Aug 25, 2026
entertainment

Unggahan Keempat yang Mengisahkan Perjalanan di Balik Layar MARBLES

Lampu meja belajar di sudut kamar berukuran 3x4 meter itu masih menyala pukul dua dini hari. Di atas alas kayu usang, sebutir kelereng kaca berdiameter tiga sentimeter menangkap cahaya kuning pucat, m...

Unggahan Keempat yang Mengisahkan Perjalanan di Balik Layar MARBLES

Lampu meja belajar di sudut kamar berukuran 3x4 meter itu masih menyala pukul dua dini hari. Di atas alas kayu usang, sebutir kelereng kaca berdiameter tiga sentimeter menangkap cahaya kuning pucat, memantulkan bayangan samar di dinding. Seseorang menarik napas panjang, jari-jari mungilnya melayang di atas layar ponsel. Ia tahu, begitu tombol "bagikan" ditekan, tak akan ada jalan kembali. Unggahan itu—yang keempat kalinya—bukan sekadar foto estetik. Ia adalah secarik jiwa yang diletakkan di hadapan ribuan orang asing.

Tiga Kisah Awal yang Menggantungkan Tanya

Sebelum dini hari itu tiba, akun @marbles.sphere hanya dikenal lewat tiga unggahan sederhana. Masing-masing menampilkan bola kaca transparan di lokasi berbeda: di ambang jendela rumah tua, di telapak tangan yang menggigil kedinginan, di atas buku catatan yang halamannya penuh coretan tinta biru. Tak ada wajah. Tak ada keterangan panjang. Hanya satu kata—rindu, tunggu, dan maaf—yang menempel sebagai keterangan singkat. Pengikut bertambah, komentar berdatangan, namun siapa di balik layar tetap menjadi tanda tanya yang tak terjawab.

"Aku ingin mereka melihat benda itu, bukan aku," ujar sang pemilik akun, yang memilih untuk menyebut dirinya hanya dengan nama samaran Sera. Perempuan berusia 24 tahun itu mengisahkan bahwa kelereng-kelereng itu adalah warisan dari sang kakek, seorang penjual mainan keliling yang berjuang menyekolahkan cucunya dari hasil penjualan kelereng dan balon. "Setiap butir menyimpan janji. Kalau aku berhasil, aku akan membalas semua air mata dan lelahnya dengan cara yang tak dia sangka."

Momen Mengharukan Ketika Keempat Kali Menyapa

Lalu datanglah malam yang mengubah segalanya. Di unggahan keempat, yang kemudian menjadi momen mengharukan bagi ribuan pengikutnya, Sera memperlihatkan kelereng yang sama—namun kali ini retak di tengah. Di dalam retakan itu, terselip secarik foto hitam putih kecil: wajah tua berkerut dengan senyum tipis, mengenakan kemeja kotak-kotak yang sama persis dengan yang dikenakannya saat mengantar Sera ke terminal bus, lima tahun silam, untuk mengejar mimpinya di kota besar.

"Aku tak pernah punya kesempatan mengucapkan selamat tinggal yang layak. Unggahan ini adalah surat terbuka yang terlambat, tapi akhirnya sampai," tulis Sera di kolom keterangan, yang untuk pertama kalinya berisi lebih dari seratus kata. "Kakek, aku sudah di sini. Aku sudah cukup kuat."

Komentar bagian bawah langsung banjir. Ada yang bercerita tentang kakek mereka sendiri, ada yang mengaku menangis di kamar kos, dan ada pula yang berkata bahwa kisah sederhana itu membuat mereka bangkit dari keterpurukan. Di balik layar, Sera membalas satu per satu hingga fajar menyingsing. Bukan karena tugas, melainkan karena untuk pertama kalinya ia merasa tidak sendirian dalam kesedihannya.

Inspirasi yang Tumbuh dari Benda Sekecil Kelereng

Kini, @marbles.sphere tak lagi sekadar akun misterius dengan foto-foto estetik. Ia telah menjadi ruang bagi banyak orang untuk mengingat kembali bahwa di balik setiap benda sederhana yang kita miliki, ada perjalanan panjang manusia yang berjuang, yang mencintai, dan yang pergi terlalu cepat. Sera berencana mengunjungi kampung halamannya dalam waktu dekat, membawa kelereng retak itu sebagai inspirasi hidup yang tak akan pernah ia lepas.

"Mimpi tidak selalu tentang pencapaian besar. Kadang, mimpi adalah ketika kita berani mengatakan bahwa kita rindu, bahwa kita berterima kasih, meski orang yang dituju sudah tak bisa mendengar," tutup Sera dengan suara bergetar. Di luar jendela, matahari mulai menembus kabut pagi, menyinari kelereng retak di atas meja—menyentuh hati siapa pun yang menyadari bahwa unggahan misterius itu sesungguhnya adalah pelukan panjang seorang cucu untuk kakeknya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS salsa-bintari

Reporter Startup. Meliput ekosistem startup Indonesia, venture capital, dan unicorn.

Comments (0)

User