Oct 10, 2026
entertainment

Keringat Dingin Prince Poetiray di Panggung GBK

Di balik gemerlap lampu Stadion Utama Gelora Bung Karno, seorang pemuda berdiri di sudut ruang ganti. Tangannya gemetar, keringat dingin membasahi pelipisnya. Prince Poetiray, nama yang mungkin belum ...

Keringat Dingin Prince Poetiray di Panggung GBK

Di balik gemerlap lampu Stadion Utama Gelora Bung Karno, seorang pemuda berdiri di sudut ruang ganti. Tangannya gemetar, keringat dingin membasahi pelipisnya. Prince Poetiray, nama yang mungkin belum banyak dikenal sebelum malam itu, tengah bersiap menghadapi momen paling menegangkan dalam hidupnya: bernyanyi di hadapan puluhan ribu pasang mata dalam upacara penutupan final FIFA ASEAN Cup 2026, Senin (5/10) malam.

"Saya benar-benar tidak bisa menggambarkan perasaan saya saat itu. Rasanya seperti seluruh tubuh saya membeku, tapi jantung saya berdegup kencang," ujar Prince mengenang momen tersebut. Ia mengisahkan bagaimana persiapan menuju panggung berlangsung penuh gejolak. Latihan demi latihan ia jalani, namun rasa gugup tak kunjung hilang. Mimpi yang ia rajut sejak kecil seolah berdiri di ambang kenyataan, sekaligus menguji keberaniannya.

Perjalanan Menuju Panggung Megah

Prince bukanlah sosok yang tiba-tiba muncul di panggung besar. Perjalanan panjang penuh perjuangan ia lalui. Ia mengingat masa-masa kecil ketika ia hanya bisa menyanyi di kamar kecilnya, berlatih dengan alat musik sederhana. "Dulu saya cuma bisa membayangkan berdiri di panggung besar. Sekarang, panggung itu benar-benar ada di depan mata," tuturnya dengan mata berkaca-kaca.

Di balik layar, tim produksi dan para musisi yang mendampinginya turut merasakan atmosfer yang menegangkan. Salah satu anggota tim mengungkapkan bahwa Prince sempat terdiam lama sebelum naik ke panggung. "Dia hanya menunduk, mengatur napas. Kami semua ingin memeluknya dan bilang, 'Kamu pasti bisa,'" ujar sumber yang enggan disebutkan namanya.

"Saya hanya terus berkata pada diri sendiri: ini untuk keluarga, untuk orang-orang yang mendukung saya. Saya tidak boleh mengecewakan mereka."

Momen Mengharukan di Atas Panggung

Begitu lampu sorot menyorotinya, suara gemuruh penonton menyambut. Namun, di detik pertama, Prince mengaku sempat kehilangan suara. "Rasanya seperti seluruh dunia menatap saya. Tapi begitu musik mulai berjalan, saya menutup mata dan tenggelam dalam lagu," kisahnya. Air mata hampir jatuh saat ia menyanyikan bait-bait yang ia dedikasikan untuk sang ibu, yang duduk di antara penonton.

Penampilan Prince malam itu tidak sekadar menyanyi. Ia membawa cerita tentang mimpi yang tumbuh dari keterbatasan, tentang seorang anak yang berjuang menembus keraguan. "Saya melihat ibu saya di barisan penonton, dan itu mengubah segalanya. Saya bernyanyi untuknya, bukan untuk panggung," ujar Prince dengan suara bergetar. Momen itu menjadi salah satu bagian paling menyentuh dalam upacara penutupan final ASEAN Cup 2026.

Berdiri Tegak Setelah Badai Gugup

Setelah lagu terakhir usai, tepuk tangan membahana memenuhi stadion. Prince turun dari panggung dengan lutut lemas, tetapi hati yang membara. "Saya rasa semua orang punya ketakutan. Tapi saya belajar bahwa ketakutan itu tidak harus menghentikan kita. Kita bisa tetap bernyanyi meski suara kita gemetar," ujarnya sambil tersenyum.

Kisah Prince Poetiray menjadi salah satu kisah inspirasi dari ajang bergengsi itu. Di balik kemegahan acara dan gemerlap lampu, ada seorang pemuda yang harus mengalahkan rasa gugup, air mata, dan keraguan. Ia membuktikan bahwa keberanian tidak berarti tidak takut—keberanian adalah tetap melangkah meski keringat dingin membasahi tubuh. Malam itu, Prince bukan hanya bernyanyi; ia bangkit, dan menyentuh hati banyak orang dengan kesederhanaan perjuangannya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS eko-saputra

Reporter Gadget. Review smartphone, laptop, dan consumer tech.

Comments (0)

User