Oct 10, 2026
entertainment

SMERTI: Kisah di Balik Runway Iwan Tirta 2027

Lampu sorot di Gedung Kesenian Jakarta perlahan meredup pada 7 Oktober 2026 malam. Di balik tirai panggung, puluhan perajin batik dari berbagai pelosok Jawa menahan napas. Bagi mereka, malam itu bukan...

SMERTI: Kisah di Balik Runway Iwan Tirta 2027

Lampu sorot di Gedung Kesenian Jakarta perlahan meredup pada 7 Oktober 2026 malam. Di balik tirai panggung, puluhan perajin batik dari berbagai pelosok Jawa menahan napas. Bagi mereka, malam itu bukan sekadar gelaran mode biasa. Ia adalah puncak dari perjalanan panjang yang bertahun-tahun mereka tempuh dengan tangan-tangan penuh lilin panas dan canting yang tak pernah lepas dari genggaman.

Ketika model pertama melangkah keluar, gaun panjang bernuansa indigo itu seolah membawa penonton ke sebuah desa kecil di pesisir utara Jawa. Koleksi bertajuk SMERTI yang dipersembahkan Iwan Tirta ini bukan hanya deretan busana. Ia adalah monumen hidup bagi para perempuan yang selama ini bekerja di balik layar, nama-nama yang jarang disebut namun menjadi denyut nadi setiap helai kain.

Ketika Canting Berbicara Lebih Lantang

Di sudut belakang panggung, seorang perempuan paruh baya bernama Mbok Sarmi duduk di atas bangku kayu. Tangannya masih menggenggam canting yang ia bawa dari Pekalongan. Ia mengisahkan bagaimana dua bulan terakhir dihabiskan dengan begadang, menorehkan motif demi motif pada kain pesanan rumah mode legendaris tersebut.

"Saya tidak pernah membayangkan kain buatan tangan saya bisa berdiri di panggung sebesar ini. Rasanya seperti mimpi yang akhirnya menemukan jalannya pulang," ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Air mata di ruang belakang panggung itu bukan tanda kesedihan. Ia adalah bentuk syukur yang menumpuk bertahun-tahun, bekerja dalam sunyi, dihargai murah, namun menolak berhenti karena cinta pada warisan leluhur.

Merawat Warisan dengan Tangan yang Tak Kenal Lelah

Koleksi SMERTI sendiri membawa narasi tentang ketangguhan. Nama itu diambil sebagai penghormatan pada sosok perempuan sederhana yang mengajarkan arti ketekunan kepada generasi penerus. Setiap potongan busana menampilkan detail batik tulis yang memakan waktu hingga berminggu-minggu untuk satu helai saja.

Seorang penonton yang datang dari Yogyakarta mengaku terharu. "Saya melihat lebih dari sekadar pakaian. Saya melihat keringat, doa, dan kesabaran yang tak bisa dibeli dengan uang," katanya.

Di balik kemegahan runway, ada perjuangan panjang para perajin yang harus bersaing dengan gempuran tekstil cetak murah. Mereka bertahan bukan karena keuntungan besar, melainkan karena kesadaran bahwa jika bukan mereka, siapa lagi yang akan menjaga warisan ini tetap hidup.

Sebuah Perayaan untuk Mereka yang Tak Terlihat

Malam itu, tepuk tangan bergemuruh ketika seluruh model kembali ke panggung. Namun momen paling mengharukan justru terjadi saat beberapa perajin dipanggil naik untuk menerima penghormatan. Langkah mereka gugup, sebagian menutup mulut dengan tangan, tak percaya bahwa dunia akhirnya menoleh pada kerja keras mereka.

Perjalanan koleksi SMERTI menjadi pengingat sederhana namun menyentuh: bahwa keindahan sejati selalu lahir dari ketulusan tangan-tangan yang jarang bertepuk. Di balik setiap kain yang berkilau, ada kisah manusia yang pantang menyerah, yang bangkit setiap pagi demi menjaga sepotong warisan agar tak hilang ditelan zaman.

Malam di Gedung Kesenian Jakarta itu pun berakhir, namun kisah para perajin baru saja menemukan babak barunya. Sebuah mimpi yang kini punya panggung, dan sepercik harapan bahwa karya mereka akan terus dikenang, tak hanya di atas runway, tetapi di hati siapa pun yang menyentuh setiap helai benangnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS kartika-dewi

Reporter Cybersecurity. Fokus pada keamanan siber, privasi data, dan regulasi digital.

Comments (0)

User