Upaya pencarian terhadap rombongan jurnalis yang dilaporkan hilang kontak di perairan Selat Sunda kini memasuki babak baru. Tim SAR Gabungan memutuskan untuk memperluas radius penyisiran menyusul belum ditemukannya tanda-tanda keberadaan kapal yang mengangkut lima orang jurnalis dan tiga kru kapal tersebut.
Operasi kemanusiaan ini melibatkan armada terpadu dari Basarnas, Polairud Polda Banten, TNI Angkatan Laut, serta relawan nelayan lokal. Perluasan area operasi difokuskan pada titik koordinat terakhir saat kapal terpantau sebelum komunikasi terputus total.
Kronologi Kejadian dan Titik Hilang Kontak
Berdasarkan laporan awal yang dihimpun pangkalan SAR, kapal motor yang ditumpangi rombongan pewarta tersebut berlayar dalam rangka meliput aktivitas maritim dan konservasi di sekitar gugusan pulau kecil di Selat Sunda. Berikut urutan peristiwa hingga kapal dinyatakan hilang kontak:
- Pukul 06.30 WIB: Kapal motor bertolak dari dermaga dengan membawa total delapan penumpang, terdiri dari lima jurnalis media nasional dan tiga awak kapal berpengalaman.
- Pukul 11.45 WIB: Nahkoda kapal sempat mengirimkan laporan posisi rutin via radio VHF ke posko darat, menyatakan situasi aman terkendali di dekat perairan Pulau Sangiang.
- Pukul 14.15 WIB: Cuaca mendadak memburuk disertai gelombang tinggi. Upaya panggilan radio dan sinyal telepon satelit ke kapal tidak lagi mendapatkan respons.
- Pukul 16.00 WIB: Otoritas pelabuhan resmi menetapkan status kapal dalam keadaan darurat (hilang kontak) dan langsung mengaktifkan operasi SAR tahap awal.
Strategi Penyisiran dan Pengerahan Alutsista
Memasuki hari lanjutan pencarian, Tim SAR membagi area operasi menjadi empat sektor utama yang membentang dari perairan Banten hingga mendekati pesisir Lampung Selatan. Penyisiran tidak hanya mengandalkan jalur laut, tetapi juga pemantauan udara.
"Kami memperlebar area pencarian hingga 25 mil laut ke arah barat daya. Pergerakan arus laut yang cukup deras mengarah ke Samudra Hindia menjadi pertimbangan utama perluasan sektor sapuan ini," ujar Koordinator Misi SAR di Posko Pelabuhan Merak.
Untuk memaksimalkan efektivitas pencarian di lapangan, sejumlah alutsista canggih telah diterjunkan:
- Kapal Negara (KN) SAR: Dikerahkan sebagai kapal komando untuk menyisir perairan terbuka dan memantau sonar bawah air.
- Rigid Inflatable Boat (RIB): Bergerak lincah menyisir garis pantai karang dan pulau-pulau tak berpenghuni.
- Helikopter Patroli Udara: Melakukan pengamatan visual dari ketinggian guna mendeteksi serpihan kapal atau pelampung keselamatan.
- Jaringan Radio Nelayan: Menghubungkan seluruh kapal tangkap yang melintas untuk segera melapor jika melihat tanda-tanda korban.
Tantangan Cuaca dan Harapan Keluarga
Proses evakuasi di Selat Sunda dihadapkan pada tantangan alam yang berat. Berdasarkan data BMKG maritim, kecepatan angin di perairan tersebut saat ini mencapai 15 hingga 20 knot dengan tinggi gelombang berkisar antara 1,5 hingga 2,5 meter. Kondisi arus bawah laut yang kuat turut mempersulit pemetaan serpihan jika terjadi kecelakaan laut.
Keluarga para jurnalis dan kru kapal saat ini telah berkumpul di posko darurat pelabuhan untuk menanti kabar terbaru. Pihak asosiasi jurnalis bersama instansi terkait terus berkoordinasi erat dengan Basarnas guna memastikan segala sumber daya dikerahkan secara optimal demi menyelamatkan seluruh korban.
Comments (0)