Oct 11, 2026
entertainment

Ketika Diplo Terpukau DJ Koplo dari Kendari di Panggung Bali

Di sebuah panggung tepi pantai Bali yang basah oleh semburat senja, dentum bass koplo tiba-tiba menyatu dengan irama house yang menjadi napas dunia. Di belakang meja putar, seorang pria asal Kendari, ...

Ketika Diplo Terpukau DJ Koplo dari Kendari di Panggung Bali

Di sebuah panggung tepi pantai Bali yang basah oleh semburat senja, dentum bass koplo tiba-tiba menyatu dengan irama house yang menjadi napas dunia. Di belakang meja putar, seorang pria asal Kendari, Sulawesi Tenggara, bernama Habib Gunjat, menggerakkan tangannya dengan tenang. Beberapa meter darinya, Diplo — nama yang selama dua dekade menjadi ikon musik elektronik global — berdiri terpaku. Bukan karena gimmick panggung, melainkan karena sesuatu yang jarang ia temui: rasa.

Momen itu mengisahkan sebuah perjalanan panjang yang tidak pernah terbayangkan oleh seorang anak yang tumbuh di kota pelabuhan Kendari. Habib bukanlah produk akademi musik elit atau panggung-panggung internasional. Ia belajar dari kaset-kaset koplo yang diputar di warung kopi, dari panggung hajatan tetangga, dari sound system sederhana yang ia rakit sendiri bersama teman-temannya. Di balik layar gemerlap industri musik global, ada kisah tentang anak daerah yang berjuang mempertahankan bunyi akar budayanya.

Dari Warung Kopi Kendari ke Panggung Dunia

Habib mengisahkan bagaimana koplo bukan sekadar genre bagi dirinya. "Koplo itu rumah. Setiap kali saya main, saya ingat ibu saya yang menari di pesta pernikahan kampung," ujarnya dengan mata berkaca. Ia menolak mengubah identitasnya demi diterima pasar internasional. Justru ia membawa serta Bahasa Indonesia, gamelan elektrik, dan tempo dangdut yang berdenyut cepat ke dalam set-nya.

Di belakang meja, ia mencampur remix lagu-lagu koplo legendaris dengan ritme baile funk dan moombahton. Penonton asing yang awalnya datang untuk melihat Diplo justru larut dalam gelombang yang tidak mereka kenali. Ada yang menangis, ada yang tertawa, ada yang menari seperti tidak ada besok. Momen mengharukan terjadi ketika seorang penonton asal Australia menghampiri Habib dan berkata, "Saya tidak mengerti liriknya, tapi saya merasakan hatinya."

Momen Ketika Diplo Berhenti dan Mendengar

Diplo sendiri bukan orang yang mudah terkesima. Ia telah berkolaborasi dengan bintang-bintang dunia, dari Madonna hingga Beyoncé. Namun malam itu, ia memilih berdiri di sisi panggung, menyaksikan Habib mengendalikan ribuan orang dengan satu jari di turntable. "Ini bukan sekadar musik. Ini budaya yang hidup," ujar Diplo kepada kru di belakang panggung. Ia kemudian menghampiri Habib, memeluknya, dan mengajaknya berkolaborasi langsung di atas panggung.

Kolaborasi itu berlangsung spontan. Tidak ada latihan, tidak ada aransemen tertulis. Yang ada hanya saling mendengar. Diplo menahan diri, memberi ruang bagi koplo untuk bernapas. Sebaliknya, Habib menyisipkan elemen trap dan house ke dalam pola kendang yang ia kenal sejak kecil. Hasilnya bukan sekadar mashup, melainkan percakapan dua dunia yang saling menghormati.

"Saya tidak pernah membayangkan berdiri di sini. Tapi saya selalu percaya bahwa koplo bisa bicara kepada siapa saja," kata Habib setelah panggung selesai. Air mata tampak di sudut matanya, bukan karena kelelahan, melainkan karena sesuatu yang lebih dalam: pengakuan.

Inspirasi bagi Anak Muda di Daerah

Kisah Habib Gunjat bukan kisah tentang satu orang yang beruntung. Ia adalah cermin bagi ribuan anak muda di Kendari, Makassar, Kupang, dan kota-kota lain yang sering dianggap pinggiran oleh industri musik nasional. Ia membuktikan bahwa bunyi yang lahir dari kampung tidak perlu meminta izin untuk mendunia.

Di sudut ruangan berukuran 3x4 meter di rumahnya di Kendari, Habib menyimpan peralatan pertamanya: sebuah mixer bekas, headphone yang kabelnya diisolasi lakban, dan satu laptop tua. Ia menyebut benda-benda itu sebagai saksi perjalanannya. "Semua orang bisa bermimpi besar, tapi tidak semua mau berjuang dari tempat yang sederhana," ujarnya.

Baginya, panggung Bali bersama Diplo adalah awal, bukan akhir. Ia ingin membangun studio di Kendari, mengajari anak-anak kampung tentang produksi musik, dan membawa koplo ke festival-festival besar dunia tanpa menghilangkan akarnya. "Kalau saya berubah, saya kehilangan diri saya," katanya tegas.

Malam itu, di tepi pantai Bali, ketika lampu panggung akhirnya padam, Diplo dan Habib berfoto bersama. Di belakang mereka, penonton masih bergoyang, enggan pulang. Ada suasana yang sulit dijelaskan: sebuah momen di mana musik tidak lagi soal selera, melainkan soal jiwa yang menyentuh jiwa. Dan dari Kendari, seorang anak muda telah membuktikan bahwa tidak ada panggung yang terlalu jauh bagi mereka yang berani membawa rumahnya ke mana pun ia pergi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS galih-pratama

Editor Teknologi. Mantan software engineer. Meliput AI, cloud, dan transformasi digital.

Comments (0)

User