Malam itu, lampu kamar masih menyala ketika Ha Young kembali membuka album foto keluarga yang disimpan ibunya di lemari paling dalam. Di halaman ketiga, ada seorang lelaki tua bersetelan gelap, berdiri kaku di depan rumah beratap genting. Selama bertahun-tahun, foto itu menjadi kebanggaan keluarga: bukti bahwa leluhur mereka pernah punya nama, harta, dan harga diri. Kini, wajah yang sama itu justru menjadi sumber kegelisahan. Pemerintah Korea Selatan dikabarkan tengah mengkaji penyitaan aset dan warisan kakek buyut Ha Young menyusul temuan keterlibatannya sebagai tokoh pro-Jepang pada masa pendudukan.
Kabar itu datang seperti guntur di siang yang cerah. Rumah tangga yang selama ini tenang tiba-tiba disibukkan oleh dokumen-dokumen lama, akta tanah, dan surat-surat yang nyaris lapuk dimakan usia. Semua dikeluarkan dari laci, diperiksa satu per satu, seolah ingin mencari jawaban atas pertanyaan yang tak pernah terucap: seberapa jauh leluhur mereka berkompromi dengan penjajah, dan apakah generasi penerus harus menanggung akibatnya?
Di Balik Layar Penelusuran Sejarah
Persoalan ini bukan hal baru di Korea Selatan. Sejak lama, negara mengisahkan kembali luka masa kolonial melalui penelusuran harta para kolaborator Jepang yang dikenal dengan istilah chinilpa. Berdasarkan Undang-Undang Khusus Pemeriksaan Harta Kekayaan Kolaborator Pro-Jepang, pemerintah berhak menelusuri, membekukan, hingga menyita warisan yang diyakini diperoleh lewat kerja sama dengan rezim pendudukan. Hasil penyitaan biasanya dialihkan untuk kepentingan publik, semacam pengakuan bahwa sejarah tak bisa sekadar dihapus.
Di balik layar proses itu, ada tim penyidik yang bekerja berbulan-bulan membaca arsip kolonial, membandingkan nama, dan melacak alur kepemilikan tanah lintas generasi. Bagi mereka, ini bukan sekadar urusan administrasi. Setiap berkas adalah kisah tentang pilihan sulit, tekanan, dan perjuangan sebuah keluarga untuk bertahan di masa yang paling kelam.
Beban Sejarah yang Tak Pilih-Pilih
Namun, bagi para keturunan seperti Ha Young, perjalanan ini terasa jauh lebih rumit. Di satu sisi, ada fakta sejarah yang harus diakui; di sisi lain, ada ikatan batin yang tak mudah diputus. Warisan itu bukan hanya tentang angka, melainkan tentang rumah tempat mereka dibesarkan, meja makan yang sama, dan nama yang mereka sandang setiap hari.
Tak sedikit keluarga yang mengalami momen mengharukan dalam kasus serupa. Sebagian memilih ikhlas melepas aset demi kedamaian, sebagian lain berjuang mempertahankan apa yang mereka yakini sebagai hak yang sah. Ada air mata di ruang-ruang sidang, ada pula kelegaan ketika sebuah nama akhirnya bersih dari tuduhan. Setiap kasus mengajarkan bahwa sejarah tidak pernah berhenti di buku teks; ia hidup di ruang keluarga, di antara generasi yang bahkan tak pernah bertemu langsung dengan sang leluhur.
Warisan, Antara Kenangan dan Keadilan
Bagi Ha Young, kabar ini seperti panggilan untuk memandang keluarganya dengan jujur. Kepada orang-orang terdekat, ia menuturkan bahwa yang paling menyakitkan bukanlah potensi kehilangan harta, melainkan bayangan bahwa nama yang selama ini ia banggakan ternyata menyimpan luka bagi orang lain. Pertanyaan yang menggantung di udara sederhana namun berat: apa artinya mewarisi sesuatu yang lahir dari pengkhianatan?
Para peneliti sejarah menilai, langkah pemerintah semacam ini adalah bagian dari upaya panjang sebuah bangsa untuk bangkit dari masa lalu tanpa berpaling. Tujuannya bukan menghukum generasi yang tak bersalah, melainkan memastikan keadilan menemukan alurnya. Aset yang disita pun diarahkan untuk mendanai program pendidikan dan kesejahteraan, termasuk bagi keluarga korban penjajahan.
Di tengah ketidakpastian itu, ada secercah inspirasi yang bisa dipetik. Kisah keluarga Ha Young mengingatkan bahwa setiap keluarga memiliki lembaran sejarahnya sendiri, lengkap dengan noda dan keindahannya. Yang membedakan adalah keberanian untuk menghadapinya. Bagi sebagian orang, itu berarti rela melepas. Bagi sebagian lain, itu berarti menjaga ingatan tetap hidup, apa pun putusan yang kelak dijatuhkan.
Malam itu, Ha Young menutup album foto itu perlahan. Di sudut matanya, ada genangan yang tak sempat jatuh. Ia belum tahu apakah rumah leluhurnya akan tetap berdiri atas nama keluarga mereka. Yang ia tahu, perjalanan ini — betapapun menyakitkan — adalah bagian dari proses dewasa: menerima bahwa cinta pada keluarga dan kejujuran pada sejarah bisa berjalan beriringan, meski kadang harus saling menatap dari kejauhan.
Comments (0)