Bona Pascal Berbagi Cerita Emosional di Balik Film Suanggi
Di sudut ruang konferensi yang remang, Rabu siang itu, Bona Pascal duduk dengan tatapan menerawang. Jemarinya sesekali meremas ujung kemeja, seolah mencari pegangan sebelum membuka lembaran kisah yang...
Di sudut ruang konferensi yang remang, Rabu siang itu, Bona Pascal duduk dengan tatapan menerawang. Jemarinya sesekali meremas ujung kemeja, seolah mencari pegangan sebelum membuka lembaran kisah yang begitu pribadi. Di hadapannya, puluhan jurnalis telah bersiap dengan alat rekam, namun keheningan justru terasa begitu pekat—sebuah momen yang lebih mirip ruang terapi ketimbang konferensi pers film horor berjudul Suanggi.
Sang aktor, yang selama ini dikenal lewat peran-peran intens, kali ini tampil dengan sisi yang paling rapuh. Bukan monster atau hantu yang menjadi pusat ceritanya, melainkan sebuah perjalanan batin yang menguras emosi selama enam bulan proses syuting di pelosok Nusa Tenggara Timur. "Saya tidak hanya memerankan karakter. Saya seperti menjalani hidup orang lain, dan itu menyisakan luka sekaligus obat," bisiknya, memecah sunyi.
Ketika Horor Menjadi Cermin Keluarga
Bagi banyak orang, Suanggi mungkin hanya film tentang mitos lelaki pemakan organ dalam mitologi Sumba. Namun bagi Bona, proyek ini adalah pengingat akan hubungannya dengan sang ayah yang telah tiada. Tokoh utama yang ia perankan, seorang pemuda bernama Jaka, harus menghadapi kenyataan bahwa ayahnya adalah sosok yang dikutuk menjadi suanggi. Tema pengkhianatan dan pengampunan dalam naskah ternyata paralel dengan luka masa kecilnya sendiri.
"Ayah saya meninggal saat saya berusia 12 tahun. Selama hidupnya, banyak hal yang tidak sempat kami selesaikan," tutur Bona, kali ini dengan suara yang lebih berat. Ia berhenti sejenak, meneguk air putih di hadapannya. "Setiap kali adegan Jaka mencari pengampunan untuk ayahnya, saya seperti berhadapan dengan bayangan saya sendiri. Ini sangat menyentuh, bahkan sampai sekarang saya belum sepenuhnya pulih."
Sang sutradara, yang duduk di sampingnya, mengangguk pelan. Ia mengisahkan bagaimana Bona sering meminta waktu sendiri setelah pengambilan gambar emosional. Ada satu adegan di mana Bona menangis selama 20 menit nonstop, dan kru memilih untuk tidak mengganggu. "Itu bukan akting. Itu luapan jiwa," kata sutradara.
Berjuang di Tanah Leluhur
Proses syuting di pedalaman Sumba bukan tanpa tantangan. Bona mengisahkan pengalamannya tinggal di rumah panggung tanpa listrik selama berminggu-minggu, berbaur dengan masyarakat adat yang menjadi pemeran pendukung. Momen paling mengharukan justru datang dari seorang nenek yang memberkatinya dengan air suci setelah adegan ritual yang intens. "Nenek itu tidak bisa bahasa Indonesia, tapi ia memegang kepala saya dan menangis. Saya merasakan energi cinta yang begitu murni, seakan alam semesta ikut mendukung film ini," kenangnya dengan senyum tipis.
Adaptasi budaya juga menjadi perjuangan tersendiri. Bona harus mempelajari dialek lokal dan serangkaian ritual yang tidak boleh salah langkah. Satu kesalahan kecil bisa dianggap sebagai penghinaan terhadap leluhur setempat. "Ada satu malam, saya demam tinggi setelah syuting adegan di hutan keramat. Penduduk bilang saya ditegur karena belum sepenuhnya tulus. Malam itu saya merenung dan menangis—di situlah saya belajar bahwa karya seni tidak bisa setengah hati," ungkapnya.
Pesan yang Menyentuh untuk Generasi Muda
Di balik kengerian dan teror yang dibangun dalam trailer, Suanggi sesungguhnya menyimpan pesan sederhana: cinta seringkali menyembunyikan diri di balik topeng yang paling mengerikan. Bona berharap penonton muda tidak hanya menjadikan film ini sebagai tontonan horor semata, tetapi juga sebagai inspirasi untuk berdamai dengan masa lalu mereka sendiri.
"Kita semua punya 'suanggi' dalam hidup kita—luka, kemarahan, atau rahasia yang kita pendam. Film ini mengajarkan bahwa memaafkan bukan berarti menjadi lemah, melainkan menjadi manusia seutuhnya," tegasnya, kali ini dengan sorot mata yang lebih kuat. Kata-katanya menggantung di udara, membuat ruangan kembali hening sejenak sebelum akhirnya berganti dengan riuh tepuk tangan.
Seusai konferensi pers, seorang wartawan muda mendekat dan berbisik, "Saya jadi ingin menelepon ayah saya setelah ini." Bona hanya membalas dengan senyum yang hangat dan mata yang masih berkaca-kaca. Mungkin, di situlah letak magis sejati dari Suanggi—sebuah film yang tidak hanya menyajikan teror, tetapi juga pelukan bagi jiwa-jiwa yang kehilangan.
Comments (0)