Oct 11, 2026
entertainment

Suara Boikot Menggema di Petra, Konser Bocelli Terancam

Di bawah langit senja yang memerah di atas tebing-tebing batu merah Petra, sebuah panggung megah telah berdiri. Cahaya lampu menyorot ke arah bangunan kuno yang berusia ribuan tahun, menyiapkan panggu...

Suara Boikot Menggema di Petra, Konser Bocelli Terancam

Di bawah langit senja yang memerah di atas tebing-tebing batu merah Petra, sebuah panggung megah telah berdiri. Cahaya lampu menyorot ke arah bangunan kuno yang berusia ribuan tahun, menyiapkan panggung bagi salah satu tenor paling terkenal di dunia, Andrea Bocelli. Namun, di balik megahnya persiapan konser itu, ada gelombang suara lain yang tak kalah kencang: seruan boikot dari sekelompok anak muda Yordania yang menolak kehadiran sang maesto.

Mereka bukan penonton biasa. Mereka adalah mahasiswa, aktivis, dan warga biasa yang merasa suara mereka tak pernah didengar. Di sebuah kafe sederhana di Amman, puluhan orang duduk melingkar, membahas rekam jejak Bocelli yang mereka nilai memiliki kedekatan dengan Israel. Bagi mereka, konser di Petra bukan sekadar pertunjukan musik, melainkan simbol normalisasi yang menyakitkan.

“Kami tidak menolak seni. Kami menolak air mata kami dijadikan tontonan,” ujar Rania, seorang mahasiswi seni yang suaranya bergetar saat berbicara kepada kami.

Rania mengisahkan bagaimana ia tumbuh mendengarkan lagu-lagu Bocelli bersama ayahnya. Musik itu, katanya, pernah menjadi jembatan antara dia dan sang ayah yang kini telah tiada. Namun, ketika mengetahui bahwa sang penyanyi pernah tampil di acara yang mendukung Israel, hatinya terasa terbelah. “Aku menangis semalaman. Bukan karena aku membencinya, tapi karena aku merasa dikhianati oleh sesuatu yang dulu sangat kusayangi,” ujarnya lirih.

Di Balik Layar Panggung Petra

Petra, kota kuno yang menjadi salah satu keajaiban dunia, selama ini menjadi simbol kebanggaan Yordania. Setiap konser besar yang digelar di sana selalu menjadi sorotan dunia. Namun, kali ini, persiapan konser Bocelli menuai protes yang tidak biasa. Spanduk-spanduk kecil bertuliskan “Boikot Bocelli” mulai muncul di sudut-sudut jalan menuju situs bersejarah itu. Di media sosial, tagar serupa menggema, dibagikan ribuan kali oleh warganet yang merasa suara mereka harus didengar.

Seorang koordinator aksi, Omar, mengisahkan bahwa gerakan ini lahir dari kekecewaan yang mendalam. “Kami sudah mencoba berbagai cara. Kami mengirim surat, kami berdialog. Tapi tidak ada tanggapan. Maka kami memilih bersuara dengan cara kami sendiri,” katanya.

Omar bercerita tentang malam-malam panjang yang ia habiskan bersama teman-temannya, merancang kampanye damai. Mereka tidak ingin merusak konser, tidak ingin menyerang siapa pun. Mereka hanya ingin dunia tahu bahwa ada harga yang harus dibayar ketika seni dianggap bisa lepas dari politik.

“Kami hanya ingin didengar. Kami bukan pengacau. Kami hanya anak-anak yang mencintai tanah ini,” tutur Omar dengan mata berkaca-kaca.

Kisah di Balik Nada yang Terbelah

Di sisi lain, tidak semua warga Yordania setuju dengan boikot ini. Sebagian masih ingin menonton Bocelli, menganggap musik adalah bahasa universal yang tak seharusnya dicampuri politik. Seorang pedagang suvenir di Petra, Yusuf, mengaku sedih dengan adanya boikot. Baginya, konser ini adalah berkah ekonomi yang jarang datang.

“Saya sudah menyiapkan dagangan sejak berbulan-bulan lalu. Kalau konser ini batal, bagaimana saya menghidupi keluarga?” katanya.

Namun, di balik perdebatan itu, ada luka yang lebih dalam. Rania kembali bercerita tentang ayahnya. Ia masih menyimpan kaset lama Bocelli yang dulu sering diputar di rumahnya. Kini, kaset itu tersimpan rapi di dalam kotak, tak pernah lagi ia sentuh. “Aku tidak bisa mendengarkannya lagi. Rasanya seperti ada dinding yang berdiri di antara aku dan kenangan itu,” ujarnya.

Kisah Rania mungkin hanya satu dari ribuan kisah lain yang tak terlihat. Di balik gemerlap panggung dan sorot lampu, ada hati-hati yang remuk, ada mimpi-mimpi yang harus dibungkam, dan ada perjuangan kecil yang tak pernah masuk berita utama. Boikot ini bukan sekadar aksi politik, melainkan jeritan jiwa yang mencari keadilan.

Mimpi yang Tetap Menyala di Bawah Batu Merah

Malam semakin larut. Di bawah tebing Petra yang menjulang, panggung itu tetap berdiri megah. Namun, di kejauhan, sekelompok anak muda masih duduk bersila, menggelar diskusi kecil. Mereka tidak membawa spanduk, hanya lilin-lilin kecil yang menyala di antara batu-batu. Mereka menyanyikan lagu-lagu tradisional Yordania, bukan lagu Bocelli. Suara mereka mungkin tidak terdengar sampai ke panggung utama, tapi getarannya menyentuh siapa saja yang mendengar.

Perjalanan boikot ini belum selesai. Bisa jadi konser tetap berlangsung, bisa jadi tidak. Namun, bagi Rania dan kawan-kawan, yang terpenting adalah mereka telah bersuara. Mereka telah bangkit dari keterpurukan, meski hanya dengan cara sederhana. “Setidaknya, kami sudah berjuang. Dan itu cukup untuk membuat kami merasa hidup,” ucap Rania sambil tersenyum tipis.

Di kota kuno yang menyimpan ribuan kisah, malam itu menjadi saksi bahwa suara kecil pun bisa menggema. Di sudut dunia yang jauh dari sorotan kamera, ada inspirasi yang lahir dari air mata, dan ada mimpi yang tetap menyala di bawah batu merah Petra.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS salsa-bintari

Reporter Startup. Meliput ekosistem startup Indonesia, venture capital, dan unicorn.

Comments (0)

User