Jakarta — Musim kemarau yang diganggu fenomena El Nino kembali memukul Jawa Tengah. Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyebut cadangan air tanah di sejumlah daerah mulai surut, dan akibatnya ribuan warga mengalami kekurangan air bersih. Kondisi ini memaksa warga di puluhan desa bergantung pada suplai air alternatif setiap harinya.
Secara sederhana, masalahnya begini: El Nino menahan awan hujan lebih lama dari biasanya. Curah hujan turun, sementara penguapan dari tanah dan permukaan air justru naik karena suhu meningkat. Hasilnya, akuifer dan sumur gali yang selama ini jadi andalan warga desa ikut menyusut. Yang tadinya cukup untuk kebutuhan masak, minum, dan mandi, kini harus diatur sedemikian rupa.
Air Tanah Surut, Sumur Mulai Kering
Berton menjelaskan bahwa penurunan muka air tanah bukan cuma terasa di satu titik. Beberapa daerah di Pulau Jawa, termasuk Jawa Tengah, mencatat kondisi serupa. Ketika muka air turun, sumur dangkal menjadi yang pertama kekeringan. Barulah setelah itu warga bergeser ke sumber yang lebih dalam, yang tentu butuh biaya pengeboran tidak murah.
Perubahan kondisi ini bisa dilihat dari perbandingan sederhana berikut:
| Aspek | Musim Hujan | Musim Kemarau + El Nino |
|---|---|---|
| Curah hujan | Tinggi dan rutin | Menurun drastis |
| Muka air tanah | Stabil | Surut |
| Sumur gali warga | Aman | Banyak mulai kering |
| Kebutuhan air | Terpenuhi | Defisit, bergantung distribusi
Dampaknya Nyata di Permukiman
Di lapangan, krisis air bersih bukan soal angka semata. Ia langsung menyentuh aktivitas warga sehari-hari. Beberapa dampak yang paling sering muncul:
- Air untuk konsumsi harus dibeli atau diambil dari posko distribusi, sementara kebutuhan harian sebuah keluarga tidak bisa ditawar.
- Kebersihan rumah otomatis terganggu karena air untuk mencuci piring, pakaian, hingga kamar mandi ikut dipangkas.
- Pertanian skala kecil dan peternakan rumahan ikut terdampak, sebab tanaman dan hewan peliharaan juga butuh suplai air harian.
- Risiko kesehatan meningkat ketika warga terpaksa memakai sumber air yang tidak layak hanya untuk sekadar bilas.
Yang membuat situasi ini makin rumit, air bersih termasuk kebutuhan yang tidak bisa ditunda. Manusia bisa menahan makan beberapa jam, tetapi tidak untuk minum. Karena itu, distribusi tangki air dari pemerintah daerah dan relawan menjadi urat nadi bantuan di desa-desa terdampak.
Peran BNPB: Data, Peringatan, dan Penanganan
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB menegaskan bahwa musim kemarau disertai El Nino menyebabkan cadangan air tanah di beberapa daerah surut, salah satunya di Pulau Jawa.
Menurut Berton, fungsi BNPB dalam kasus seperti ini bertumpu pada tiga hal: pertama, memantau kondisi terkini lewat data curah hujan dan muka air; kedua, menyampaikan peringatan dini agar daerah siap sebelum kekeringan parah; dan ketiga, mengoordinasikan bantuan ketika suatu wilayah sudah dinyatakan darurat air.
Pendekatan data seperti ini penting karena kekeringan tidak muncul dalam semalam. Ia tumbuh pelan selama berminggu-minggu. Daerah yang membaca sinyal lebih awal punya waktu lebih banyak untuk menyiapkan cadangan, menggali sumur bor, atau menjalin kerja sama antar-desa untuk berbagi sumber air.
Langkah yang Bisa Dilakukan Warga dan Pemerintah
Agar beban krisis tidak bertambah, ada sejumlah langkah yang bisa dijalankan berbarengan:
- Menghemat air secara disiplin — memakai air bekas cucian sayur untuk menyiram tanaman, atau membatasi durasi mandi saat puncak kemarau.
- Mengutamakan air bersih untuk konsumsi — kebutuhan minum dan masak dipisahkan dari air untuk membersihkan perabot.
- Memperkuat distribusi bantuan — penjadwalan tangki air dirancang rapi agar tidak ada desa yang terlewat.
- Mempersiapkan musim berikutnya — pembangunan embung, cekungan resapan, dan perawatan mata air menjadi investasi jangka panjang yang paling masuk akal.
Pada akhirnya, kemarau bukan hal baru di Indonesia. Yang berubah adalah skalanya: El Nino membuat musim kering lebih panjang dan lebih terasa. Tanpa persiapan yang matang, cerita soal sumur kering dan antrean air tangki akan terulang lagi tahun depan — dengan warga yang sama, di desa yang sama.