Aug 25, 2026
entertainment

Selamat Jalan Nasirun: Goresan Terakhir Sang Maestro dari Cilacap

Di sudut sebuah studio sederhana di Yogyakarta, puluhan kuas masih berdiri diam di dalam kaleng bekas. Palet cat minyak yang biasanya penuh lumuran warna kini menyimpan sisa goresan yang tak sempat di...

Selamat Jalan Nasirun: Goresan Terakhir Sang Maestro dari Cilacap

Di sudut sebuah studio sederhana di Yogyakarta, puluhan kuas masih berdiri diam di dalam kaleng bekas. Palet cat minyak yang biasanya penuh lumuran warna kini menyimpan sisa goresan yang tak sempat diselesaikan. Tangan yang selama puluhan tahun menghidupkan kanvas-kanvas itu telah beristirahat untuk selamanya. Nasirun, pelukis besar kelahiran Cilacap, mengembuskan napas terakhirnya di kota yang membesarkan namanya.

Kabar kepergiannya menyebar cepat di kalangan perupa dan pecinta seni Tanah Air. Banyak yang tak percaya, sebab pria yang dikenal hangat dan bersahaja itu selama ini selalu menyapa kawan-kawannya dengan tawa khasnya. Namun takdir berkata lain. Sebelum berpulang, Nasirun sempat mengeluhkan rasa sakit di bagian dada — sebuah keluhan singkat yang tak disangka menjadi pertanda perpisahan.

Dari Pesisir Cilacap, Membawa Mimpi ke Yogyakarta

Kisah Nasirun adalah kisah tentang keberanian mengejar mimpi. Lahir dan besar di Cilacap, Jawa Tengah, ia tumbuh di tengah budaya pesisir yang kental dengan tradisi. Dari tanah kelahirannya itulah ia membekali diri dengan kecintaan pada wayang, cerita rakyat, dan dunia imajinasi yang kelak menjadi napas karya-karyanya.

Merantau ke Yogyakarta, ia menempa diri di kampus seni dan jatuh cinta pada kota itu hingga akhir hayatnya. Di sanalah ia berjuang dari nol — berpameran dari galeri ke galeri, bertahan di masa-masa sulit ketika lukisan belum dihargai sebagaimana mestinya. Perjalanan panjang itu perlahan membuahkan hasil: namanya kemudian dikenal sebagai salah satu pelukis paling khas yang pernah dimiliki Indonesia.

"Ia tidak pernah lupa dari mana ia berasal. Di setiap karyanya, selalu ada kerinduan pada kampung halaman, pada tradisi, pada cerita-cerita rakyat yang membesarkannya," ujar seorang sahabat sesama perupa dengan mata berkaca-kaca.

Goresan Ekspresif yang Bercerita

Bagi para penikmat seni, karya Nasirun mudah dikenali bahkan dari kejauhan. Figur-figur mirip wayang dengan mata besar dan kacamata, garis-garis tegas yang penuh energi, serta warna-warna berani menjadi tanda tangannya yang tak tertukar. Kanvasnya bukan sekadar lukisan — ia adalah panggung tempat tokoh-tokoh imajiner bercerita tentang manusia, kehidupan, dan kelucuan yang kadang menyimpan kepedihan.

Karya-karya ekspresifnya telah melanglang buana, dipamerkan di berbagai panggung seni rupa dalam dan luar negeri, serta menjadi buruan para kolektor. Namun di balik pencapaian itu, Nasirun tetaplah sosok sederhana yang lebih suka berbicara tentang proses ketimbang popularitas. Baginya, melukis adalah cara berdoa, cara mengisahkan dunia dengan bahasanya sendiri.

Keluhan Terakhir Sebelum Perpisahan

Tak ada yang menyangka perpisahan datang secepat ini. Menurut kerabat, sebelum wafat Nasirun sempat menyampaikan keluhan nyeri pada dadanya. Keluhan yang terdengar sepele itu rupanya menjadi momen mengharukan terakhir sebelum ia pergi meninggalkan orang-orang yang mencintainya.

"Semua terasa begitu cepat. Kami masih berharap ia kembali berdiri di depan kanvasnya, tapi Tuhan punya rencana lain," tutur seorang kerabat dekat, suaranya bergetar menahan air mata.

Kepergiannya menyisakan luka mendalam bagi keluarga, sahabat, dan dunia seni rupa Indonesia. Ucapan duka mengalir deras — dari para seniman, kolektor, hingga anak-anak muda yang mengagumi karyanya. Bagi mereka, Nasirun bukan sekadar pelukis, melainkan guru kehidupan yang mengajarkan ketekunan lewat goresan.

Pulang ke Rumah Para Seniman

Jenazah sang maestro rencananya akan dikebumikan di Taman Makam Seniman Giri Sapto, kompleks pemakaman yang diperuntukkan bagi para seniman dan budayawan di Yogyakarta. Di sanalah ia akan beristirahat bersama para maestro yang lebih dulu berpulang — sebuah peristirahatan yang layak bagi seseorang yang telah memberikan seumur hidupnya untuk seni.

Ada kesyahduan yang menyentuh dalam kepulangan ini. Seolah sang pelukis akhirnya kembali ke rumah yang sesungguhnya: di tengah komunitas yang ia cintai, di kota yang menjadi saksi perjuangannya bangkit dari seorang perantau asal Cilacap menjadi maestro yang dihormati.

Nasirun boleh pergi, tetapi kanvas-kanvasnya akan terus berbicara. Figur-figur bermata besar itu akan tetap menatap dunia, mengisahkan mimpi, tawa, dan air mata manusia — persis seperti yang selalu ia lakukan semasa hidupnya. Selamat jalan, maestro. Goresanmu abadi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS kartika-dewi

Reporter Cybersecurity. Fokus pada keamanan siber, privasi data, dan regulasi digital.

Comments (0)

User