah, merica, sedikit gula, dan irisan daun bawang, diikat dengan putih telur agar padat namun tetap lembut ketika digigit.
Rahasia kerenyahannya terletak pada adonan pelapis: campuran tepung terigu dan tepung beras dengan perbandingan yang ia hafal di luar kepala, diaduk dengan air dingin hingga licin, tidak terlalu kental dan tidak terlalu encer. Terong yang telah diisi dicelupkan ke adonan itu, lalu digoreng dalam minyak bersuhu sedang. Ia hanya membaliknya satu kali, karena terlalu sering diaduk akan membuat tepungnya rontok dan minyak merembes berlebihan.
"Orang sering tanya apa bumbu rahasianya. Sebenarnya tidak ada yang istimewa. Bumbunya sederhana, tapi saya tidak pernah buru-buru. Menggoreng itu seperti membesarkan anak, butuh kesabaran. Api terlalu besar, luarnya gosong tapi dalamnya mentah. Hidup juga begitu," katanya sambil tersenyum.
Mimpi yang Perlahan Matang Seperti Gorengan
Kini, kesabaran itu berbuah manis. Anak sulungnya telah menjadi guru sekolah dasar, anak keduanya bekerja sebagai perawat, dan si bungsu—yang dulu digendong saat ia berjualan keliling—kini duduk di bangku kuliah jurusan tata boga. Momen mengharukan itu datang ketika sang bungsu berkata ingin belajar memasak secara serius, agar suatu hari bisa mengangkat resep sang ibu ke panggung yang lebih besar.
Dari nampan di kepala, usaha Maryam kini berkembang menjadi gerobak kecil di depan rumahnya, dengan pelanggan setia yang rela mengantre sejak sore. Ia bahkan mulai menerima pesanan untuk acara arisan dan pengajian. Bagi tetangganya, Maryam bukan sekadar penjual gorengan; ia adalah inspirasi bahwa keteguhan bisa lahir dari dapur yang paling sempit sekalipun.
Ketika senja turun dan lampu gerobaknya menyala, Maryam masih berdiri di depan wajan yang sama, menggoreng terong isi satu per satu dengan hati yang lapang. Baginya, setiap potong terong yang keemasan itu adalah surat cinta untuk anak-anaknya—bukti bahwa dari tangan seorang ibu, hal sederhana bisa berubah menjadi keajaiban yang menyentuh banyak kehidupan.
Comments (0)