Aug 26, 2026
entertainment

TRANS TV Festival Vol. 5: Pesta Tanpa Tiket, Cerita Tanpa Batas

Matahari Minggu pagi, 26 Juli, bersinar ramah di atas hamparan rumput Lapangan Sunburst BSD, Tangerang Selatan. Satu per satu, keluarga-keluarga datang dengan alas duduk, bekal, dan senyum tak sabar. ...

TRANS TV Festival Vol. 5: Pesta Tanpa Tiket, Cerita Tanpa Batas

Matahari Minggu pagi, 26 Juli, bersinar ramah di atas hamparan rumput Lapangan Sunburst BSD, Tangerang Selatan. Satu per satu, keluarga-keluarga datang dengan alas duduk, bekal, dan senyum tak sabar. Di antara mereka, terlihat seorang ibu muda, Sari (32), menggandeng tiga anaknya yang masih belia. Mereka berjalan kaki setengah jam dari rumah kontrakan demi tiba di lokasi lebih awal. "Takut kehabisan tempat duduk dekat panggung," ujar Sari, yang hanya bisa menonton acara televisi favoritnya lewat layar 14 inci di rumah.

Hari itu, layar kaca itu seolah menjelma nyata. Di hadapan Sari dan ribuan warga lainnya, berdirilah panggung megah bertuliskan TRANS TV, lengkap dengan tata cahaya yang gemerlap. Untuk kelima kalinya, TRANS TV Festival hadir sebagai pesta rakyat—tanpa ada sepeser pun biaya yang ditarik dari kantong pengunjung. Perhelatan akbar ini seakan menjadi oase hiburan yang merangkul semua kalangan. Tak peduli status sosial, yang penting bisa tertawa lepas bersama.

Lapangan yang Berubah Menjadi Rumah Kedua

Sejak pukul delapan pagi, lapangan itu sudah tak lagi sekadar lahan kosong. Berbagai stan dan panggung mini bertaburan, diisi permainan rakyat, lomba mewarnai, hingga dapur-dapur kecil yang membagikan jajanan gratis. Anak-anak berlarian dengan balon warna-warni, sementara orang dewasa berfoto di depan instalasi seni dari daur ulang botol plastik. Suara musik dangdut dari salah satu sudut bertemu dengan irama pop dari panggung utama, menciptakan simfoni kegembiraan yang tak terstruktur.

Ahmad, seorang pedagang cilok keliling yang biasa mangkal di pinggir jalan BSD, turut merasakan berkah hari itu. Ia mengaku bisa menggandakan pendapatannya, meski ia pun rela membagikan puluhan tusuk cilok gratis kepada anak-anak yang tak membawa uang. "Rezeki itu harus mengalir, Mas. Kalau anak-anak senang, saya juga ikut senang," tuturnya sambil mengaduk bumbu kacang di gerobaknya. Di dekatnya, sekelompok relawan dari komunitas pemuda setempat sibuk mengarahkan pengunjung, dengan seragam kaos putih bertulisan "Bersama Kita Hibur".

Gratis, Tapi Menggetarkan Hati

Siang menjelang, panggung utama bergemuruh. Satu per satu artis, penyanyi, dan pembawa acara populer naik mengguncang Lapangan Sunburst. Namun, kemeriahan itu tak sekadar soal artis ibu kota. Panitia menyelipkan segmen "Panggung Warga", di mana tiga anak asuh dari panti asuhan sekitar BSD diundang menyanyi bersama para selebritas. Tangis haru pecah ketika seorang gadis kecil bernama Bunga, 8 tahun, berhasil berduet dengan penyanyi cilik idolanya. Sambil memeluk boneka hadiah, Bunga berbisik, "Aku ingin jadi penyanyi. Tadi rasanya seperti di mimpi."

Di sisi lain lapangan, seorang kakek berusia 67 tahun, Karta, duduk di kursi lipat sambil menggendong cucunya. Matanya berkaca-kaca saat menyaksikan cucu lelakinya, Dito, 9 tahun, terpilih naik panggung untuk bersalaman dengan pembawa acara favoritnya. Dito, yang sehari-harinya pendiam dan lebih sering bermain gim lawas, tiba-tiba berteriak lantang, "Aku mau jadi kayak Kak Aldi, bisa ngomong di TV, biar dilihat Ibu di surga!" Kalimat polos itu sontak membuat Karta terisak. Ibu Dito telah meninggal setahun lalu karena sakit, dan sejak itu, televisi menjadi jendela hiburan sekaligus pelipur lara mereka.

Senyum yang Tak Lekang oleh Senja

Ketika matahari mulai condong ke barat, semangat pengunjung justru memuncak. Doorprize besar—sebuah sepeda motor—diumumkan, dan pemenangnya adalah seorang buruh cuci bernama Lastri. Perempuan paruh baya itu sempat jatuh pingsan karena syok bahagia. Setelah sadar, ia hanya bisa mengucap syukur tak henti. "Motor ini akan saya pakai mengantar cucu ke sekolah. Saya enggak perlu lagi jalan kaki berdua," ucapnya dikelilingi pelukan keluarga dan tetangga.

Pesta rakyat itu perlahan beranjak usai. Namun, dinginnya angin senja tak mampu memadamkan hangat yang terlanjur mengendap di dada. Ibu Sari, yang pagi tadi khawatir kehabisan tempat, pulang dengan membawa kardus bekas yang ia lipat menjadi kerajinan tangan, hadiah dari stan daur ulang. Anak-anaknya tertidur di bahu sang ayah, dengan wajah puas setelah seharian menari. Di sudut lapangan, para relawan berpelukan; ada yang menangis karena lega dan haru.

TRANS TV Festival Vol. 5 bukan sekadar gelaran musik atau panggung hiburan. Ia adalah ruang di mana perbedaan melebur, di mana kebahagiaan tak diukur dari tebalnya dompet, melainkan dari seberapa lebar senyum yang tercipta. Dan di Lapangan Sunburst itu, senyum itu bertebaran sepanas matahari, namun sejuk seperti persaudaraan yang tulus.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User