Sep 19, 2026
Nasional

WASHINGTON — The Fed Naikkan Suku Bunga, Donald Trump Kecam Kebijakan Tersebut

Langkah mengejutkan baru saja mengguncang lanskap ekonomi global dari jantung Kota Washington. Bank Sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed),

WASHINGTON — The Fed Naikkan Suku Bunga, Donald Trump Kecam Kebijakan Tersebut

Langkah mengejutkan baru saja mengguncang lanskap ekonomi global dari jantung Kota Washington. Bank Sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed), secara mendadak mengumumkan kenaikan suku bunga acuan untuk pertama kalinya dalam durasi lebih dari tiga tahun terakhir. Kebijakan moneter yang terbilang berani ini tak pelak memantik riak besar, tidak hanya di pasar modal Wall Street, tetapi juga di panggung politik nasional AS yang kian memanas.

Kenaikan suku bunga ini seolah menjadi petir di siang bolong bagi para pelaku pasar yang sebelumnya mengharapkan kelonggaran likuiditas. Langkah tegas yang diambil oleh otoritas bank sentral langsung menyulut amarah mantan Presiden AS, Donald Trump, yang dikenal sangat sensitif terhadap isu pergerakan ekonomi dan indeks bursa saham.

Guncangan Kebijakan dan Amarah Donald Trump

Keputusan mendadak ini menetapkan kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 hingga 50 basis poin, sebuah angka yang cukup untuk membuat biaya pinjaman melambung tinggi secara instan. Donald Trump, yang saat ini terus mencermati dinamika ekonomi nasional, melontarkan kritik amat pedas terhadap langkah bank sentral tersebut.

"Langkah yang diambil The Fed benar-benar tidak masuk akal dan sangat merugikan rakyat Amerika! Mereka nekat menaikkan suku bunga di saat ekonomi kita justru membutuhkan dorongan energi. Ini adalah bentuk kelalaian ekonomi yang sangat nyata," tegas Donald Trump dengan nada gusar saat memberikan keterangannya kepada awak media.

Bagi Trump, kebijakan ketat ini berpotensi besar menekan daya beli masyarakat, mencekik sektor properti, serta memperlambat pertumbuhan bisnis skala kecil hingga menengah. Ia menilai bahwa The Fed seharusnya menjaga suku bunga tetap rendah demi menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional dan daya saing industri domestik.

Dilema Bank Sentral: Inflasi vs Pertumbuhan Ekonomi

Di sisi lain, para petinggi The Federal Reserve memiliki pertimbangan analitis yang mendalam. Langkah pengetatan ini diambil bukan tanpa alasan yang matang. Lonjakan inflasi yang terus menggerogoti daya beli masyarakat serta pasar tenaga kerja yang dinilai terlalu panas (overheating) menjadi alasan utama mengapa pengereman ekonomi harus segera dilakukan melalui kebijakan moneter progresif.

Analis senior pasar keuangan global, Sarah Jenkins, memberikan pandangannya terkait perseteruan panas antara otoritas moneter dan figur politik ini:

"The Fed berada di posisi yang sangat dilematis. Jika mereka tidak menaikkan suku bunga sekarang, inflasi akan menjadi monster yang tak terkendali. Namun di sisi lain, risiko politik dan ancaman perlambatan ekonomi akibat tingginya biaya pinjaman adalah harga mahal yang harus dibayar."

Berikut adalah perbandingan sudut pandang antara pertimbangan The Fed dan kritik yang dilayangkan oleh pihak Donald Trump:

Indikator / Isu Pandangan The Fed Kritik Donald Trump
Fokus Utama Menekan tingkat inflasi dan menstabilkan harga. Mendorong pertumbuhan ekonomi dan pasar saham.
Dampak Suku Bunga High Mencegah pemanasan ekonomi berlebih (overheating). Mencekik bisnis lokal dan menaikkan beban KPR masyarakat.
Arah Kebijakan Pengetatan moneter secara bertahap. Pelonggaran moneter untuk stimulus ekonomi.

Dampak Sistemik hingga ke Pasar Keuangan Indonesia

Langkah ketat yang diambil oleh otoritas moneter Amerika Serikat ini tentu memberikan efek domino yang cukup signifikan bagi perekonomian dunia, termasuk Indonesia. Pengetatan suku bunga Dolar AS berpotensi memicu gelombang pelarian modal asing (capital outflow) dari negara-negara berkembang kembali ke Amerika Serikat karena menawarkan imbal hasil (yield) obligasi yang lebih menarik dan minim risiko.

Nilai tukar Rupiah (IDR) diprediksi akan menghadapi tekanan adaptasi terhadap Dolar AS (USD) dalam beberapa pekan ke depan. Bank Indonesia (BI) kemungkinan besar harus memutar otak dan berpeluang mengambil langkah antisipatif demi menjaga stabilitas mata uang Garuda serta mengendalikan potensi inflasi barang impor (imported inflation).

Perselisihan antara independensi bank sentral dan tekanan politik ini mempertegas betapa rapuhnya keseimbangan ekonomi global saat ini. Publik kini menanti, apakah langkah berani The Fed ini mampu mendinginkan inflasi tanpa harus menghempaskan perekonomian ke dalam jurang resesi.

Untuk pertama kalinya dalam 3+ tahun, The Fed resmi menaikkan suku bunga acuan AS demi menekan inflasi. Namun, langkah ini mendapat kecaman keras dari Donald Trump yang mengkhawatirkan terjadinya resesi. Simak dampak kebijakan ini terhadap pasar keuangan global dan Rupiah hanya di Beritaseputar.com!

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS eko-saputra

Reporter Gadget. Review smartphone, laptop, dan consumer tech.

Comments (0)

User