Di sebuah ruangan hotel di Jakarta, Selasa (6/10/2026), Claresta Taufan duduk dikelilingi sejumlah jurnalis. Ia tersenyum tipis, sesekali merapikan ujung lengan bajunya. Bukan sorotan lampu merah karpet yang membuatnya gugup, melainkan pertanyaan-pertanyaan yang akan datang tentang perannya di film terbaru berjudul Bapak Paling Jujur. Ada getaran berbeda di suaranya saat ia mulai berbicara.
Media junket itu berlangsung sederhana, tanpa panggung megah. Namun justru dalam kesederhanaan itu, kisah Claresta terasa lebih dekat. Ia mengisahkan bagaimana ia jatuh cinta pada naskah yang menurutnya bukan sekadar cerita, melainkan cermin dari banyak keluarga di Indonesia.
Perjalanan Menemukan Karakter
Claresta mengaku butuh waktu panjang untuk memahami perannya. Ia tidak ingin sekadar hadir di layar, tetapi ingin hidup di dalamnya. Ia bercerita tentang hari-hari ia habiskan membaca ulang naskah, mencatat detail kecil, dan berbincang dengan orang-orang yang punya pengalaman serupa.
"Aku nggak mau main aman. Ini perjalanan yang bikin aku belajar banyak soal arti jujur, bahkan pada diri sendiri," ujarnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Kalimat itu menggantung di ruangan, membuat beberapa jurnalis ikut terdiam.
Bagi Claresta, Bapak Paling Jujur bukan proyek biasa. Ia menyebutnya sebagai momen mengharukan yang mengubah cara pandangnya terhadap keluarga dan kejujuran. Di balik layar, ia sering berdiskusi panjang dengan sutradara dan para pemain lain, mencari cara agar setiap adegan terasa nyata.
"Ada adegan yang bikin aku nangis sampai nggak bisa berhenti. Bukan karena akting, tapi karena aku benar-benar merasakannya."
Air Mata di Balik Layar
Ia mengenang salah satu hari syuting yang paling berat. Cuaca sedang tidak bersahabat, jadwal padat, dan energi tim mulai menurun. Namun Claresta melihat bagaimana semua orang tetap berjuang demi satu tujuan: menyampaikan pesan film dengan jujur.
"Aku belajar bahwa film bukan cuma soal aku. Ada banyak orang yang bangkit tiap hari demi karya ini," tuturnya. Ia lalu menyebut para kru yang bekerja tanpa banyak sorotan, namun menjadi tulang punggung produksi.
Di titik itu, Claresta seperti ingin menegaskan bahwa inspirasi tidak selalu datang dari panggung besar. Kadang, ia datang dari obrolan sederhana di sela syuting, dari kopi hangat yang dibagikan kru, atau dari tatapan mata seseorang yang percaya pada cerita.
Harapan yang Ingin Ia Titipkan
Menjelang akhir sesi, Claresta berbicara tentang harapannya. Ia ingin penonton tidak hanya keluar bioskop dengan cerita, tetapi juga membawa pulang sesuatu untuk direnungkan.
"Semoga setelah nonton, orang jadi lebih berani jujur. Jujur itu nggak gampang, tapi perlu," ucapnya lirih. Kalimat itu menjadi penutup yang menyentuh, seolah menjadi doa kecil dari seorang aktris yang ingin karyanya berarti.
Media junket di Jakarta itu akhirnya usai. Claresta berdiri, tersenyum, dan melangkah keluar ruangan. Namun bagi mereka yang menyimak, kisahnya tentang perjuangan, mimpi, dan air mata di balik Bapak Paling Jujur akan tinggal lebih lama dari sekadar berita. Ini bukan hanya tentang film, melainkan tentang keberanian menjadi manusia yang jujur pada hidupnya sendiri.
Comments (0)