Di sudut dapur berukuran tak lebih dari 3x4 meter itu, aroma rempah dan santan menguar memenuhi udara. Tangan Sari Wulandari, seorang ibu rumah tangga berusia 42 tahun, dengan cekatan menumis bumbu halus di atas wajan. Sesekali ia mengaduk kuah berwarna kekuningan yang mendidih di panci sebelahnya. Di atas meja, adonan pastry siap dibentuk menanti giliran. Momen itu menjadi rutinitas barunya setiap akhir pekan — sesuatu yang dulu hanya ia nikmati saat berkunjung ke rumah neneknya di kawasan Condet, Jakarta Timur.
"Dulu saya hanya bisa makan soto betawi di tempat langganan keluarga," kenang Sari sambil tersenyum. "Tapi setelah nenek meninggal, saya merasa ada yang hilang. Saya ingin menghadirkan kembali rasa itu, tapi dengan cara berbeda agar anak-anak saya juga menyukainya."
Dari kenangan masa kecil ke dapur rumah
Soto betawi bagi banyak keluarga Betawi bukan sekadar hidangan. Ia adalah perjalanan panjang yang mengisahkan tentang kekerabatan, tradisi, dan kehangatan. Kuah santan yang gurih bercampur kaldu daging sapi, ditambah emping, kentang rebus, dan tomat merah, menjadi simbol kehangatan meja makan bersama. Namun seiring zaman, banyak generasi muda mulai melupakan bagaimana rasanya soto betawi asli buatan tangan orang tua mereka.
Di sinilah Sari mencoba menjembatani dua dunia: tradisi dan kebaruan. Ia mengaku terinspirasi dari hidangan pot pie, pai dengan isian beragam yang biasanya berkuah kental dan ditutup pastry. "Saya pikir, kenapa tidak kuah soto betawi dimasukkan ke dalam mangkuk, lalu ditutup adonan pastry? Jadi ada sensasi renyah di atas, dan gurih di bawah," ujarnya.
Ide itu tidak langsung berhasil. Percobaan pertamanya gagal — pastry menjadi lembek karena uap kuah yang terlalu banyak. Percobaan kedua, kuahnya malah terlalu asin. "Ada satu momen saya menangis di dapur, karena rasanya jauh dari ekspektasi. Tapi anak saya bilang, 'Mama, jangan menyerah dulu. Aku mau coba lagi.' Kalimat itu yang membuat saya bangkit," kisahnya dengan mata berkaca-kaca.
Modal nekat dan doa di setiap adonan
Setelah hampir dua bulan bereksperimen, Sari menemukan keseimbangan yang ia cari. Kuah soto betawi dimasak lebih kental, lalu didinginkan sebelum dimasukkan ke dalam ramekin. Adonan pastry dibuat tipis namun kuat, dilapisi mentega dingin yang ia serut sendiri agar berlapis sempurna. Setiap kali memasukkan loyang ke dalam oven, ia selalu mengucapkan doa singkat — sebuah kebiasaan yang ia warisi dari ibunya.
Suami dan anak-anaknya menjadi panelis pertama. Ketika pot pie pertama keluar dari oven dengan permukaan keemasan dan wangi mentega bercampur rempah, Sari mengaku tak bisa menahan haru. "Saya coba suap satu sendok, kuahnya pecah di mulut, tapi ada lapisan renyah yang bikin rasanya lengkap. Saya langsung peluk anak-anak saya. Rasanya seperti nenek saya hadir lagi di dapur itu," ucapnya.
"Setiap adonan yang saya bentuk, saya ingat wajah-wajah keluarga yang pernah duduk di meja makan. Bagi saya, soto betawi pot pie bukan hanya makanan. Ia adalah cara saya menyimpan cinta yang tidak sempat saya sampaikan." — Sari Wulandari
Kisah Sari mulai menyebar di lingkungan tempat tinggalnya. Para tetangga yang mencicipi hidangannya meminta ia membuat dalam jumlah lebih banyak. Kini, setiap Sabtu, dapur kecilnya berubah menjadi tempat produksi mini. Ia menerima pesanan dari teman-teman sekolah anaknya, arisan, hingga komunitas kuliner lokal. Semua dikerjakan sendiri, dengan bantuan suami yang bertugas mengantar pesanan.
Inspirasi bagi banyak orang
Kisah Sari menjadi inspirasi bagi banyak orang bahwa kuliner tradisional bisa tetap hidup tanpa kehilangan akar. "Banyak yang bilang masakan Betawi itu berat dan kuno. Padahal kalau kita berani bereksperimen, ia bisa jadi sesuatu yang baru dan disukai generasi sekarang," katanya.
Ia pun berbagi tips sederhana. Pertama, gunakan santan segar, bukan santan instan, agar kuah lebih gurih dan tidak mudah pecah. Kedua, dinginkan kuah sebelum ditutup pastry agar adonan tidak cepat lembek. Ketiga, jangan takut gagal. "Air mata di dapur itu bagian dari resep. Tanpa itu, kita tidak akan pernah tahu rasa yang paling pas," ujarnya sambil tersenyum lebar.
Bagi Sari, perjalanan ini masih panjang. Ia berencana membuka kelas memasak kecil di rumahnya agar lebih banyak orang bisa belajar membuat soto betawi pot pie. "Saya ingin anak-anak muda tahu, makanan nenek kita bisa naik kelas tanpa harus kehilangan jiwanya. Ini tentang mencintai akar kita dengan cara yang baru," tuturnya penuh harap.
Di dapur 3x4 meter itu, di antara tumpukan loyang dan aroma rempah, Sari terus mengulang adegan yang sama. Bukan sekadar memasak, melainkan merawat kenangan, satu adonan demi satu adonan — hingga hangatnya soto betawi tetap hidup, bahkan ketika zaman terus berubah.
Comments (0)