Aug 26, 2026
entertainment

Cinta Nin Enuy, Bersemi Kembali di Usia 80

Di sebuah sudut kampung yang asri, di mana pepohonan mangga rindang dan suara gamelan mengalun pelan dari balik dinding bambu, seorang perempuan lanjut usia dengan rambut keperakan tersenyum tipis. Ia...

Cinta Nin Enuy, Bersemi Kembali di Usia 80

Di sebuah sudut kampung yang asri, di mana pepohonan mangga rindang dan suara gamelan mengalun pelan dari balik dinding bambu, seorang perempuan lanjut usia dengan rambut keperakan tersenyum tipis. Ia dipanggil Nin Enuy oleh warga sekitar, nama yang begitu dekat di hati, lebih hangat daripada nama resmi di kartu identitasnya, Nurhayati. Lahir pada 21 Oktober 1945, usianya kini menginjak delapan dekade, namun semangatnya tak menua. Tubuhnya masih tegap, langkahnya gesit, dan sorot matanya menyimpan sejuta kisah.

Pagi itu, seperti biasa, Nin Enuy menyapu halaman rumah panggungnya, sesekali menyapa tetangga yang lewat. Namun ada sesuatu yang berbeda dalam senyumnya—sebuah keriangan yang seakan menyembul dari hati yang lama sepi. Sebab, di usia yang seharusnya dihabiskan dengan kenangan masa lalu, Nin Enuy justru sedang menapaki babak baru dalam hidupnya: cinta.

Perempuan di Balik Panggilan Nin Enuy

Nurhayati kecil lahir di tengah hiruk pikuk revolusi, tumbuh dalam asuhan orang tua petani yang mengajarinya ketabahan. Ia menikah muda dengan seorang pemuda desa, dikaruniai tiga anak, dan menjalani hidup sebagai ibu rumah tangga yang penuh perjuangan. Namun takdir berkata lain; suami tercintanya berpulang akibat sakit komplikasi dua puluh tahun silam, meninggalkan Nin Enuy dalam kesendirian. Anak-anaknya kini merantau ke kota besar, menjadikannya penghuni tetap kampung yang hanya ditemani kucing kesayangan dan foto-foto usang di dinding.

Di balik senyumnya yang hangat, Nin Enuy menyimpan berlapis kenangan. Ia bercerita, dulu ia dan suaminya sering berjalan kaki ke pasar di Minggu pagi, membeli sayur dan ikan segar. Setelah sang suami tiada, kebiasaan itu ia lanjutkan sendiri, sebagai cara untuk tetap merasa ditemani. “Kadang saya masih bisa mendengar suaranya, 'Bu, beli bayam ya, biar sehat',” kenangnya sambil menatap jauh.

Meski begitu, Nin Enuy tak pernah menyerah pada duka. “Hidup harus terus berjalan, Nak. Kalau cuma meratapi yang sudah pergi, kapan kita bisa bahagia?” ujarnya suatu ketika, menatap tanaman hias di beranda. Kegesitan dan semangatnya sering membuatnya lupa bahwa ia sudah sepuh. Ia aktif di pengajian, mengurus kebun kecil, bahkan sesekali mengajar mengaji anak-anak kampung.

Jejak Cinta yang Tak Lekang Waktu

Pertemuan yang mengubah sunyi menjadi riuh rendah itu bermula dari sebuah acara arisan lansia di balai desa. Di sana, Nin Enuy bertemu dengan Mbah Sastro, seorang duda berusia 82 tahun yang juga kehilangan pasangan hampir satu dekade lalu. Mbah Sastro, dengan kopiah hitam dan senyum ramahnya, diam-diam menaruh perhatian pada Nin Enuy yang selalu cekatan membagi kue dan menyuguhkan teh.

“Saya lihat beliau itu beda. Wajahnya teduh, geraknya cekatan. Saya langsung merasa… ada sesuatu,” kenang Mbah Sastro, suaranya bergetar penuh haru. Perlahan, perhatian itu berubah menjadi obrolan ringan, lalu saling berkunjung di pagi hari sekadar membawakan pisang rebus atau ubi jalar dari kebun.

Anak-anak kedua belah pihak awalnya risih, namun melihat kebahagiaan yang terpancar dari raut wajah orang tua mereka, mereka pun merestui. “Kami hanya ingin Ibu bahagia. Kalau dengan Mbah Sastro beliau bisa tersenyum lagi, kenapa tidak?” ujar anak sulung Nin Enuy melalui sambungan telepon.

Mengisi Hari dengan Kehangatan

Kini, hampir setiap sore, Nin Enuy dan Mbah Sastro duduk berdampingan di teras, menikmati senja sambil bertukar cerita masa muda. Kadang mereka tertawa kecil mengingat kelucuan masa lalu, kadang pula mereka terdiam menikmati nyanyian burung. Tak ada kemewahan dalam hubungan mereka, hanya ada ketulusan dan kesediaan untuk saling menemani di sisa usia.

“Di usia seperti kami, cinta itu bukan lagi tentang genggaman erat atau kata-kata manis. Cinta itu kehadiran, ada yang mendengarkan, ada yang peduli saat kita terbangun di malam hari,” kata Nin Enuy dengan mata berbinar.

Komunitas kampung memberikan dukungan penuh. Para tetangga sering melihat pasangan sepuh itu berjalan perlahan menuju masjid, bergandengan tangan, membawa kedamaian yang menular. Mereka menjadi inspirasi bahwa cinta tak mengenal angka, bahwa hati tetap bisa berdebar meski dahi telah mengeriput.

Dalam sebuah momen mengharukan, ketika Nin Enuy sakit flu ringan, Mbah Sastro setia menungguinya, membawakan bubur ayam buatan tetangga, mengompres dahi, dan membacakan ayat-ayat suci. Air mata Nin Enuy menetes, bukan karena sakit, melainkan karena terharu. “Rasanya seperti dulu, waktu almarhum suami masih ada. Ternyata Allah masih memberi saya kesempatan merasakan dicintai,” bisiknya.

Pelajaran dari Cinta di Antara Lansia

Kisah Nin Enuy dan Mbah Sastro bukan sekadar cerita dua manusia yang bertaut hati di masa senja. Lebih dari itu, kisah ini mengajarkan bahwa kebahagiaan tak pernah memandang usia. Selama jantung masih berdetak, selalu ada ruang bagi cinta untuk tumbuh. Bagi para lansia yang kerap dipandang sebelah mata, kisah ini menjadi semacam oase di tengah padang stigma bahwa orang tua hanya perlu istirahat dan menunggu waktu.

“Banyak yang bilang, udah tua kok masih mikirin cinta. Saya hanya senyumin saja. Mereka tidak tahu rasanya sepi mendekap bertahun-tahun,” ujar Mbah Sastro dengan tawa khasnya. Kini, rumah panggung kecil Nin Enuy tak lagi sunyi. Denting tawa dan alunan lantunan doa kerap terdengar dari sana, mengusir sepi yang dulu bertakhta.

Di penghujung perbincangan, Nin Enuy menatap langit jingga, lalu berujar, “Tuhan itu adil. Ia mengambil satu cinta, tapi menggantinya dengan cinta lain di waktu yang tak terduga. Saya bersyukur, di sisa umur ini, saya masih bisa merasakan jatuh cinta.”

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User