Di sebuah ruangan hotel yang hangat di kawasan Jakarta Selatan, Sintya Marisca duduk dengan mata berbinar. Ia baru saja menyelesaikan sesi wawancara panjang tentang serial terbarunya, My Chef in Crime. Namun, yang membuat percakapan ini berbeda adalah cara ia bercerita—bukan tentang popularitas atau angka rating, melainkan tentang perjalanan pribadinya yang penuh perjuangan untuk menjadi seorang detektif di layar kaca.
“Saya tidak mau sekadar berakting. Saya ingin penonton merasakan bahwa karakter ini hidup, punya denyut nadi, punya ketakutan dan keberanian,” ujar Sintya dengan nada rendah, sesekali menunduk seolah mengingat kembali proses panjang yang ia lalui.
Riset Mendalam: Dari Layar ke Kehidupan Nyata
Perjalanan Sintya untuk memerankan detektif bernama Larasati tidaklah instan. Ia mengaku menghabiskan berminggu-minggu untuk melakukan riset, bahkan sampai mendatangi kantor polisi di beberapa daerah. “Saya ingin melihat bagaimana mereka berbicara, bagaimana mereka menatap lawan bicara, bahkan bagaimana mereka berjalan saat sedang memikirkan sebuah kasus,” kenangnya sambil tersenyum.
Yang paling membekas di hatinya adalah momen ketika ia duduk di ruang interogasi asli. “Di situ saya sadar, menjadi detektif bukan sekadar memakai jas dan berkata 'kami sedang menyelidiki'. Ada beban yang mereka pikul setiap hari. Ada air mata yang mereka tahan demi keadilan,” tuturnya. Sintya bahkan sempat berlatih dengan seorang polisi wanita yang mengajarinya cara mengendalikan emosi saat menghadapi tersangka yang manipulatif.
“Saya ingin penonton merasakan bahwa karakter ini hidup, punya denyut nadi, punya ketakutan dan keberanian.”
Dari riset itu, Sintya menemukan hal yang tak pernah ia duga: gaya bicara polisi asli tidak pernah terburu-buru. “Mereka memilih kata dengan sangat hati-hati. Setiap kalimat punya tujuan. Itu yang saya bawa ke dalam akting saya,” jelasnya. Ia bahkan mencatat kebiasaan kecil seperti cara polisi meletakkan tangan di meja atau cara mereka menatap kamera CCTV—detail-detail kecil yang mungkin luput dari mata penonton, tetapi baginya adalah kunci keaslian.
Di Balik Layar: Latihan Fisik dan Mental
Tak hanya riset, Sintya juga menjalani latihan fisik intensif. Adegan kejar-kejaran dan interogasi menuntutnya memiliki stamina yang prima. “Saya bangun jam empat pagi setiap hari selama dua bulan. Lari, latihan bela diri, dan belajar membaca bahasa tubuh,” katanya. Ia mengaku sempat merasa putus asa di minggu-minggu awal karena tubuhnya tidak terbiasa dengan rutinitas berat itu.
Namun, momen mengharukan datang ketika ia pertama kali berhasil menyelesaikan adegan laga tanpa bantuan stuntman. “Saya menangis di lokasi syuting. Bukan karena lelah, tapi karena saya bangga pada diri sendiri. Saya membuktikan bahwa mimpi itu bisa dikejar dengan keringat,” ujarnya dengan suara bergetar. Produser dan kru yang melihatnya pun ikut terharu, menciptakan suasana hangat di tengah padatnya jadwal syuting.
Di balik layar, Sintya juga membangun kedekatan dengan lawan mainnya. Ia bercerita bahwa mereka sering berdiskusi tentang motivasi karakter masing-masing hingga larut malam. “Kami seperti keluarga kecil. Ada tawa, ada air mata, dan ada banyak kopi,” candanya. Hubungan itu, menurutnya, membuat adegan-adegan emosional terasa lebih nyata karena ada kepercayaan di antara mereka.
Pesan untuk Penonton: Keberanian untuk Bangkit
Bagi Sintya, My Chef in Crime bukan sekadar tontonan menghibur. Ia berharap kisah Larasati bisa menjadi inspirasi bagi banyak orang, terutama perempuan, untuk berani mengambil peran yang menantang. “Saya ingin perempuan tahu bahwa kita bisa menjadi kuat tanpa kehilangan kelembutan. Kita bisa menjadi tegas tanpa menjadi kasar,” katanya.
Ia juga menyimpan pesan sederhana untuk para penonton yang sedang berjuang mengejar mimpi. “Jangan takut gagal. Saya sendiri pernah merasa tidak layak untuk peran ini. Tapi saya memilih untuk bangkit dan belajar. Karena di balik setiap peran yang sukses, ada ribuan jam latihan yang tidak terlihat,” tuturnya sambil tersenyum.
Kisah Sintya Marisca adalah pengingat bahwa kesuksesan tidak datang dari bakat semata, melainkan dari totalitas dan keberanian untuk melangkah keluar dari zona nyaman. Di tengah gemerlap industri hiburan, ia memilih untuk tetap membumi dan menghargai proses. Dan itulah yang membuat perannya sebagai detektif terasa begitu hidup—karena ia tidak hanya berakting, tetapi benar-benar menghidupi setiap detik perjalanan karakternya.
Di akhir wawancara, Sintya menatap kamera dengan mata yang dalam. “Saya berharap, ketika penonton menonton serial ini, mereka tidak hanya melihat saya sebagai aktris, tetapi merasakan bahwa ada hati yang berdetak di dalam setiap adegan,” pungkasnya. Dan dari cara ia bercerita, tidak ada keraguan bahwa ia telah memberikan segalanya—dengan air mata, keringat, dan mimpi yang ia kejar tanpa henti.
Comments (0)