Di bawah langit senja yang memerah di pesisir Labuan Bajo, suara tabuhan bambu bergema pelan. Beberapa pemuda duduk melingkar, tangan mereka memukul bilah-bilah bambu dengan irama yang saling melengkapi. Dentangnya bukan sembarangan bunyi—ia mengisahkan perjalanan panjang sebuah tradisi yang hampir tenggelam oleh zaman.
Itulah Cakatinding, alat musik bambu khas masyarakat Bajo yang kini kembali dihidupkan. Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat menyatakan kesiapannya mengangkat kesenian ini sebagai ikon budaya Nusa Tenggara Timur, sebuah langkah yang dianggap sebagai oase di tengah derasnya arus modernisasi.
Dari Pesisir Menuju Panggung Kebanggaan
Cakatinding bukan sekadar instrumen. Bagi warga Bajo, ia adalah bahasa kedua—cara bercerita tentang laut, angin, dan kehidupan yang tak pernah lepas dari perahu. Setiap bilah bambu yang dipukul menyimpan memori kolektif tentang nenek moyang yang menitipkan kegembiraan lewat bunyi sederhana.
Namun perjalanan menjaga warisan ini tidak selalu mulus. Di sudut kampung, seorang sesepuh mengaku pernah merasa cemas ketika generasi muda mulai melupakan dentang Cakatinding. “Dulu hampir tiap malam kami main. Sekarang anak-anak lebih sibuk dengan layar,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca, mengisahkan momen mengharukan ketika ia kembali mendengar alat itu dimainkan oleh cucunya.
Perjuangan Para Penjaga Bunyi
Di balik layar kebangkitan Cakatinding, ada sekelompok kecil orang yang berjuang tanpa lelah. Mereka mengumpulkan pemuda kampung, mengajari pola ritme, dan menanamkan kebanggaan bahwa bunyi bambu bukanlah sesuatu yang kuno.
“Kami tidak ingin Cakatinding hanya jadi cerita di buku. Ia harus tetap hidup, tetap dimainkan, dan tetap membuat orang tersenyum,” kata salah satu pegiat seni setempat.
Pemerintah daerah pun menyambut baik mimpi itu. Rencana penggalakan Cakatinding sebagai ikon budaya dinilai sebagai cara memperkuat identitas sekaligus membuka ruang bagi seniman lokal untuk bangkit. Berbagai festival dan pertunjukan budaya mulai menyertakan dentang bambu ini, menghadirkan suasana yang menyentuh siapa pun yang mendengarnya.
Mimpi yang Tak Ingin Padam
Bagi warga, pengakuan ini bukan soal popularitas. Ia adalah tentang air mata lega seorang kakek yang melihat warisannya tak hilang, tentang tawa anak-anak yang belajar memukul bambu untuk pertama kali, dan tentang inspirasi bahwa kekayaan sejati sebuah daerah lahir dari hal-hal sederhana yang dijaga dengan cinta.
Ketika malam semakin larut di Labuan Bajo, bunyi Cakatinding masih terdengar sayup-sayup. Ia bukan sekadar alat musik. Ia adalah denyut nadi sebuah komunitas yang menolak dilupakan—sebuah kisah tentang perjalanan panjang menjaga bunyi, agar tetap bergema sampai kapan pun.
Comments (0)