Aug 25, 2026
entertainment

Sepiring Ketan Susu, Sejuta Kenangan Manis

Pukul tiga dini hari, dapur mungil itu sudah mengepulkan uap hangat. Di sudut ruangan, seorang perempuan paruh baya sibuk mengaduk beras ketan di atas kompor kecil. Namanya Bu Lastri, 52 tahun, pemili...

Sepiring Ketan Susu, Sejuta Kenangan Manis

Pukul tiga dini hari, dapur mungil itu sudah mengepulkan uap hangat. Di sudut ruangan, seorang perempuan paruh baya sibuk mengaduk beras ketan di atas kompor kecil. Namanya Bu Lastri, 52 tahun, pemilik warung ketan susu legendaris di pinggir jalan kota kecil di Jawa Tengah.

Dapur Kecil yang Tak Pernah Sepi

Di dapur berukuran 3x4 meter itu, setiap butir ketan adalah doa. Tangan Bu Lastri cekatan meniriskan ketan yang telah dikukus setengah matang, lalu mencampurnya dengan santan kental yang baru saja diperas dari kelapa parut pilihan. “Kunci ketan enak itu bukan cuma bahan, tapi perasaan waktu masak,” ucapnya lirih, sambil terus mengaduk tanpa henti. “Kalau hati lagi gundah, rasanya beda. Pelanggan tahu. Jadi saya selalu berusaha tenang, ingat ibu dulu.”

Warungnya memang tak mewah. Meja kayu panjang, bangku-bangku sederhana, dan selembar spanduk lusuh bertuliskan “Ketan Susu Bu Lastri”. Tapi setiap pagi, antrean selalu mengular. Dari pekerja kantoran, mahasiswa, hingga ojek online, semua rela menunggu demi sepiring ketan pulen yang disiram susu kental manis dan taburan kelapa parut.

Resep Warisan dari Dapur Ibu

Bu Lastri mengisahkan, resep ini adalah warisan dari ibunya, Mbah Suti, yang dulu berjualan ketan susu keliling menggunakan pikulan bambu pada era 1970-an. “Ibu saya itu buta huruf, tapi soal rasa dia jagonya. Dia tidak pernah menakar dengan sendok, selalu pakai perasaan,” kenang Bu Lastri, matanya berkaca-kaca. “Dulu saya sering dibangunkan tengah malam, disuruh bantu mengukus. Awalnya saya protes. Tapi sekarang, aroma ketan mengukus itu justru yang paling saya rindukan.”

Perjalanan Bu Lastri tidak mulus. Pada 2008, sang ibu wafat, dan warung nyaris tutup karena ia harus merawat suami yang sakit stroke. Simpanan habis, rumah nyaris disita. Dalam keputusasaan, ia kembali membuka warung ketan susu sebagai satu-satunya cara bertahan hidup. “Saya hanya ingat pesan ibu: ‘Selama ada yang lapar dan kamu bisa masak, Tuhan tidak akan menelantarkanmu.’ Kalimat itu yang bikin saya bangkit,” ujarnya.

Kini, warung itu bukan sekadar sumber nafkah, melainkan semacam monumen hidup untuk ibunya. Setiap piring yang disajikan masih menggunakan cara yang sama: ketan putih yang dimasak dengan api kecil selama dua jam, santan kental yang dimasak tanpa pengawet, dan susu kental manis yang disiramkan sesaat sebelum disantap agar teksturnya tetap legit.

“Selama ada yang lapar dan kamu bisa masak, Tuhan tidak akan menelantarkanmu.”

Dari Pasar Tradisional ke Media Sosial

Angin segar datang pada 2023 ketika seorang pelanggan mengunggah foto sepiring ketan susunya di media sosial. Dalam semalam, unggahan itu viral. Warung kecilnya mendadak diserbu anak muda yang penasaran. “Saya sampai pusing, stok habis sebelum jam delapan pagi. Tapi saya senang, artinya makin banyak yang mengenang cita rasa tempo dulu,” katanya tersenyum.

Meski kini namanya ramai diperbincangkan, Bu Lastri tetap memilih untuk tidak ekspansi berlebihan. Ia hanya menambah porsi harian dari 200 piring menjadi 350 piring. “Saya takut kalau sudah pabrikan, rasanya hilang. Saya ingin setiap piring tetap terasa seperti buatan tangan ibu saya dulu,” tegasnya.

Salah satu pelanggan setianya, Andi (28), mengaku ketan susu Bu Lastri mengingatkannya pada kampung halaman. “Setiap gigit, saya seperti pulang ke rumah nenek. Ada rasa nostalgia yang tidak bisa dijelaskan,” tuturnya. Pernyataan serupa datang dari Mira (35), yang sengaja datang dari luar kota setiap akhir pekan. “Ini bukan sekadar jajan. Ini terapi. Kalau lagi stres, saya ke sini, pesan dua piring, duduk santai. Pulang-pulang hati jadi adem.”

Ketan susu Bu Lastri memang menawarkan lebih dari sekadar rasa gurih dan pulen. Ia menyajikan ingatan kolektif, pelukan dalam wujud makanan, dan bukti bahwa kesederhanaan bisa menjadi sumber kebahagiaan yang tulus. Di balik setiap suapan, ada perjuangan seorang anak yang menjaga warisan ibunya tetap hidup, menolak menyerah meski badai hidup datang bertubi-tubi.

Kini, ketika matahari mulai muncul di ufuk timur, warung kecil itu kembali riuh oleh tawa dan sendok yang beradu dengan piring. Bu Lastri, dengan celemek lusuhnya, tetap berdiri di balik meja, menyendokkan ketan, menyiram susu, dan melemparkan senyuman sederhana yang seakan berkata: semua akan baik-baik saja.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User