Tapanuli Selatan — PT Agincourt Resources Perkuat Pelestarian Adat Makkobar

Jumat pagi di Tapanuli Selatan terasa begitu istimewa. Di penjuru enam wilayah—mulai dari Kelurahan Wek I, Wek II, hingga Desa Muara Hutaraja, Bandar Hapin

Jul 19, 2026 - 23:42
0 0
Tapanuli Selatan — PT Agincourt Resources Perkuat Pelestarian Adat Makkobar

Jumat pagi di Tapanuli Selatan terasa begitu istimewa. Di penjuru enam wilayah—mulai dari Kelurahan Wek I, Wek II, hingga Desa Muara Hutaraja, Bandar Hapinis, serta Kelurahan Hutaraja—suara tarian dan gendang adat kembali menggema dengan cara yang tidak biasa. Bukan sekadar pertunjukan rutin, melainkan sebuah ruang belajar hidup yang digelar oleh PT Agincourt Resources (PTAR) melalui Program Pelatihan Adat Makkobar. Langkah ini menjadi bukti nyata bahwa komitmen pelestarian budaya tidak bisa sekadar diukur dari angka anggaran, tetapi dari seberapa dalam sebuah institusi mau menyentuh akar-akar identitas masyarakat yang telah ada ratusan tahun sebelum industri hadir di tanah mereka.

Memahami Makkobar, Merawat Jiwa Musyawarah

Makkobar bukan sekadar nama ritual yang terucap dalam upacara adat suku Mandailing di Tapanuli Selatan. Ia adalah filosofi hidup yang mengajarkan tentang tata krama, musyawarah, penghormatan kepada leluhur, serta keseimbangan hubungan antara manusia dengan sesamanya dan alam semesta. Dalam praktiknya, Makkobar menyimpan lapisan makna mendalam tentang bagaimana sebuah komunitas mengambil keputusan kolektif, menyelesaikan perselisihan, hingga meneguhkan ikatan sosial di tengah dinamika zaman. Sayangnya, gempuran modernitas dan minimnya regenerasi pemangku adat membuat warisan ini rentan tergerus, hanya tinggal sebagai kenangan di benak generasi tua.

Melihat kondisi itu, PTAR memilih tidak tinggal diam. Melalui pelatihan yang digelar pada Jumat (17/7/2026), perusahaan yang beroperasi di sektor tambang ini justru menurunkan tirai industrialisme untuk sementara waktu, lalu menggantinya dengan nuansa budaya yang kaya dan dalam. Pelatihan dilakukan di enam titik wilayah secara serentak, bukan sekadar sebagai distribusi program, melainkan sebagai pengakuan bahwa setiap kelurahan dan desa di kawasan tersebut memiliki variasi lokal dalam praktik Makkobar yang patut disegani dan dilestarikan secara merata.

"Kami tidak ingin anak cucu kami hanya membaca sejarah adat dari buku. Mereka harus merasakan, menghirup, dan hidup dalam Makkobar."

Jejak Program di Enam Wilayah

Di Kelurahan Wek II dan Wek I, aroma dupa dan daun sirih menyambut peserta pelatihan sejak fajar menyingsing. Para tetua adat dengan sabar mendemonstrasikan urutan prosesi Makkobar—dari penyusunan porhalaan (pembicaraan adat), penggunaan bahasa-bahasa khas dalam musyawarah, hingga simbolisme setiap peralatan yang diletakkan di atas balai. Tidak jauh berbeda, di Desa Wek IV dan Desa Bandar Hapinis, semangat serupa tercermin dari antusiasme generasi muda yang mulai berani mengajukan pertanyaan mendalam tentang makna tiap gerakan dalam tarian pembuka maupun struktur pantun-pantun adat yang diwariskan secara turun-temurun.

Sementara itu, di Desa Muara Hutaraja dan Kelurahan Hutaraja, pelatihan berlangsung dengan nuansa yang lebih emosional. Banyak di antara peserta yang merupakan pemuda-pemudi justru baru pertama kali menyentuh gondang dan memahami bahwa setiap irama memiliki aturan yang tidak bisa dipisahkan dari etika bermasyarakat. Keenam wilayah ini menjadi saksi bahwa pelestarian budaya tidak bisa dilakukan dari satu pusat saja; ia harus menyebar seperti jaring akar beringin yang menyangga kehidupan kolektif masyarakat Tapanuli Selatan.

Antara CSR dan Jati Diri Kolektif

Program Pelatihan Adat Makkobar yang digagas PTAR sejatinya membuka diskusi lebih luas tentang posisi korporasi dalam ekosistem budaya lokal. Di era di mana program tanggung jawab sosial perusahaan sering kali terjebak pada pendekatan instan seperti bantuan barang atau infrastruktur fisik, upaya memperkuat kearifan lokal justru menunjukkan kedalaman pemikiran. Ini adalah investasi pada modal sosial yang tidak terlihat oleh mata kasar, namun berpengaruh langsung pada kohesi masyarakat dan ketahanan budaya di masa depan.

Masyarakat Tapanuli Selatan kini memiliki alasan untuk optimis. Kehadiran PTAR dalam ruang-ruang adat bukan sebagai pihak asing yang menggurui, melainkan sebagai mitra yang bersedia belajar dan berbagi ruang dengan para tetua. Dengan menyentuh enam wilayah sekaligus dalam satu hari yang sama, program ini mencatatkan diri sebagai salah satu upaya pelestarian adat berskala luas yang diprakarsasi oleh pelaku industri di wilayah tersebut. Derasnya arus globalisasi memang tidak bisa dihentikan, tetapi dengan inisiatif seperti ini, setidaknya kecepatan arus itu bisa diimbangi dengan pagar-pagar kearifan yang kokoh dan bermartabat.

Pada akhirnya, pelatihan Makkobar yang digelar PT Agincourt Resources bukanlah titik akhir dari sebuah perjalanan, melainkan penyalaan kembali obor yang sempat meredup. Ketika generasi muda di Wek I hingga Muara Hutaraja mulai memahami bahwa adat adalah bekal hidup—bukan beban sejarah—maka lahirlah harapan baru bahwa Tapanuli Selatan akan terus melangkah ke depan tanpa melupakan siapa dirinya di dalam kancah peradaban yang terus berubah.

[SOCIAL_TWEET]: PT Agincourt Resources gelar pelatihan adat Makkobar di 6 wilayah Tapanuli Selatan. Langkah nyata lestarikan budaya Mandailing & perkuat identitas generasi muda! 🏔️ #Makkobar #TapanuliSelatan #PelestarianAdat [SOCIAL_TG]: PT Agincourt Resources Perkuat Pelestarian Adat Makkobar di 6 Wilayah Tapanuli Selatan. Pelatihan ini hadir sebagai bentuk nyata menjaga kearifan lokal dari ancaman tergerusnya zaman.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User