Oct 10, 2026
entertainment

Anggun dan Kenangan Panggung Pertama di GBK

Di sebuah ruangan yang sunyi, jauh dari gemuruh ribuan penonton, Anggun C. Sasmi duduk termenung. Layar ponselnya menampilkan foto lama: dirinya berdiri di atas panggung Gelora Bung Karno, masih belia...

Anggun dan Kenangan Panggung Pertama di GBK

Di sebuah ruangan yang sunyi, jauh dari gemuruh ribuan penonton, Anggun C. Sasmi duduk termenung. Layar ponselnya menampilkan foto lama: dirinya berdiri di atas panggung Gelora Bung Karno, masih belia, dengan gaya rambut khas era 90-an. Ada senyum tipis di wajahnya, tetapi matanya berkaca-kaca. Malam itu, saat ia bersiap untuk tampil di closing ceremony FIFA ASEAN Cup 2026, memori tentang panggung pertama di stadion ikonik itu kembali mengalir deras.

"Saya masih ingat betul bagaimana rasanya kaki ini gemetar menginjak panggung GBK untuk pertama kali," ujarnya dengan suara pelan, seolah sedang berbicara pada dirinya sendiri. "Waktu itu saya masih sangat muda, dan GBK terasa begitu besar, begitu megah, sampai saya sempat berpikir, apakah suara saya akan terdengar sampai ke tribun paling atas?"

Dari Panggung Sederhana ke Stadion Raksasa

Perjalanan Anggun bukanlah perjalanan yang instan. Ia mengisahkan bagaimana masa-masa awal kariernya diisi dengan panggung-panggung kecil, kadang hanya berupa panggung kayu sederhana di sudut kota. Namun, mimpi untuk berdiri di hadapan ribuan orang di GBK selalu menjadi obsesi yang membara di dalam dadanya.

"Saya pernah menangis di belakang panggung karena hanya tampil di depan belasan orang," kenangnya. "Tapi air mata itu bukan air mata putus asa. Itu air mata yang membuat saya bangkit, yang membuat saya berkata pada diri sendiri: suatu hari, saya akan bernyanyi di tempat yang jauh lebih besar."

Momen mengharukan itu akhirnya tiba. Ketika pertama kali ia benar-benar menginjakkan kaki di GBK sebagai penyanyi, ada perasaan campur aduk yang sulit ia deskripsikan. "Rasanya seperti mimpi yang tidak ingin saya bangunkan," katanya. "Saya melihat ke arah lautan manusia, dan saya tahu, semua perjuangan itu tidak sia-sia."

Kembali dengan Rasa yang Berbeda

Kini, bertahun-tahun kemudian, Anggun kembali ke tempat yang sama. Namun, kali ini bukan sebagai penyanyi muda yang penuh keraguan, melainkan sebagai musisi yang telah menorehkan namanya di kancah internasional. Meski begitu, ia mengaku tetap merasakan getaran yang sama.

"Setiap kali saya berdiri di GBK, saya selalu merasa seperti kembali ke rumah," ujarnya. "Tempat ini menyimpan begitu banyak kenangan, begitu banyak air mata, dan begitu banyak doa yang saya panjatkan di sela-sela latihan."

Ia menyebut penampilannya di closing ceremony FIFA ASEAN Cup 2026 ini sebagai sebuah kehormatan sekaligus momen refleksi. "Saya tidak hanya bernyanyi untuk penonton. Saya bernyanyi untuk diri saya yang dulu, yang pernah takut, yang pernah ragu, tapi tidak pernah berhenti berjalan," tuturnya dengan mata yang kembali berkaca-kaca.

Inspirasi di Balik Layar

Di balik gemerlap panggung, ada kisah-kisah sederhana yang jarang terungkap. Anggun mengisahkan bagaimana ia selalu menyempatkan diri untuk menyapa kru, para penari, dan siapa pun yang terlibat dalam pertunjukan. Baginya, kesuksesan bukan hanya tentang sorotan lampu, tetapi juga tentang orang-orang yang bekerja tanpa henti di belakang layar.

"Saya selalu ingat, dulu ada seorang penata suara yang bilang ke saya, 'Neng, jangan pernah lupa siapa yang menyalakan lampu untukmu.' Kalimat itu saya bawa sampai sekarang," ujarnya. "Karena itu, setiap kali tampil, saya ingin memastikan bahwa semua orang merasa dihargai."

Bagi Anggun, panggung GBK bukan sekadar tempat untuk menunjukkan kemampuan vokal. Ia adalah saksi bisu dari sebuah perjalanan panjang yang penuh liku. "Di sini saya belajar bahwa mimpi itu tidak pernah terlalu besar, selama kita berani melangkah," katanya.

Saat ditanya tentang pesan untuk generasi muda yang ingin mengikuti jejaknya, ia tersenyum lebar. "Jangan takut untuk memulai dari panggung kecil. Karena dari sana, kamu akan belajar artinya berjuang, artinya bersyukur, dan artinya bangkit setelah jatuh," pesannya.

Malam itu, ketika lampu panggung kembali menyala dan ribuan suara bergemuruh, Anggun berdiri tegap. Ada rasa haru yang menyelimuti hatinya. Ia menatap lautan manusia di depannya, lalu berbisik pelan, "Terima kasih, GBK. Terima kasih untuk semua kenangan yang tidak akan pernah saya lupakan."

Dan di atas panggung yang sama, ia kembali bernyanyi, membawa serta seluruh kisah, perjuangan, dan mimpi yang telah mengantarkannya hingga ke titik ini. Sebuah perjalanan yang membuktikan bahwa dari panggung sederhana, seseorang bisa mencapai panggung dunia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS salsa-bintari

Reporter Startup. Meliput ekosistem startup Indonesia, venture capital, dan unicorn.

Comments (0)

User