Aug 25, 2026
Hukum

Bapenda Medan Buka Pojok PBB, DPRD Desak Perbaikan Jalan Garu I

Pagi itu, hiruk-pikuk Car Free Day (CFD) di Jalan Balai Kota, kawasan Kesawan, Medan, berubah menjadi perpaduan unik antara semangat berolahraga dan kesada

Bapenda Medan Buka Pojok PBB, DPRD Desak Perbaikan Jalan Garu I

Pagi itu, hiruk-pikuk Car Free Day (CFD) di Jalan Balai Kota, kawasan Kesawan, Medan, berubah menjadi perpaduan unik antara semangat berolahraga dan kesadaran membayar pajak. Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Medan membuka gerai Pojok PBB dan Samsat Keliling pada Minggu (26/7/2026) pukul 07.00-10.00 WIB, tepat di depan Bank Mandiri. Sementara warga berkeringat, bersepeda, atau sekadar berjalan santai, puluhan orang antre membawa Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT) dan bukti kepemilikan kendaraan. Suasana kontras dengan keluhan yang hampir bersamaan mencuat dari Kelurahan Sitirejo III, Kecamatan Medan Amplas, di mana genangan air menggenangi Jalan Garu I akibat sistem drainase yang mampet. Dua wajah Kota Medan tersaji dalam satu pekan terakhir: inovasi layanan yang menawarkan diskon hingga 75 persen di satu sisi, dan desakan perbaikan infrastruktur yang tak kunjung rampung di sisi lain.

Pajak di Tengah Senam dan Senyum

Gerai Pojok PBB dan Samsat Keliling hadir menjawab keresahan warga yang kerap kesulitan menyempatkan diri ke kantor pelayanan di hari kerja. Dengan desain sederhana namun mencolok, petugas Bapenda melayani pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) serta Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) tanpa antre panjang seperti di mal pelayanan. Seorang ibu muda, sembari mendorong kereta bayi, mengaku baru pertama kali membayar PBB di CFD. "Saya kira cuma bisa di kantor pajak. Ternyata sambil olahraga bisa, thanks banget," ujarnya, matanya berbinar. Bapenda sengaja memanfaatkan momentum keramaian CFD yang selalu dipadati ribuan warga setiap akhir pekan untuk mendekatkan pelayanan sekaligus meningkatkan kepatuhan wajib pajak.

Kepala Bapenda Kota Medan, Dr. M. Agha Novrian, S.STP., M.Si., menegaskan bahwa kehadiran di CFD adalah bagian dari strategi jemput bola. Dalam wawancara singkat, ia menjelaskan bahwa Pemko Medan masih menyediakan insentif besar-besaran melalui program Gebyar Semarak PBB HUT Kota Medan ke-436. Program ini memangkas beban wajib pajak secara signifikan, khususnya bagi pemilik tunggakan lama.

"Kami mengingatkan bahwa Pemko Medan masih memberikan berbagai insentif perpajakan melalui program Gebyar Semarak PBB HUT Kota Medan ke-436. Wajib pajak berhak memperoleh potongan PBB sebesar 75 persen untuk ketetapan tahun 1994–2011. Sementara untuk ketetapan tahun 2012–2025 dengan nilai pajak di bawah Rp2.000.000, diberikan potongan 50 persen," ujar Agha.

Kebijakan ini menjadi angin segar bagi warga yang terbebani utang pajak menahun. Dengan hanya membayar seperempat dari total tunggakan, mereka bisa membersihkan administrasi properti dan menghindari denda yang menumpuk. Bapenda berharap animo CFD memicu kesadaran lebih luas bahwa membayar pajak tak harus menjadi momok birokrasi yang memusingkan.

Genangan di Garu I, Aspirasi yang Tak Kunjung Dituntaskan

Berjarak sekitar tujuh kilometer dari pusat CFD, suasana di Jalan Garu I, Kelurahan Sitirejo III, justru diwarnai rasa putus asa. Pada Sabtu (25/7/2026), sehari sebelum layanan Pojok PBB dibuka, Anggota DPRD Kota Medan David Roni Ganda Sinaga, SE, menggelar Reses Masa Sidang VI Tahun Sidang 2025–2026 di kelurahan setempat. Puluhan warga hadir menyampaikan keluhan yang sudah berulang kali dilontarkan namun tak kunjung direspons serius. Genangan air setinggi betis orang dewasa kerap muncul setiap kali hujan turun, bahkan intensitas rintik-rintik pun mampu mengubah jalan menjadi kubangan lumpur.

