Dari Dapur Majikan ke Ruang Sidang: Nur Rohmah Menuntut Keadilan
Di sebuah sudut kota yang lalu-lalang kendaraan umum, Nur Rohmah duduk termenung di teras rumah kontrakannya. Matanya menerawang jauh, seperti sedang mengumpulkan serpihan keberanian yang sempat hilan...
Di sebuah sudut kota yang lalu-lalang kendaraan umum, Nur Rohmah duduk termenung di teras rumah kontrakannya. Matanya menerawang jauh, seperti sedang mengumpulkan serpihan keberanian yang sempat hilang selama bertahun-tahun. Di tangannya, selembar dokumen gugatan perdata senilai Rp1 miliar tergenggam erat—bukan sekadar kertas hukum, melainkan simbol perlawanan seorang perempuan yang pernah dianggap nyaris tak terlihat.
Mengumpulkan Puing Kehidupan yang Terserak
Nur Rohmah bukan nama asing di kalangan pekerja rumah tangga. Ia pernah menjadi asisten rumah tangga yang mengabdikan diri pada sebuah keluarga, mengabdikan waktu, tenaga, dan perasaan—namun tak pernah mendapat perlindungan layak. Ketika hubungan kerja itu putus, yang tersisa hanyalah luka yang mengendap lama di dada.
"Saya diam bertahun-tahun karena takut," tutur Nur Rohmah dengan suara bergetar. "Takut tidak dipercaya. Takut dianggap mengada-ada. Tapi diam bukan berarti tidak sakit."
Kini, perempuan itu memilih untuk tidak lagi menelan sendiri beban yang selama ini dipikulnya. Bersama kuasa hukumnya, ia melangkah masuk ke Pengadilan Negeri, menggugat mantan majikannya atas dasar perlakuan yang diyakininya melanggar hak asasi dan kemanusiaan.
Sebuah Gugatan yang Lebih dari Sekadar Angka
Bagi banyak orang, angka Rp1 miliar mungkin terdengar fantastis untuk seorang mantan pekerja rumah tangga. Namun bagi Nur Rohmah, angka itu bukan tentang kekayaan—melainkan tentang harga diri yang selama ini diinjak tanpa ampun.
"Ini bukan soal uang. Ini soal pengakuan bahwa saya manusia," tegas Nur Rohmah ketika ditemui di kediamannya. "Saya ingin ada keadilan, agar tidak ada lagi perempuan lain yang mengalami apa yang saya alami."Kasus ini menambah panjang daftar perjuangan para pekerja rumah tangga di Indonesia yang selama ini nyaris tak terdengar. Mereka bekerja dari pagi hingga malam, mengurus rumah, merawat anak, memasak—namun seringkali tak memiliki kontrak kerja, tak memiliki hari libur, dan tak memiliki suara ketika hak-haknya dilanggar.
Di Balik Layar: Luka yang Tak Terlihat
Cerita Nur Rohmah menyimpan lapisan-lapisan luka yang selama ini tersembunyi rapat di balik senyum sopan dan tubuh yang terus bekerja. Ada malam-malam panjang ketika ia harus berdiri di dapur hingga larut, ada pagi-pagi ketika ia bangun sebelum matahari terbit untuk menyiapkan segala sesuatu bagi majikan.
"Saya pernah bekerja selama bertahun-tahun tanpa pernah sekali pun dipanggil dengan nama," kenangnya dengan mata berkaca-kaca. "Saya hanya dipanggil 'mbak' atau kadang-kadang bahkan hanya dengan suara keras. Rasanya seperti tidak punya identitas."
Pengalaman-pengalaman kecil yang terdengar sepele itu, jika dikumpulkan, menjadi beban psikologis yang luar biasa berat. Nur Rohmah mengaku sempat mengalami gangguan tidur, kecemasan, dan perasaan rendah diri yang berkepanjangan.
Bangkit dari Diam, Menjadi Suara
Keputusan Nur Rohmah untuk menggugat bukan muncul tiba-tiba. Ia melalui proses panjang—mulai dari mengumpulkan keberanian, mencari bantuan hukum, hingga akhirnya berani melangkah ke pengadilan. Perjalanan itu tidak mudah, apalagi dengan segala keterbatasan ekonomi yang melekat pada statusnya sebagai mantan pekerja rumah tangga.
"Banyak yang bilang saya jangan ngotot. Katanya, lebih baik sabar, ikhlaskan saja," cerita Nur Rohmah. "Tapi saya bertanya pada diri sendiri—sampai kapan? Sampai kapan perempuan seperti saya harus diam?"
Pertanyaan itu akhirnya membawanya pada keputusan yang mengubah hidupnya. Ia memilih untuk tidak lagi menjadi pekerja rumah tangga yang tak terlihat, melainkan perempuan yang berani menuntut haknya di muka hukum.
Harapan di Ujung Perjalanan
Bagi Nur Rohmah, gugatan ini adalah bentuk perjuangan yang mungkin tidak akan pernah mengubah masa lalunya, namun bisa menjadi pintu bagi masa depan yang lebih baik—bagi dirinya sendiri dan bagi ribuan pekerja rumah tangga lainnya di seluruh Indonesia.
"Saya tidak tahu apakah saya akan menang," akunya jujur. "Tapi setidaknya saya sudah mencoba. Saya sudah berdiri untuk diri saya sendiri. Dan itu sudah cukup membuat saya merasa hidup kembali."
Di teras rumah kontrakannya yang sederhana, dengan secangkir teh yang mulai mendingin di tangan, Nur Rohmah menatap ke depan dengan mata yang kini tidak lagi menerawang kosong—tetapi memancarkan tekad seorang perempuan yang akhirnya menemukan suaranya sendiri.
Comments (0)