Oct 10, 2026
entertainment

Sentuhan Lembut di Balik Bedak Tabur dan Kisah Perempuan Biasa

Pagi itu, di sebuah kamar kecil berukuran 3x4 meter di sudut Kota Yogyakarta, cahaya matahari menyusup pelan melalui celah gorden. Seorang perempuan duduk di depan cermin tua yang kerangkanya mulai be...

Sentuhan Lembut di Balik Bedak Tabur dan Kisah Perempuan Biasa

Pagi itu, di sebuah kamar kecil berukuran 3x4 meter di sudut Kota Yogyakarta, cahaya matahari menyusup pelan melalui celah gorden. Seorang perempuan duduk di depan cermin tua yang kerangkanya mulai berkarat. Di tangan kanannya, sebuah kuas besar berbulu halus ia pegang dengan hati-hati. Perlahan, ia mencelupkan kuas itu ke dalam wadah bedak tabur, lalu mengetuk-ngetuk gagangnya di tepi meja. Debu halus berterbangan, memantul di bawah sorot lampu kamar. Bagi banyak orang, ini momen biasa. Namun baginya, setiap taburan bedak adalah bagian dari ritual panjang yang ia jalani selama lebih dari sepuluh tahun.

Namanya tidak perlu disebut. Ia bukan selebritas, bukan model, bukan perempuan yang hidupnya dipenuhi sorotan kamera. Ia hanyalah seorang penjual kue basah di pasar tradisional yang setiap hari harus tampil rapi di hadapan pelanggan. Namun, di balik kesederhanaannya, tersimpan sebuah perjalanan yang menyentuh tentang bagaimana ia belajar mencintai dirinya sendiri.

"Dulu, saya tidak pernah berani bercermin lama-lama," ujarnya lirih, matanya menerawang. "Saya selalu merasa wajah saya tidak cukup. Tidak cukup putih, tidak cukup mulus, tidak cukup cantik. Bedak tabur ini dulu saya pakai bukan untuk mempercantik diri, tapi untuk menyembunyikan diri."

Kalimat itu keluar dengan getir. Ada luka lama yang belum sepenuhnya sembuh, tersimpan rapat di balik senyum yang ia tunjukkan kepada pelanggan setiap pagi. Ia mengisahkan bagaimana masa mudanya diwarnai cibiran tentang penampilan. Lingkungan sekitar, katanya, sering menjadikan kulit sebagai tolak ukur kecantikan. Ia pun tumbuh dengan rasa rendah diri yang mengakar.

Ketika Bedak Bukan Sekadar Alat Rias

Loose powder, atau bedak tabur, dalam pandangan banyak orang hanyalah produk kosmetik biasa. Fungsinya jelas: menyamarkan kilap minyak, menyempurnakan hasil foundation, dan memberikan sentuhan akhir yang lembut di wajah. Namun bagi perempuan ini, bedak tabur menjelma menjadi semacam pelindung. Ada masa ketika ia tak berani keluar rumah tanpa lapisan tipis di wajahnya.

"Kalau lupa pakai, rasanya seperti keluar rumah tanpa baju," kenangnya sambil tersenyum tipis. "Padahal cuma bedak. Tapi itulah yang membuat saya merasa aman."

Ia mengaku pernah menghabiskan uang yang seharusnya untuk kebutuhan dapur demi membeli bedak tabur merek mahal. Bukan karena ia boros, melainkan karena ia percaya bahwa hanya dengan cara itu ia bisa diterima. Setiap kali melihat wajahnya di cermin, ada bisikan halus yang mengatakan bahwa ia belum cukup. Belum cukup sebagai perempuan, belum cukup sebagai istri, belum cukup sebagai manusia.

Namun hidup punya cara sendiri untuk mengajarkan sesuatu. Bertahun-tahun kemudian, tepatnya ketika ia mulai berjualan kue di pasar, ia bertemu dengan banyak perempuan yang juga berjuang dengan rasa tidak percaya diri mereka masing-masing. Ada pedagang sayur yang menutupi bekas luka di pipinya dengan bedak tebal. Ada ibu rumah tangga yang datang pagi-pagi hanya untuk meminjam cermin dan memastikan riasannya tidak luntur. Ada pula perempuan muda yang menangis di sudut lapak karena merasa tidak cantik dibanding teman-temannya.

Dari mereka, ia belajar sesuatu yang tidak pernah diajarkan di bangku sekolah: bahwa kecantikan bukanlah soal lapisan tipis di atas kulit, melainkan soal bagaimana seseorang memandang dirinya.

Momen Mengharukan di Balik Meja Dagang

Suatu hari, seorang anak kecil mendekatinya. Usianya mungkin enam tahun. Anak itu menatap wajahnya dengan mata polos, lalu berkata, "Bu, wajahnya kayak bulan ya, bulat dan terang."

Kalimat sederhana itu, kata perempuan ini, membuat air matanya nyaris jatuh di tempat. Selama bertahun-tahun ia sibuk menutupi kekurangan, seorang anak kecil justru melihat keindahan yang tidak pernah ia sadari. Sejak hari itu, ia mulai mengurangi kebiasaannya memakai bedak berlebihan. Ia belajar keluar rumah tanpa rasa takut. Ia mulai menyapa pelanggan dengan lebih percaya diri.

"Saya masih suka pakai loose powder," ujarnya. "Tapi sekarang bukan untuk menyembunyikan diri. Saya pakai karena saya suka. Karena saya ingin merawat diri, bukan karena saya takut dilihat orang."

Ada perbedaan besar antara keduanya, dan ia butuh lebih dari satu dekade untuk menyadarinya. Dulu, bedak adalah tembok. Sekarang, bedak adalah cermin yang memantulkan penerimaan diri. Ia mengisahkan bagaimana ia kini rutin mengajak anak-anak muda di sekitar pasar untuk tidak terlalu keras pada diri sendiri. "Kalian cantik, cukup percaya saja," katanya sering menasihati mereka.

Dalam dunia yang terus mendikte standar kecantikan, kisah perempuan ini menjadi pengingat sederhana namun menyentuh. Bahwa di balik setiap taburan bedak tabur, ada cerita tentang perjuangan, tentang mimpi untuk bangkit dari rasa rendah diri, dan tentang mimpi bahwa setiap orang berhak merasa cukup. Bahwa yang paling penting bukanlah seberapa halus hasil akhir di wajah, melainkan seberapa hangat hati ketika menatap cermin. Karena pada akhirnya, kecantikan sejati tidak pernah benar-benar pudar—ia hanya menunggu untuk diakui.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS salsa-bintari

Reporter Startup. Meliput ekosistem startup Indonesia, venture capital, dan unicorn.

Comments (0)

User