Salah seorang warga, Sutarman, tak kuasa menahan emosinya. Ia mengaku sudah berkali-kali menyampaikan ke lurah, camat, hingga mengirim laporan melalui aplikasi pengaduan, namun hasilnya nihil. "Setiap hujan, kami harus angkat kaki, motor mogok, anak-anak lewat kayak rawa. Sampai kapan?" keluhnya dengan nada getir.

"Jalan Garu I dan drainasenya sudah kami laporkan berkali-kali. Tapi belum ada penanganan yang benar-benar tuntas. Katanya diperbaiki, tapi tetap saja banjir," ujar Sutarman.

David Roni Ganda Sinaga, yang berasal dari Daerah Pemilihan (Dapil) IV Kota Medan, langsung menegaskan komitmennya untuk mengawal pengaduan ini hingga ke meja eksekutif. Ia memerintahkan agar kelurahan dan kecamatan lebih responsif terhadap persoalan infrastruktur dasar. "Saya akan perjuangkan masuk ke dalam prioritas perbaikan di APBD Perubahan. Kalau perlu, besok saya cek langsung saluran drainasenya yang tersumbat," tegasnya di hadapan warga yang mulai lega mendengar janji politik tersebut.

Dua Realitas, Satu Harapan

Kemudahan membayar pajak di CFD dan diskon besar PBB seharusnya berjalan seiring dengan peningkatan kualitas infrastruktur yang dibiayai oleh pajak itu sendiri. Warga Jalan Garu I, misalnya, tetap membayar PBB setiap tahun meskipun jalan di depan rumah mereka tak kunjung mulus. Kesenjangan ini memunculkan pertanyaan: ke mana uang pajak mengalir? Bapenda Medan dapat diacungi jempol karena berhasil menyederhanakan proses administrasi, namun DPRD harus memastikan bahwa alokasi anggaran dari pendapatan daerah benar-benar menyentuh kebutuhan paling dasar warga—salah satunya drainase dan perkerasan jalan.

Koordinator Forum Peduli Infrastruktur Medan, Rahmad Hidayat, menilai bahwa pemerintah kota seharusnya bisa mengintegrasikan data daerah rawan genangan dengan realisasi belanja modal. "Jika PBB bisa dipangkas sampai 75 persen, kenapa perbaikan drainase selebar satu meter di Jalan Garu I tidak bisa diselesaikan dalam sebulan? Ini soal kemauan politik dan koordinasi antar-OPD," ujarnya saat dihubungi terpisah. Kritik ini mengindikasikan bahwa inovasi pelayanan publik tidak boleh berhenti pada sektor pendapatan semata, tetapi harus merambah ke sektor belanja yang langsung dirasakan warga.

Minggu pagi di CFD, senyum warga yang berhasil melunasi PBB berbaur dengan harapan agar pajak yang mereka bayarkan segera terwujud dalam bentuk jalan bebas banjir. Sementara itu, di Medan Amplas, Sutarman dan tetangganya masih menunggu suara pompa air portabel yang dijanjikan DPRD. Dua realitas ini adalah potret utuh Kota Medan yang tengah berbenah—sebuah kota yang menawarkan kemudahan di satu sisi, namun masih berjuang menghadirkan kenyamanan dasar di sisi lain.

[SOCIAL_TWEET]: Inovasi dan keluhan hadir bersamaan di Kota Medan. Bapenda buka Pojok PBB di CFD dengan diskon hingga 75%, sementara warga Jalan Garu I masih berjuang melawan genangan. David Roni desak perbaikan drainase. Simak perpaduan dua realitas dalam satu kota. 🌧️💸 #MedanBerkelanjutan[SOCIAL_TG]: 🚴 Pojok PBB dan Samsat di CFD Medan memudahkan pembayaran pajak sambil olahraga. 💧 Di sisi lain, Jalan Garu I masih banjir, warga putus asa. DPRD desak perbaikan drainase. Mana yang lebih dulu tuntas?

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User