Oct 10, 2026
entertainment

Sutradara Digger Akui Filmnya Bukan Karya Sempurna

Di sebuah ruang wawancara yang tenang, Alejando González Iñárritu menatap layar penuh diam sejenak sebelum akhirnya tersenyum kecil. Sosok yang dikenal keras kepala dalam berkarya itu memilih untuk...

Sutradara Digger Akui Filmnya Bukan Karya Sempurna

Di sebuah ruang wawancara yang tenang, Alejando González Iñárritu menatap layar penuh diam sejenak sebelum akhirnya tersenyum kecil. Sosok yang dikenal keras kepala dalam berkarya itu memilih untuk jujur, tanpa selubung alasan. Ia mengakui bahwa Digger bukanlah film yang akan memeluk semua penonton. Sebagian orang mungkin akan menolaknya, bahkan berpaling di tengah perjalanan cerita.

Pengakuan itu sendiri terasa seperti sebuah keberanian. Di industri yang biasanya dihiasi oleh kalimat diplomatis dan janji manis, Iñárritu justru memilih membuka diri terhadap kemungkinan gagal. Ia tahu bahwa karyanya kali ini bukan untuk semua orang, dan justru di situ letak kejujurannya.

Sebuah Keputusan yang Berani

Sebagai sineas yang pernah menggondol penghargaan besar di panggung dunia, Iñárritu sebenarnya bisa saja memilih jalan aman. Ia bisa membuat cerita yang lembut, mudah dicerna, dan menyenangkan bagi mayoritas penonton. Namun, pilihan itu tidak pernah menjadi selera pribadinya. Baginya, film adalah ruang untuk bertanya, bukan hanya untuk menjawab.

Di balik layar proses kreatif, ia mengisahkan bahwa Digger lahir dari rasa penasaran yang panjang. Ia ingin menyorot sisi manusia yang jarang dibahas: kerapuhannya, kesombongannya, dan kegelisahannya ketika dunia di sekitar berubah tanpa izin. Cerita seperti ini, menurutnya, selalu memancing reaksi berbeda. Ada yang merasa diterawang, ada pula yang merasa terusik.

Reaksi penonton yang terbelah justru dianggapnya sebagai bagian wajar dari sebuah karya seni. Baginya, film yang aman seringkali adalah film yang cepat dilupakan. Sementara karya yang memancing perdebatan biasanya akan hidup lebih lama di ingatan, meski harus menanggung kritik yang tajam di awal rilis.

Ketika Angka Bicara

Namun, pengakuan Iñárritu tidak muncul dari ruang kosong. Kabar bahwa filmnya kurang mendapat sambutan di bioskop memang berhembus cukup kencang. Banyak yang menyebut proyek ini sebagai kegagalan komersial, sebuah langkah yang terlalu pribadi untuk ukuran pasar global.

Iñárritu sendiri tidak menampik hal tersebut. Ia memilih untuk menerima kenyataan dengan kepala tegak, tanpa menyalahkan penonton, distributor, atau waktu rilis. Baginya, setiap film membawa takdirnya sendiri, dan tidak semua takdir itu manis.

Yang menarik, sang sineas justru melihat sisi positif dari situasi ini. Kegagalan komersial, menurutnya, bukanlah vonis mati bagi sebuah karya. Ia percaya bahwa sejarah sinema penuh dengan film yang gagal di bioskop, lalu bangkit sebagai karya klasik beberapa dekade kemudian. Dalam pandangannya, waktu adalah penilai yang paling jujur.

Pelajaran di Balik Penerimaan

Momen mengharukan dalam kisah ini bukanlah soal tangisan atau pelukan, melainkan kesediaan seorang seniman untuk berdiri di depan publik dan berkata bahwa hasilnya belum sempurna. Di dunia yang menuntut kesempurnaan setiap saat, pengakuan seperti itu terasa menyentuh dan sederhana sekaligus.

Iñárritu mengisahkan bahwa ia belajar banyak dari proses ini. Bahwa berkarya berarti siap menerima dua kemungkinan: diterima atau ditolak. Keduanya sama-sama memberi pelajaran. Diterima mengajarkan arti tanggung jawab, sementara ditolak mengajarkan arti kerendahan hati.

Perjalanan seorang sineas memang tidak pernah linear. Ada kalanya mimpi terasa begitu dekat, lalu menjauh begitu saja. Namun, justru di situlah inspirasi lahir. Ia tetap ingin terus berkarya, meski tahu bahwa setiap karya berpotensi mengecewakan sebagian orang.

Di akhir percakapan, senyum kembali terukir di wajahnya. Bukan senyum kemenangan, melainkan senyum seseorang yang sudah berjuang dan menerima hasilnya dengan lapang. Ia tidak berjanji membuat semua orang suka pada karya berikutnya. Ia hanya berjanji akan terus jujur dalam bercerita.

Kisah Iñárritu kali ini pada akhirnya bukan soal angka penjualan atau ulasan negatif. Lebih dari itu, ini tentang seorang manusia yang tetap memilih berkarya meski tahu jalan yang ia tempuh penuh risiko. Dan mungkin, justru keberanian itulah yang membuat ceritanya tetap layak didengar.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS salsa-bintari

Reporter Startup. Meliput ekosistem startup Indonesia, venture capital, dan unicorn.

Comments (0)

User