Di sudut sebuah bioskop megah di pusat kota, Diandra menatap layar monitor tiket yang semuanya bertuliskan 'Habis'—tulisan merah yang seperti menampar mimpinya. Ia telah mengantre virtual sejak pukul enam pagi, jemarinya gemetar di atas telepon genggam, berharap bisa menyaksikan film yang telah mendominasi percakapan dunia: The Odyssey. Namun, seperti ribuan orang lainnya, perempuan 24 tahun itu harus kembali pulang dengan tangan hampa dan perasaan getir. Euforia yang membuncah di mana-mana justru menyisakan luka bagi mereka yang merasa terpinggirkan oleh cara film ini disajikan. Baginya, dan banyak orang lain, The Odyssey bukan lagi sekadar tontonan—ia menjelma menjadi simbol jurang kesenjangan di dunia hiburan.
Layar Khusus, Harga Selangit
Sejak awal penayangannya, The Odyssey memang hadir bukan seperti film biasa. Rumah produksi memutuskan hanya menyediakan format premium, seperti layar raksasa dengan teknologi suara mutakhir. Akibatnya, harga satu lembar tiket melonjak hingga tiga kali lipat dari tiket bioskop umum. Di Jakarta, harga tiket bisa mencapai Rp350.000, sementara di kota-kota besar lainnya sedikit lebih rendah namun tetap di luar jangkauan banyak kantong. Bagi seorang pelajar atau pekerja bergaji minim, angka itu adalah beban berat.
Tidak hanya harga yang menjadi kendala. Film ini hanya diputar di segelintir bioskop di kota besar, seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan. Penonton dari luar pulau harus merogoh kocek lebih dalam untuk biaya perjalanan. Cerita tentang penggemar yang terbang dari Makassar hanya untuk menonton film ini sudah menjadi rahasia umum, dan tak sedikit yang akhirnya kecewa karena tiket tetap tak kunjung didapat. Situasi ini menciptakan pasar gelap daring, di mana calo menjual tiket dengan harga berlipat, hingga jutaan rupiah. Praktik ini kian mempertebal tembok eksklusivitas.
"Saya benar-benar ingin merasakan keagungan Odyssey yang semua orang bicarakan, tapi uang saya tidak cukup. Harus mengorbankan kebutuhan lain," ungkap Raka, mahasiswa semester akhir yang harus menyisihkan uang jajannya selama sebulan hanya untuk gagal karena tiket ludes dalam hitungan detik.
Kritik pun mengalir deras. Banyak pengamat film dan penonton menyebut strategi ini terlalu elitis, menciptakan tembok tinggi antara karya seni dengan publik yang seharusnya menjadi milik bersama. Film yang digadang-gadang sebagai tontonan epik ini justru terasa seperti pesta tertutup bagi kalangan berduit. Tagar #OdysseyUntukSemua pun merebak di media sosial, menggaung sebagai bentuk protes terhadap kesenjangan akses. Menurut pengamat film, Dr. Andini Pratiwi, fenomena ini mencerminkan pergeseran dalam distribusi film global. "Kita melihat lahirnya kelas baru dalam konsumsi budaya. The Odyssey sengaja diposisikan sebagai barang mewah, dan itu melukai demokrasi sinema," jelasnya.
Ketika Euforia Hanya Milik Segelintir
Di balik gegap gempita ulasan positif dan deretan penghargaan yang mulai diraih, ada kisah-kisah sunyi yang terabaikan. Keluarga Pak Budi dari Yogyakarta, misalnya, sengaja datang ke Jakarta hanya untuk menonton film ini sebagai hadiah ulang tahun putranya yang seorang penggemar mitologi Yunani. Mereka telah menabung selama dua bulan. Namun, tiket daring ludes hanya dalam tiga menit setelah dibuka. "Anak saya menangis di lobi hotel. Ia tidak mengerti kenapa kami tidak bisa masuk padahal kami sudah jauh-jauh datang," kisah Pak Budi, suaranya bergetar.
Fenomena ini seperti pisau bermata dua. Di satu sisi, The Odyssey berhasil menciptakan sensasi dan menghidupkan kembali gairah menonton di bioskop pascapandemi. Namun di sisi lain, ia meneguhkan kasta di antara penikmat film. Hanya mereka yang memiliki uang lebih dan waktu luang untuk berburu tiket yang bisa terlibat dalam percakapan budaya. Sisanya, hanya bisa menatap dari kejauhan, menelan pahitnya ketertinggalan.
Di akun-akun media sosial, potongan adegan film ini berseliweran—spektakuler dan menggoda. Namun bagi mereka yang tak mampu mengaksesnya, alih-alih menginspirasi, unggahan itu justru menumbuhkan rasa rendah diri. Seorang pengguna Twitter menulis, "Setiap kali melihat klip Odyssey, hati saya sakit. Seperti diundang ke pesta tapi tidak boleh masuk." Unggahan itu mendapat puluhan ribu reaksi, bukti bahwa kegelisahan ini menjangkiti banyak orang.
Harapan dari Sisi Lain Layar
Mendengar gelombang protes, pihak distributor akhirnya buka suara. Dalam sebuah pernyataan, mereka mengaku bahwa pemutaran terbatas adalah bagian dari strategi untuk menjaga kualitas pengalaman menonton sesuai visi sutradara. Namun, mereka juga berjanji akan mempertimbangkan penambahan jadwal di bioskop reguler setelah masa tayang eksklusif berakhir. "Kami mendengar aspirasi penonton. Kami sedang mencari cara agar lebih banyak orang bisa menikmati The Odyssey tanpa mengorbankan kualitas," ujar seorang juru bicara.
Di tengah keterbatasan, solidaritas pun muncul. Di beberapa kota, komunitas penggemar film menggalang dana bersama untuk menyewa satu studio kecil dan mengundang warga kurang mampu. Aksi ini meski kecil, menjadi nyala lilin dalam kegelapan eksklusivitas. "Kami ingin membuktikan bahwa semangat sinema adalah milik semua, bukan hanya yang berpunya," ujar Dimas, koordinator aksi di Bandung.
Bagi Diandra dan jutaan penonton lain yang masih menunggu, harapan itu seberkas cahaya. Film memang seharusnya menjadi jembatan, bukan tembok. Ketika keindahan visual dan narasi megah hanya bisa diakses segelintir orang, esensi dari seni itu sendiri perlahan terkikis. Mungkin, dari kisruh ini, industri perfilman kita akan belajar bahwa keajaiban layar lebar haruslah bisa menyentuh siapa saja, tanpa memandang tebalnya dompet.
Comments (0)