Dunia maya kembali dihebohkan oleh aksi salah satu politisi muda paling vokal asal Kenya, Peter Salasya. Anggota Parlemen (MP) untuk daerah pemilihan Mumias East ini menuai beragam reaksi warganet setelah memamerkan penampilan barunya dengan gaya rambut kepang (plaited hairstyle) saat tengah melakukan perjalanan ke Uni Emirat Arab (UEA).
Gaya rambut baru tersebut diunggah langsung oleh Salasya melalui akun Facebook pribadinya. Dalam unggahan tersebut, ia menceritakan bahwa rambutnya dikepang oleh seorang perempuan muda yang ia temui di sela-sela kegiatannya di Dubai. Alih-alih mendapatkan pujian, perubahan visual legislator muda ini justru memicu perdebatan sengit di media sosial, di mana sejumlah warganet menganggap gaya tersebut kurang pantas dan melontarkan komentar seruan “Aibu”—istilah Swahili yang berarti memalukan atau aib.
Kronologi Perjalanan dan Penampilan Baru Salasya
Aksi Peter Salasya ini menambah daftar panjang kontroversi gaya hidupnya yang kerap disorot publik. Berikut adalah urutan kejadian hingga foto tersebut viral di jagat maya:
- Kunjungan ke Uni Emirat Arab: Anggota dewan berusia muda ini bertolak ke Timur Tengah untuk agenda kunjungan dan rehat sejenak dari aktivitas parlemen di Nairobi.
- Pertemuan Spontan: Selama berada di UEA, Salasya bertemu dengan seorang penata rambut lokal dan memutuskan untuk merombak total gaya rambut pendek klasiknya menjadi kepangan rapi di seluruh kepala.
- Unggahan di Media Sosial: Salasya membagikan serangkaian foto swafoto dan pose kasual yang memperlihatkan rambut barunya di Facebook dengan takarir santai khas dirinya.
- Ledakan Reaksi Publik: Dalam hitungan jam, kolom komentar dibanjiri ribuan tanggapan dari warga Kenya maupun netizen internasional yang terbelah pandangannya.
Perdebatan Publik: Antara Hak Pribadi dan Marwah Pejabat
Reaksi warganet terpecah menjadi dua kubu utama. Sebagian pihak menilai bahwa seorang pejabat publik setingkat anggota parlemen harus mempertahankan citra formal dan mencerminkan kedewasaan kepemimpinan. Mereka memandang gaya rambut kepang kasual tersebut kurang sejalan dengan martabat institusi legislatif.
"Sebagai wakil rakyat, ada ekspektasi moral dan visual yang melekat. Sikap dan penampilan di ruang publik mencerminkan kewibawaan daerah yang diwakilinya," tulis salah seorang pengguna media sosial di kolom komentar Salasya.
Namun, tidak sedikit pula pembela yang berdiri di pihak Salasya. Pendukungnya menegaskan bahwa penampilan fisik dan gaya rambut adalah hak asasi individu serta bentuk ekspresi kebebasan pribadi selama tidak melanggar hukum atau mengganggu kinerja legislatif. Generasi muda Kenya justru menganggap gaya santai Salasya mendekatkan sosok pejabat dengan kaum milenial dan Gen Z yang anti-kaku.
Peter Salasya sendiri memang dikenal sebagai figur politisi yang unik dan sering tampil tanpa basa-basi di ruang publik. Terlepas dari kritik tajam maupun dukungan yang mengalir, legislator Mumias East ini tampak tetap percaya diri membagikan momen-momen perjalanannya di luar negeri tanpa menghapus unggahan yang telah memicu kehebohan tersebut.
Comments (0)