Aug 25, 2026
entertainment

Sintya Marisca Menyelami Jiwa Detektif demi My Chef in Crime

Di sebuah ruangan hotel yang remang-remang di kawasan Jakarta Selatan, Sintya Marisca duduk dengan mata berbinar. Hari itu, ia baru saja selesai menjalani sesi wawancara untuk serial terbarunya, My Ch...

Sintya Marisca Menyelami Jiwa Detektif demi My Chef in Crime

Di sebuah ruangan hotel yang remang-remang di kawasan Jakarta Selatan, Sintya Marisca duduk dengan mata berbinar. Hari itu, ia baru saja selesai menjalani sesi wawancara untuk serial terbarunya, My Chef in Crime. Namun, yang membuat momen itu terasa berbeda bukanlah sorot kamera atau deretan mikrofon yang menghadapnya. Melainkan cerita tentang perjalanan batinnya yang panjang—sebuah proses yang mengubah cara pandangnya terhadap profesi detektif.

Perempuan berusia 27 tahun itu mengaku tidak ingin setengah-setengah dalam memerankan karakter detektif bernama Laras. Baginya, menjadi seorang detektif bukan sekadar mengenakan jas hujan panjang dan berjalan tegap di lokasi kejadian. Lebih dari itu, ada beban emosional dan tanggung jawab moral yang harus ia pahami. “Aku ingin penonton merasakan bahwa Laras itu hidup, bukan sekadar karakter di atas kertas,” ujarnya pelan, dengan nada yang penuh perenungan.

Riset Mendalam: Menyusuri Gaya Bicara Polisi Asli

Untuk mencapai totalitas itu, Sintya melakukan riset yang tidak main-main. Ia menghabiskan waktu berhari-hari untuk berdiskusi dengan sejumlah polisi aktif yang bertugas di Polda Metro Jaya. Dari mereka, ia belajar banyak hal yang tidak pernah diajarkan di bangku sekolah akting—mulai dari cara menahan napas saat menanyai saksi, hingga bagaimana mengatur jeda bicara agar terkesan tegas namun tidak menakutkan.

“Ternyata, cara bicara polisi itu punya ritme sendiri. Mereka tidak langsung melontarkan pertanyaan, tapi ada proses membaca situasi terlebih dahulu. Itu yang coba aku tiru,” jelasnya sambil menirukan gestur tangan yang khas. Ia juga mengaku sempat mengikuti simulasi olah tempat kejadian perkara (TKP) di sebuah lokasi kosong yang disulap menjadi ruang interogasi. Di sana, ia belajar bagaimana mengendalikan emosi ketika berhadapan dengan tersangka yang penuh teka-teki.

Perjalanan riset ini bukanlah hal yang mudah. Sintya mengisahkan bahwa ia sempat merasa kewalahan dan ragu apakah dirinya mampu menangkap esensi seorang detektif sejati. Namun, setiap kali rasa ragu itu datang, ia selalu mengingat pesan dari sutradaranya: “Jangan takut gagal, takutlah berhenti mencoba.” Kalimat sederhana itu menjadi penyemangat yang membawanya melewati malam-malam panjang di lokasi syuting.

Di Balik Layar: Momen Mengharukan di Lokasi Syuting

Di balik layar, ada banyak momen mengharukan yang tidak pernah terlihat oleh penonton. Salah satunya adalah ketika Sintya harus syuting adegan menangis setelah mengetahui bahwa tersangka yang ia kejar ternyata adalah orang yang pernah ia percaya. Dalam adegan itu, kamera menyorot wajahnya dari dekat. Air mata mengalir deras tanpa perlu perintah dari sutradara. “Saat itu, aku benar-benar merasakan sakitnya Laras. Aku tidak sedang berakting, aku sedang hidup di dalam dirinya,” kenangnya dengan suara bergetar.

Momen lain yang tak kalah menyentuh adalah ketika ia harus berinteraksi dengan seorang anak kecil yang menjadi saksi kunci dalam kasus pembunuhan. Sintya mengaku bahwa ia sempat kesulitan membangun kedekatan dengan anak tersebut. Namun, setelah beberapa hari bermain dan bercerita di sela-sela syuting, anak itu akhirnya memanggilnya “Kak Detektif” dengan tawa ceria. “Itu momen yang sangat sederhana, tapi buatku itu adalah kemenangan kecil yang luar biasa,” katanya sambil tersenyum.

Perjalanan Mimpi dan Inspirasi bagi Penonton

Bagi Sintya, My Chef in Crime bukan sekadar proyek komersial. Ia ingin kisah Laras menjadi inspirasi bagi banyak orang, terutama perempuan muda yang bermimpi berkarier di dunia yang didominasi laki-laki. “Aku ingin mereka tahu bahwa menjadi kuat bukan berarti tidak pernah merasa takut. Justru, keberanian itu lahir dari ketakutan yang kita hadapi setiap hari,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.

Ia juga berbagi tentang perjuangannya selama proses syuting yang berlangsung selama tiga bulan. Ada banyak hari di mana ia harus bangun pukul tiga pagi untuk tiba di lokasi sebelum matahari terbit. Ada pula malam-malam ketika ia harus mengulang adegan yang sama puluhan kali karena detail ekspresi yang belum pas. Namun, semua kelelahan itu terbayar lunas ketika ia melihat reaksi positif dari para kru dan sutradara saat menonton hasil akhirnya.

“Aku ingin penonton merasakan bahwa setiap perjuangan, sekecil apa pun, selalu meninggalkan jejak yang berarti. Dan untuk Laras, jejak itu adalah keberanian untuk bangkit kembali.”

Kini, Sintya berharap penonton dapat menikmati My Chef in Crime bukan hanya sebagai tontonan hiburan, melainkan juga sebagai cermin kehidupan. Ia ingin kisah Laras mengingatkan kita semua bahwa di balik setiap kasus yang rumit, selalu ada sisi manusiawi yang layak untuk dipahami. “Kita tidak pernah tahu perjuangan apa yang dialami orang lain. Jadi, mari kita saling mendengarkan, saling memahami, dan saling menguatkan,” pesannya di akhir perbincangan.

Perjalanan Sintya Marisca dalam memerankan detektif Laras adalah bukti bahwa totalitas dan ketulusan selalu menghasilkan karya yang menyentuh. Di balik layar, ada ribuan jam latihan, air mata, dan tawa yang ia lalui dengan sepenuh hati. Dan ketika penonton menyaksikan Laras di layar kaca, mereka tidak hanya melihat seorang aktris, melainkan seorang perempuan yang berani bermimpi dan berjuang untuk mewujudkannya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS galih-pratama

Editor Teknologi. Mantan software engineer. Meliput AI, cloud, dan transformasi digital.

Comments (0)

User