Aug 25, 2026
entertainment

Cinta dan Semangat Nin Enuy di Usia Senja

Pagi itu belum sepenuhnya terang ketika sosok berkerudung tipis sudah sibuk di halaman rumah sederhananya. Sapu lidi bergerak lincah mengusir daun-daun kering yang berguguran semalaman, dan langkahnya...

Cinta dan Semangat Nin Enuy di Usia Senja

Pagi itu belum sepenuhnya terang ketika sosok berkerudung tipis sudah sibuk di halaman rumah sederhananya. Sapu lidi bergerak lincah mengusir daun-daun kering yang berguguran semalaman, dan langkahnya ringan menapaki tanah yang masih basah oleh embun. Di usia yang telah menembus delapan dekade, Nurhayati — yang seluruh warga kampung akrab memanggilnya Nin Enuy — masih bergerak gesit, seolah usia hanyalah angka di selembar kartu. Di KTP-nya tercatat nama asli Nurhayati dengan tanggal lahir 21 Oktober 1945. Namun bagi tetangga-tetangganya, perempuan ini adalah bukti hidup bahwa semangat tak pernah mengenal kata tua.

Kisah di Balik Tubuh yang Tak Pernah Renta

Melihat Nin Enuy beraktivitas, orang sulit percaya bahwa ia lahir di tahun yang sama dengan awal perjalanan panjang bangsa ini. Rambutnya yang memutih justru menjadi penanda kebijaksanaan, sementara matanya masih tajam saat menyapu, memasak, atau merapikan kebun kecil di belakang rumah. Setiap pagi, ia bangun sebelum ayam berkokok, menyeduh kopi hitam, lalu memulai hari dengan doa dan pekerjaan rumah yang dilakoni tanpa bantuan siapa pun.

"Selama tangan saya masih bisa bergerak, kenapa harus diam saja?" ujarnya sambil tertawa kecil. Baginya, bergerak adalah obat paling mujarab yang pernah ia kenal. Para tetangga kerap menjadikannya inspirasi; banyak dari mereka yang lebih muda justru mengeluh pegal sebelum sempat menyelesaikan sepuluh langkah, sementara Nin Enuy masih sanggup memikul dagangan ke pasar dengan senyum yang tak pernah pudar.

Cinta yang Tak Lekang Waktu

Di balik kegesitan itu, tersimpan kisah cinta yang mengharukan. Nin Enuy menikah muda dengan seorang lelaki sederhana yang ditemuinya di kampung sebelah. Perjalanan rumah tangga mereka dijalani dengan pas-pasan, namun dipenuhi tawa dan saling menguatkan. Ketika suaminya berpulang beberapa tahun lalu, dunia seakan runtuh di matanya. Namun alih-alih larut dalam kesedihan, ia memilih merawat kenangan dengan cara yang paling menyentuh: setiap Jumat pagi, ia menata bunga di pusara suaminya dan membawa makanan kesukaan lelaki itu.

"Saya masih masak seperti dulu, seolah beliau masih ada dan akan pulang," katanya lirih, matanya berkaca-kaca. Baginya, cinta tidak berakhir ketika napas terhenti. Cinta justru menjelma menjadi kebiasaan-kebiasaan kecil yang ia jaga dengan setia — sebuah kesetiaan yang membuat siapa pun yang mendengarnya ikut terharu.

Bangkit dari Air Mata

Hidup Nin Enuy tidak pernah mudah. Sejak muda, ia berjuang seorang diri membesarkan anak-anaknya setelah suaminya jatuh sakit. Pagi-pagi buta ia berdagang sayur, siangnya mencuci pakaian tetangga, malamnya menjahit. Air mata pernah mengalir diam-diam di dapur kecilnya ketika dagangan tak laku dan anak-anak menanti makanan. Namun setiap kali rasa putus asa hendak menyeruak, ia selalu mengingat wajah anak-anaknya yang menatap penuh harap.

"Saya pernah hampir menyerah. Tapi saya sadar, kalau saya berhenti, siapa lagi yang akan berjuang?" kenangnya. Dari perjuangan itulah lahir anak-anak yang kini hidup mapan dan selalu pulang menjenguk. Bagi Nin Enuy, kebahagiaan paling sederhana adalah melihat meja makannya kembali ramai oleh cucu dan cicitnya setiap akhir pekan.

Mimpi yang Masih Menyala

Di usianya yang tak lagi muda, Nin Enuy masih menyimpan mimpi. Ia ingin tetap mandiri, tidak ingin merepotkan siapa pun, dan berharap bisa menyaksikan cicitnya tumbuh dengan akhlak yang baik. "Umur boleh bertambah, tapi mimpi tidak boleh mati," katanya mantap. Kata-kata itu menjadi pengingat bagi banyak orang di kampungnya bahwa hidup layak dirayakan sampai titik akhir.

Menjelang senja, Nin Enuy duduk di beranda rumahnya, menikmati angin sore yang membelai rambut putihnya. Dari kejauhan terdengar suara azan berkumandang, dan ia tersenyum. Di balik tubuh kecilnya yang sederhana, tersimpan cinta yang besar — cinta pada keluarga, pada kampung, pada kehidupan. Kisahnya mengisahkan bahwa tidak ada kata terlambat untuk bangkit, dan tidak ada usia yang terlalu tua untuk tetap mencintai. Itulah pesan paling indah yang ditinggalkan seorang perempuan bernama Nurhayati untuk kita semua.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS salsa-bintari

Reporter Startup. Meliput ekosistem startup Indonesia, venture capital, dan unicorn.

Comments (0)

User