Aug 25, 2026
entertainment

Sepiring Asinan Betawi, Warisan Rasa yang Dirawat dengan Cinta

Pukul empat pagi, ketika sebagian besar warga Jakarta masih terlelap, dapur mungil berukuran tiga kali empat meter di bilangan Kramat Sentiong itu sudah bernyawa. Tangan keriput Mak Sari, 67 tahun, li...

Sepiring Asinan Betawi, Warisan Rasa yang Dirawat dengan Cinta

Pukul empat pagi, ketika sebagian besar warga Jakarta masih terlelap, dapur mungil berukuran tiga kali empat meter di bilangan Kramat Sentiong itu sudah bernyawa. Tangan keriput Mak Sari, 67 tahun, lincah mengiris mentimun, merajang kol, dan membersihkan tauge yang baru saja ia pilih sendiri di pasar. Aroma kacang tanah sangrai mengepul dari wajan tua, berpadu dengan wangi asam cuka yang menggelitik hidung. Di sinilah, sepiring asinan sayur Betawi yang melegenda itu lahir setiap hari—hidangan segar yang telah menemani ribuan pelanggan selama hampir empat dekade.

Bagi Mak Sari, asinan bukan sekadar makanan. Ia adalah saksi bisu perjalanan hidup seorang perempuan yang pernah kehilangan hampir segalanya, lalu bangkit dengan kedua tangannya sendiri.

Berawal dari Gerobak Butut dan Tekad yang Membara

Mak Sari mengisahkan, tahun 1985 adalah titik terberat dalam hidupnya. Suaminya wafat mendadak, meninggalkan tiga anak yang masih kecil. Tanpa ijazah tinggi dan keterampilan khusus, ia hanya memiliki satu bekal: resep asinan warisan ibunya, perempuan Betawi asli yang dulu berjualan di sekitar Pasar Senen.

“Waktu itu saya cuma punya gerobak butut dan tekad. Saya pikir, yang penting anak-anak bisa tetap sekolah. Asinan inilah yang menghidupi kami sampai sekarang,” kenang Mak Sari, sambil sesekali mengusap sudut matanya.

Hari-hari awal penuh perjuangan. Ia berkeliling dari satu gang ke gang lain, menawarkan dagangan di bawah terik matahari. Tak jarang, dagangannya tersisa banyak dan terpaksa dibagikan kepada tetangga agar tidak terbuang percuma. Namun ia pantang menyerah. Perlahan, rasa asinannya yang khas—segar, gurih, dengan sentuhan pedas manis yang pas—mulai dikenal dan dirindukan warga sekitar.

Rahasia Kesegaran yang Tak Pernah Berubah

Empat puluh tahun berlalu, resep itu tidak pernah berubah sedikit pun. Menurut Mak Sari, kunci asinan Betawi yang membuat orang selalu kembali terletak pada kesegaran bahan dan kesabaran meracik bumbu.

Sayurannya wajib segar: kol putih, tauge, mentimun, selada, dan wortel, dipadu tahu putih kukus serta kerupuk mi kuning yang renyah. Kuahnya diracik dari kacang tanah goreng yang ditumbuk halus, cabai merah keriting, gula merah, cuka, garam, dan sedikit asam Jawa. Semua diulek manual, bukan diblender, agar teksturnya tetap kasar dan aromanya keluar sempurna.

“Kalau bumbunya diulek pakai tangan, rasanya beda. Ada cintanya di situ. Pelanggan bisa merasakan,” ujarnya tersenyum.

Sentuhan terakhir adalah taburan kacang tanah goreng dan kerupuk merah di atasnya. Seporsi asinan segar pun siap disantap—manis, asam, pedas, dan gurih berpadu dalam satu suapan yang menyegarkan, apalagi dinikmati saat siang bolong Jakarta yang gerah.

Lebih dari Makanan, Ini Soal Kenangan dan Warisan

Di balik kesegarannya, asinan Mak Sari menyimpan banyak momen mengharukan. Ada pelanggan yang sejak kecil membeli dengan uang jajan pas-pasan, kini datang menggandeng anaknya sendiri. Ada pula perantau yang sengaja mampir setiap pulang kampung, hanya untuk mencicipi kembali rasa masa kecilnya.

Kini, ketiga anak Mak Sari telah berhasil menapaki hidup—satu menjadi guru, satu bekerja di bank, dan si bungsu memilih meneruskan usaha ibunya. Ratna, sang bungsu, berjuang memadukan resep warisan dengan sentuhan zaman: kemasan higienis, pemesanan lewat aplikasi, hingga sebuah cabang kecil di pusat jajanan.

“Ibu pernah bilang, resep ini bukan cuma soal makanan, tapi soal hidup kami. Saya ingin rasa ini tetap ada, bahkan setelah ibu tidak ada nanti,” tutur Ratna, matanya berkaca-kaca.

Sore itu, ketika matahari mulai condong ke barat, Mak Sari duduk di kursi kayu depan warungnya, memandangi antrean pelanggan yang tak pernah putus. Di tangannya, sepiring asinan tersaji sederhana namun penuh kisah. Tentang kehilangan, keteguhan, dan cinta yang diracik perlahan—hingga menjadi warisan rasa yang tak lekang oleh waktu.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS kartika-dewi

Reporter Cybersecurity. Fokus pada keamanan siber, privasi data, dan regulasi digital.

Comments (0)

User