Kabut asap tebal akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah kawasan di Sumatera Selatan kian meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi para pekerja lapangan. Menyikapi situasi darurat ini, PT Pertamina (Persero) bergerak cepat mengaktifkan protokol perlindungan ketat guna memastikan seluruh petugas dan operator di garda terdepan operasional tetap dalam kondisi prima saat mendistribusikan energi untuk masyarakat.
Paparan partikel debu halus dan polusi udara ekstrem akibat kebakaran lahan gambut menjadi ancaman nyata terhadap sistem pernapasan pekerja. Oleh karena itu, pengawasan kesehatan tidak lagi bersifat berkala, melainkan dipantau secara harian dengan standar keselamatan kerja (Health, Safety, Security, and Environment/HSSE) tingkat tinggi.
Kronologi dan Langkah Penanganan Kesehatan di Lapangan
Manajemen Pertamina di wilayah operasional Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) menerapkan mitigasi berlapis untuk menekan dampak buruk asap karhutla terhadap para petugas. Berikut urutan langkah perlindungan yang dijalankan:
- Pemantauan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU): Tim HSSE memantau kualitas udara secara langsung (real-time) di sekitar fasilitas kilang, terminal bahan bakar minyak (BBM), stasiun pengisian elpiji, dan sumur pengeboran.
- Pemeriksaan Fisik dan Pengujian Fungsi Paru: Petugas medis internal melakukan skrining harian berupa pengecekan saturasi oksigen, tekanan darah, dan pemeriksaan pernapasan sebelum pekerja memulai sif kerja.
- Distribusi Alat Pelindung Diri (APD) Khusus: Pembagian masker respirator standar N95 atau KN95 kepada seluruh personel garda depan, menggantikan masker kain biasa yang tidak efektif menyaring partikel berbahaya PM2.5.
- Pemberian Asupan Nutrisi Tambahan: Perusahaan menyalurkan paket vitamin C, D, suplemen daya tahan tubuh, serta susu untuk memperkuat imunitas personel yang bekerja di area terbuka.
"Kesehatan dan keselamatan seluruh perwira Pertamina adalah prioritas mutlak. Di tengah tantangan asap karhutla, kami memastikan suplai energi nasional tidak terhenti tanpa sedikit pun mengorbankan kondisi fisik petugas di lapangan," tegas perwakilan manajemen Pertamina dalam keterangannya.
Mitigasi Risiko ISPA dan Penyesuaian Pola Kerja
Ancaman utama yang diwaspadai dari pekatnya kabut asap adalah lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Guna menekan potensi tersebut, Pertamina memberlakukan penyesuaian teknis pada aktivitas operasional terbuka dengan sejumlah langkah preventif:
- Rotasi Sif Kerja Lebih Cepat: Mengurangi durasi paparan langsung pekerja di ruang terbuka ketika tingkat polusi memasuki kategori sangat tidak sehat atau berbahaya.
- Penyediaan Ruang Singgah Berpenyaring Udara: Menyiapkan posko transit khusus yang dilengkapi unit pembersih udara (air purifier) dan tabung oksigen portabel untuk penanganan darurat.
- Kolaborasi dengan Tim Medis Daerah: Berkoordinasi intensif dengan rumah sakit rujukan terdekat dan Satgas Karhutla guna mengantisipasi eskalasi kabut asap yang lebih parah.
Melalui langkah siaga dan komprehensif ini, operasional pasokan BBM dan LPG di wilayah Sumatera Selatan dipastikan tetap berjalan normal dan aman, sekaligus menjadi wujud komitmen nyata perusahaan dalam menerapkan prinsip nol kecelakaan kerja dan perlindungan ketenagakerjaan secara berkelanjutan.
Comments (0)