Oct 12, 2026
Hukum

Aktivis Inggris Bagikan Pelajaran Melawan Gerakan Sayap Kanan Ekstrem

Gelombang gerakan sayap kanan ekstrem kembali menguat di berbagai penjuru dunia, dari Eropa hingga Amerika Serikat. Namun di Inggris, ada sekelompok orang

Aktivis Inggris Bagikan Pelajaran Melawan Gerakan Sayap Kanan Ekstrem

Gelombang gerakan sayap kanan ekstrem kembali menguat di berbagai penjuru dunia, dari Eropa hingga Amerika Serikat. Namun di Inggris, ada sekelompok orang yang sudah pernah berhadapan langsung dengan fenomena serupa, jauh sebelum istilah "radikalisasi daring" atau "ekstremisme algoritmik" menjadi perbincangan hangat. Mereka adalah para aktivis yang bertempur melawan kelompok sayap kanan sejak dekade 1970-an, 1980-an, hingga era milenium. Kisah mereka kini dibagikan kembali sebagai semacam peta jalan bagi generasi sekarang.

Ketika Rasisme Menjadi Bagian dari Kehidupan Sehari-hari

Bagi Tariq Mehmood, perkenalan dengan ideologi sayap kanan tidak terjadi di sebuah rapat organisasi rahasia, melainkan di halaman sekolah dasar. Ia mengingat betul bagaimana anak-anak kulit putih mengelilinginya sambil menyanyikan lagu yang merendahkan warna kulitnya, dan pihak sekolah memilih diam.

"Ketika anak-anak kulit putih mengelilingimu di halaman sekolah dan menyanyikan lagu yang merendahkan warna kulitmu, sementara sekolah tidak menindak apa pun, maka kamu sedang hidup di dalam lingkar ekstremisme kanan. Ini bukan satu organisasi, ini gerakan massal," ujar Tariq Mehmood.

Pernyataan itu menjadi kunci untuk memahami pola kerja kelompok sayap kanan. Menurut para aktivis senior, mereka jarang menang lewat satu partai atau satu kelompok kecil saja. Kekuatan mereka justru tumbuh ketika sikap rasisme dan xenofobia dibiarkan menjadi hal yang wajar di ruang publik, di sekolah, di tempat kerja, hingga di tribun stadion sepak bola.

Sepak Bola, Musik, dan Politik: Tiga Medan Pertempuran

Pengalaman dekade 1970-an dan 1980-an menunjukkan bahwa perlawanan efektif tidak hanya dilakukan di ruang parlemen. Gerakan Rock Against Racism misalnya, menyatukan musisi dan anak muda dari berbagai latar belakang untuk menandingi narasi kebencian yang kian lantang. Konser-konser besar berubah menjadi ruang solidaritas lintas ras dan kelas.

Di dunia sepak bola, kelompok suporter mulai mengorganisasi diri untuk mengusir simbol dan nyanyian rasis dari stadion. Sementara di ranah politik, aliansi anti-fasis dibentuk untuk membendung kandidat dan aksi jalanan kelompok sayap kanan. Kombinasi ketiganya membuat gerakan ekstremis kehilangan ruang tumbuh yang paling subur: dukungan massa yang pasif.

Dialog atau Penolakan Total?

Salah satu pertanyaan yang paling sering muncul, termasuk dalam konteks figur kontroversial seperti Tommy Robinson, adalah apakah sebaiknya berdialog dengan pihak yang dianggap ekstrem. Jawaban para aktivis veteran ternyata tidak sesederhana "ya" atau "tidak".

"Maukah saya duduk berdialog dengan Tommy Robinson? Bukan berarti tidak sama sekali," kata seorang aktivis, menggambarkan dilema antara kebutuhan memahami akar persoalan dan risiko memberi panggung gratis bagi propaganda kebencian.

Kesimpulan yang mengemuka cukup pragmatis: dialog boleh dilakukan, tetapi hanya jika ada batas jelas dan tidak ada ruang bagi narasi yang menormalisasi kekerasan. Yang jauh lebih penting, menurut mereka, adalah memutus saluran rekrutmen, memperkuat komunitas lokal, dan memastikan negara menindak tegas aksi yang melanggar hukum.

Pelajaran untuk Generasi Sekarang

Beberapa poin kunci yang berulang kali ditekankan para aktivis lintas dekade itu antara lain:

  • Jangan biarkan ujaran kebencian menjadi normal di sekolah, tempat kerja, atau ruang publik lainnya.
  • Bangun aliansi lintas kelompok dan bangun solidaritas lintas ras, agama, serta kelas sosial.
  • Rebut kembali ruang budaya seperti musik, olahraga, dan seni dari narasi kebencian.
  • Fokus pada akar masalah seperti ketimpangan ekonomi dan rasa keterasingan yang sering dimanfaatkan kelompok ekstremis.
  • Konsisten menegakkan hukum terhadap aksi kekerasan dan provokasi, tanpa pandang bulu.

Meski konteks zaman telah berubah, terutama dengan kehadiran media sosial yang mempercepat penyebaran propaganda, para aktivis menilai pola dasarnya tetap sama. Ekstremisme tumbuh ketika masyarakat sipil membiarkannya. Sebaliknya, ia menyusut ketika warga biasa memilih untuk tidak diam.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS eko-saputra

Reporter Gadget. Review smartphone, laptop, dan consumer tech.

Comments (0)

User