Aug 25, 2026
entertainment

Ariana Grande Angkat Suara saat Trump Pakai Lagunya untuk Propaganda

Di sudut ruang latihan yang hening, di antara tumpukan lembar partitur dan headphone yang masih menggantung, ada seorang penyanyi yang tahu betul bagaimana sebuah lagu lahir dari perasaan yang paling ...

Ariana Grande Angkat Suara saat Trump Pakai Lagunya untuk Propaganda

Di sudut ruang latihan yang hening, di antara tumpukan lembar partitur dan headphone yang masih menggantung, ada seorang penyanyi yang tahu betul bagaimana sebuah lagu lahir dari perasaan yang paling dalam. Setiap nada yang ia tulis adalah jejak pribadi — kisah yang ia simpan erat, lalu ia persembahkan kepada dunia dengan harapan bisa menyentuh siapa saja yang mendengarnya. Maka ketika karya yang begitu personal itu tiba-tiba dipakai untuk tujuan yang jauh dari niat awalnya, ada perasaan yang sulit dijelaskan: campuran antara kecewa, tak percaya, dan dorongan kuat untuk bersuara.

Inilah yang tengah dialami Ariana Grande. Pelantun lagu-lagu pop yang sarat emosi itu kembali angkat bicara setelah lagunya digunakan dalam video propaganda di media sosial oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Bagi sebagian orang, peristiwa seperti ini mungkin tampak seperti persoalan teknis soal hak cipta. Namun bagi seorang musisi, ini adalah soal yang jauh lebih dalam — soal kehormatan, makna, dan batas yang tak boleh dilangkahi antara karya seni dan kepentingan politik.

Ketika Sebuah Lagu Menjadi Bagian dari Jiwa

Setiap musisi mengisahkan perjalanan hidupnya lewat nada. Ada lagu yang lahir dari air mata, ada pula yang lahir dari kebahagiaan yang meluap. Bagi Ariana, setiap karyanya adalah potongan kecil dari mimpinya — mimpi yang ia kejar sejak kecil, yang ia bangun pelan-pelan lewat kerja keras di balik layar industri musik. Ia pernah bercerita bahwa menulis lagu baginya seperti membuka jendela kamar: membiarkan orang lain melihat ke dalam hatinya, sejujur apa adanya.

Karena itulah, ketika sebuah lagu dipakai tanpa izin untuk kepentingan politik, yang terluka bukan sekadar klausul lisensi. Yang terluka adalah kepercayaan. Seorang seniman menitipkan karyanya kepada publik dengan satu harapan sederhana: lagu itu akan menemani orang-orang dalam momen-momen mereka yang paling manusiawi — jatuh cinta, berduka, bangkit kembali. Bukan untuk dijadikan alat pesan yang justru bertentangan dengan nilai yang ia pegang.

Berani Bersuara demi Karya

Respon Ariana kali ini bukan yang pertama. Ia dan banyak musisi lain telah lama memperjuangkan hak atas karya mereka, menolak ketika lagu-lagu mereka digunakan untuk kepentingan yang tidak mereka setujui. Keputusan untuk angkat bicara memang tidak mudah. Ada risiko dicap sensasional, ada pula tekanan dari berbagai arah. Namun baginya, diam sama saja dengan membiarkan lagu yang ia rawat bertahun-tahun kehilangan maknanya.

Ada keberanian yang menyentuh dalam sikap itu. Seorang penyanyi yang memilih membela integritas karyanya di depan publik, dengan risiko dan segala konsekuensinya, sedang mengajarkan sesuatu yang sederhana namun dalam: bahwa karya adalah perpanjangan diri, dan tak seorang pun berhak membajak perasaan orang lain untuk kepentingannya sendiri. Dukungan pun mengalir dari para penggemar yang merasa karyanya juga bagian dari identitas mereka. Bagi mereka, membela Ariana berarti membela prinsip bahwa seni tidak boleh dijadikan komoditas politik secara sepihak.

Di Balik Layar Industri Musik

Di balik layar industri musik, persoalan semacam ini sebenarnya sudah lama menjadi perbincangan hangat. Banyak label dan penerbit berusaha memperketat aturan penggunaan lagu untuk kampanye, namun celah tetap ada. Sebuah lagu yang mengalun di panggung dunia bisa tiba-tiba muncul di tempat yang tak terduga, dibalut narasi yang sama sekali berbeda dari niat penciptanya. Para musisi pun kerap baru mengetahui setelah video tersebar luas, dan harus berjuang melawan arus informasi yang sudah telanjur beredar.

Perjalanan melindungi karya itu panjang dan melelahkan, namun setiap langkah kecil yang diambil para seniman adalah pengingat bahwa kreativitas bukanlah barang yang bisa diambil begitu saja. Di balik setiap lagu yang kita dengarkan setiap hari, ada seorang manusia yang pernah menangis, tertawa, dan bermimpi saat menuliskannya. Menghormati itu artinya menghormati manusia di baliknya.

Pesan yang Menghangatkan Hati

Pada akhirnya, kisah ini bukan hanya tentang seorang penyanyi dan seorang presiden. Ini tentang setiap orang yang pernah merasa karyanya diremehkan, perasaannya dipakai, atau suaranya dibungkam. Ariana, lewat sikapnya, mengingatkan bahwa suara kita — sekecil apa pun — layak didengar. Bahwa berjuang untuk apa yang kita yakini bukanlah tindakan berlebihan, melainkan bentuk cinta terhadap diri sendiri dan karya yang kita lahirkan.

Semoga ke depannya, musik tetap menjadi jembatan yang menyatukan manusia, bukan tembok yang memisahkan. Dan semoga setiap lagu yang lahir dari hati akan selalu diperlakukan sebagaimana mestinya: dengan hormat, dengan izin, dan dengan pemahaman bahwa di balik nadanya, ada sebuah kisah yang sungguh-sungguh milik penciptanya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS salsa-bintari

Reporter Startup. Meliput ekosistem startup Indonesia, venture capital, dan unicorn.

Comments (0)

User