Aug 28, 2026
entertainment

Yayoi Kusama: Seni Menjadi Cara Melawan Kematian

Di balik dinding putih Museum Yayoi Kusama di Tokyo, pada suatu sore Oktober yang tenang, ribuan titik polkadot menari di layar raksasa. Sebuah proyeksi video berjudul "Song of a Manhattan Suicide Add...

Yayoi Kusama: Seni Menjadi Cara Melawan Kematian

Di balik dinding putih Museum Yayoi Kusama di Tokyo, pada suatu sore Oktober yang tenang, ribuan titik polkadot menari di layar raksasa. Sebuah proyeksi video berjudul "Song of a Manhattan Suicide Addict" mengalir pelan, membawa penonton masuk ke dalam dunia batin seorang perempuan yang telah menghabiskan hidupnya berdamai dengan kegelapan. Di sudut ruangan itu, para pengunjung terdiam — bukan karena takjub semata, melainkan karena mereka menyaksikan sebuah perjalanan batin yang begitu jujur dan menyentuh.

Perjalanan Seorang Perempuan di Tengah Ribuan Titik

Pameran yang bertajuk "I would overcome death and go on living" ini bukan sekadar deretan karya seni. Ia adalah sebuah pengakuan. Sejak muda, Kusama berjuang melawan halusinasi yang membuat dunia di matanya dipenuhi titik-titik tak berujung. Alih-alih lari, ia memilih menangkap kegelisahan itu ke dalam kanvas, instalasi, hingga proyeksi video. Setiap titik yang ia lukis adalah langkah kecil untuk bangkit dari ketakutan yang selama ini membayangi hidupnya.

Karya yang diputar pada pratinjau media 16 Oktober 2024 itu mengisahkan sisi paling rentan dari sang seniman. Melalui gambar bergerak, penonton diajak merasakan bagaimana Kusama mengubah air mata dan kegelisahan menjadi sesuatu yang indah. Di balik layar, proses kreatifnya adalah pertarungan harian antara keinginan untuk menyerah dan tekad untuk terus hidup. Ia memilih yang kedua, berulang kali, dengan cara yang sederhana namun luar biasa.

Mimpi yang Tak Pernah Padam

Bagi Kusama, seni bukanlah pelarian melainkan jembatan menuju harapan. Dalam banyak kesempatan, ia pernah berkata bahwa melukis adalah satu-satunya cara ia bisa bertahan. Kutipan-kutipan itu bergema lebih dalam ketika kita menyaksikan langsung bagaimana karyanya berbicara tentang kematian — bukan dengan nada muram, melainkan dengan keberanian yang menginspirasi.

"Saya ingin terus berkarya sampai akhir. Setiap goresan adalah doa agar saya tetap hidup."

Kalimat itu, yang kerap diucapkannya dalam berbagai wawancara, menjadi inti dari pameran ini. Museum yang dibangun khusus untuknya itu bukan hanya tempat memajang karya, tetapi juga monumen bagi sebuah mimpi yang tak pernah padam. Dari Tokyo hingga New York, nama Kusama telah menjadi inspirasi bagi jutaan orang yang merasa sendirian dalam pergulatan batin mereka.

Air Mata yang Menjadi Inspirasi

Yang membuat pameran ini terasa begitu personal adalah kejujurannya. Tidak ada polesan berlebihan, tidak ada upaya menyembunyikan sisi gelap. Sebaliknya, Kusama justru merangkul kegelapan itu dan mengubahnya menjadi cahaya. Bagi banyak pengunjung, melihat karya-karyanya adalah momen mengharukan — sebuah pengingat bahwa dari kepedihan paling dalam sekalipun, lahir keindahan yang mampu menyentuh ribuan hati.

Pameran "I would overcome death and go on living" menjadi bukti bahwa perjuangan seorang manusia melawan dirinya sendiri bisa menjadi kisah yang paling inspiratif. Kusama, yang kini telah melewati banyak musim kehidupan, tetap berdiri teguh di depan kanvasnya. Setiap titik yang ia ciptakan adalah pernyataan: bahwa ia memilih hidup, bahwa ia memilih berkarya, dan bahwa ia memilih untuk terus bermimpi meski dunia kadang terasa berat.

Di akhir kunjungan, para pengunjung meninggalkan museum dengan langkah yang berbeda. Mereka membawa pulang bukan sekadar kenangan visual, melainkan sebuah pelajaran sederhana tentang keberanian untuk bangkit. Dalam setiap titik polkadot itu, tersimpan kisah seorang perempuan yang menolak menyerah — dan itu, pada akhirnya, adalah pesan paling menyentuh dari seluruh pameran.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS salsa-bintari

Reporter Startup. Meliput ekosistem startup Indonesia, venture capital, dan unicorn.

Comments (0)

User