Pertengahan Oktober 2024, di lantai sebuah museum di kawasan Shinjuku, Tokyo, puluhan jurnalis terdiam dalam kegelapan. Di dinding putih yang tiba-tiba berubah menjadi layar raksasa, sosok perempuan tua dengan rambut merah menyala muncul dalam proyeksi video. Ia bernyanyi, berteriak, dan menari di antara gugusan titik-titik yang membanjiri setiap sudut ruangan. Karya itu berjudul "Song of a Manhattan Suicide Addict", dan di ruangan itu, untuk sesaat, maut terasa begitu dekat sekaligus begitu jauh.
Pemandangan itu menjadi bagian dari pratinjau media untuk pameran terbaru Museum Yayoi Kusama yang bertajuk "I Would Overcome Death and Go On Living" — dalam bahasa Indonesia, "Aku akan melampaui kematian dan terus hidup." Sebuah kalimat yang terdengar seperti sumpah, bukan sekadar judul pameran.
Perempuan yang Mengubah Rasa Takut Menjadi Seni
Di balik polka dot yang kini menghiasi tas, sepatu, hingga mobil-mobil mewah di berbagai penjuru dunia, tersimpan kisah seorang anak perempuan dari Matsumoto, Jepang, yang sejak kecil melihat dunia dengan cara yang berbeda. Sejak usia belasan tahun, Kusama mengalami halusinasi — dunia baginya dipenuhi titik-titik dan jaring-jaring yang tak terlihat oleh orang lain. Ketakutannya begitu nyata, namun ibunya justru memintanya untuk berhenti melukis.
Kusama memilih jalan yang tak biasa. Pada 1957, ia meninggalkan Jepang menuju New York, negeri asing yang bahasanya belum ia kuasai, demi mengejar mimpi menjadi seniman. Ia tiba dengan uang yang hampir habis, dinginnya musim salju, dan sepercik keyakinan yang tak pernah padam. Di kota itulah ia berjuang, kelaparan, dan sempat jatuh ke dalam kegelapan yang kemudian ia lukiskan lewat "Song of a Manhattan Suicide Addict" — sebuah karya yang lahir dari masa-masa paling rentan dalam hidupnya.
Perjalanan itu mengisahkan bagaimana seorang perempuan memilih menghadapi maut bukan dengan menyerah, melainkan dengan menuangkannya ke atas kanvas. Setiap titik yang ia gores adalah terapi, setiap jaring yang ia lukis adalah pelarian, dan setiap warna adalah harapan yang ia paksa tumbuh di tengah badai.
Hidup di Antara Rumah Sakit dan Studio
Sejak 1977, Kusama memilih tinggal secara sukarela di sebuah rumah sakit jiwa di Tokyo. Namun tempat itu bukanlah akhir dari karyanya — setiap pagi ia berjalan menyeberang ke studionya yang berjarak hanya beberapa langkah, lalu melukis, menulis, dan berkarya tanpa henti. Selama hampir lima dekade, rutinitas sederhana itu menjadi bukti bahwa penyakit bukanlah alasan untuk berhenti bermimpi.
Museum yang berdiri di Shinjuku sejak 2017 ini menjadi semacam altar bagi kegigihan itu. Di gedung putih yang tampak sederhana dari luar, pengunjung diajak menyusuri lorong-lorong yang dipenuhi cermin, lampu, dan titik-titik yang seolah tak berujung. Pameran "I Would Overcome Death and Go On Living" menghadirkan karya-karya yang mengangkat tema paling personal bagi sang seniman: pertarungannya dengan maut — lewat penyakit, lewat kesepian, lewat usia yang kian menua.
Proyeksi video yang menjadi sorotan dalam pratinjau media itu bukan sekadar tontonan. Di dalamnya, Kusama yang kini menginjak usia sembilan puluhan tampil dengan energi seorang anak kecil, menyanyikan lagu-lagu tentang kehidupan, seolah menertawakan segala hal yang pernah mencoba menjatuhkannya.
Pesan untuk Mereka yang Sedang Berjuang
Ada momen mengharukan yang sulit dilupakan dari ruang pratinjau itu. Ketika proyeksi berakhir dan lampu kembali menyala, sebagian jurnalis masih duduk diam, larut dalam keheningan. Bagi siapa pun yang pernah merasa kehilangan arah, karya Kusama berbicara dalam bahasa yang universal: rasa sakit boleh datang, tetapi menyerah bukanlah satu-satunya pilihan.
"Aku akan melampaui kematian dan terus hidup" — kalimat itu kini menjadi semacam doa yang bergema di setiap sudut pameran. Di usianya yang tidak lagi muda, Kusama tetap berkarya, tetap melukis titik-titik, tetap memenuhi dunia dengan warna. Ia membuktikan bahwa seni bisa menjadi pelukan paling hangat bagi jiwa yang paling terluka.
Di luar museum, Tokyo tetap ramai seperti biasa. Orang-orang berjalan cepat mengejar kereta, ponsel menyala di genggaman masing-masing. Namun di balik dinding-dinding itu, seorang perempuan berusia lanjut mengingatkan kita semua: selama masih ada titik yang bisa digores, selama masih ada warna yang bisa dipilih, hidup selalu layak untuk dirayakan. Dan mungkin, di situlah letak keabadian yang sesungguhnya — bukan pada ketiadaan maut, melainkan pada keberanian untuk terus hidup.
Comments (0)