Langit di pesisir Kampung Nelayan, Cilacap, masih menyisakan semburat jingga ketika Sartini membuka pintu dapurnya yang berukuran tiga kali empat meter. Aroma laut langsung menyambut, bercampur wangi kayu bakar dari tungku tua peninggalan ibunya. Di atas meja bambu, puluhan ekor ikan kembung hasil tangkapan semalam menanti untuk diolah. Bagi perempuan 58 tahun itu, ikan-ikan tersebut bukan sekadar dagangan, melainkan warisan kehidupan yang telah membesarkan ketiga anaknya hingga bangku kuliah.
"Ikan kembung ini murah dan bergizi, tapi kalau salah mengolahnya, bau amisnya bisa membuat orang enggan makan. Ibu saya dulu selalu berpesan, menghilangkan amis itu bukan soal bumbu mahal, melainkan soal kesabaran dan ketelitian," Sartini mengisahkan sambil memilah ikan dengan jemari yang telah kasar dimakan waktu.
Dari Dapur Kecil, Sebuah Perjuangan Dimulai
Dua puluh lima tahun silam menjadi titik balik dalam perjalanan hidup Sartini. Ketika suaminya berpulang setelah diterjang badai di tengah laut, ia harus berjuang sendirian menghidupi tiga anak yang masih kecil. Bermodal wajan tua dan resep sederhana dari mendiang ibunya, ia mulai berjualan ikan kembung goreng di pasar pagi.
Hari-hari awal tidaklah mudah. Beberapa pembeli mengeluhkan bau amis yang masih menempel pada ikan gorengnya. Air mata sempat menetes di sela kesibukannya, namun Sartini memilih bangkit. Ia kembali mengingat setiap wejangan ibunya semasa kecil, lalu memperbaiki cara mengolah ikan sedikit demi sedikit hingga sempurna.
"Dulu saya hampir menyerah. Tapi saya ingat wajah anak-anak, dan saya ingat ibu saya tidak pernah gagal memasak ikan. Dari situ saya belajar, ternyata kuncinya ada pada cara membersihkan dan melumuri ikan sebelum digoreng," tuturnya dengan suara bergetar mengenang masa lalu.
Rahasia Menghilangkan Bau Amis yang Menyentuh Hati
Di balik layar kelezatan ikan kembung gorengnya yang kini melegenda di pasar, Sartini menyimpan langkah-langkah sederhana yang ia jalani dengan penuh cinta setiap pagi. Pertama, ia membersihkan ikan di bawah air mengalir, membuang insang, isi perut, dan lapisan darah di sepanjang tulang punggung. Menurutnya, darah dan insang adalah sumber utama bau amis yang sering diabaikan orang.
Kedua, ikan yang telah bersih dilumuri garam dan perasan jeruk nipis, lalu didiamkan sekitar lima belas menit. "Jeruk nipis itu seperti sabun alami. Bau amisnya ditarik keluar, dagingnya jadi lebih segar," jelasnya. Bila jeruk nipis sedang mahal, ia menggantinya dengan cuka dapur encer atau air asam jawa.
Ketiga, Sartini kerap merendam ikan dalam air cucian beras selama sepuluh menit sebelum dibumbui. Cara turun-temurun ini dipercaya mampu menetralkan aroma amis sekaligus membuat tekstur daging lebih lembut. Terakhir, ia melumuri ikan dengan parutan kunyit dan jahe sebelum menggorengnya dalam minyak panas. "Kunyit dan jahe itu bukan cuma penghilang bau, tapi juga pemberi rasa. Ikan jadi gurih sampai ke tulang," ujarnya tersenyum.
Ia juga mengingatkan agar ikan tidak dicuci dengan air hangat berlebihan dan tidak dibiarkan terlalu lama di suhu ruang. Kesegaran, katanya, adalah separuh dari keberhasilan masakan.
Mewariskan Kesabaran kepada Generasi Muda
Kini, kisah perjuangan Sartini menjadi inspirasi bagi warga sekitar. Putri sulungnya, Rina, mulai belajar meneruskan usaha keluarga. Setiap sore, keduanya tampak berdampingan di dapur kecil itu, membersihkan ikan sambil berbincang tentang mimpi membuka warung makan sederhana di tepi jalan raya.
"Anak muda sekarang maunya serba cepat. Tapi saya bilang ke Rina, ikan yang dibersihkan dengan tergesa-gesa tidak akan pernah enak. Masak itu seperti hidup, butuh ketelitian dan hati yang sabar," kata Sartini.
Bagi Sartini, setiap ekor ikan kembung yang ia olah adalah cara menjaga kenangan tentang ibunya tetap hidup. Di tengah kepulan asap tungku dan aroma jeruk nipis yang segar, ada momen mengharukan yang terus berulang setiap pagi: seorang anak yang merindukan ibunya, dan seorang ibu yang mewariskan cinta lewat dapur.
"Setiap kali saya membersihkan ikan, saya merasa ibu saya ada di sini, berdiri di samping saya. Ilmu yang sederhana ini adalah pelukan terakhirnya yang tidak pernah putus," ucap Sartini, sementara senja perlahan turun di kampung nelayan yang damai itu.
Comments (0)