Aug 25, 2026
entertainment

Segelas Air Putih, Cegukan, dan Keyakinan yang Diwariskan Turun-temurun

Pagi itu, di ruang tunggu sebuah kantor di bilangan Jakarta Selatan, Rani duduk dengan telapak tangan saling menggenggam erat. Ini hari yang ia nantikan sejak berbulan-bulan lalu: wawancara kerja di p...

Segelas Air Putih, Cegukan, dan Keyakinan yang Diwariskan Turun-temurun

Pagi itu, di ruang tunggu sebuah kantor di bilangan Jakarta Selatan, Rani duduk dengan telapak tangan saling menggenggam erat. Ini hari yang ia nantikan sejak berbulan-bulan lalu: wawancara kerja di perusahaan impiannya. Namun baru lima menit menunggu, tubuhnya mengkhianatinya. Hik. Suara kecil itu keluar begitu saja, lalu datang lagi, dan lagi. Cegukan.

Seorang ibu paruh baya yang duduk di sebelahnya menoleh, tersenyum, lalu menyodorkan botol minum. "Minum pelan-pelan, Nak. Sedikit-sedikit saja, tapi terus. Nanti juga hilang," katanya lembut, persis seperti nenek Rani dulu di dapur rumah mereka di Yogyakarta.

Rani menurut. Ia meneguk air perlahan, menahan napas sejenak di sela tegukan, dan entah karena airnya atau karena ketenangan yang ikut mengalir bersamanya, cegukan itu benar-benar berhenti. "Aneh ya," bisiknya kemudian, "hal sesederhana air putih bisa terasa seperti pertolongan pertama."

Warisan Sederhana dari Dapur ke Dapur

Hampir setiap keluarga di Indonesia punya versinya masing-masing soal cara mengusir cegukan. Ada yang menyarankan menahan napas sepuluh detik, ada yang bersikeras menelan gula pasir, ada pula yang mengagetkan si penderita dari belakang. Namun dari semua jurus itu, minum air putih adalah yang paling sering diwariskan — dari nenek ke ibu, dari ibu ke anak, dari anak ke cucu.

Keyakinan ini bukan tanpa alasan. Air putih mudah didapat, aman untuk hampir semua orang, dan tidak menuntut apa-apa selain sedikit kesabaran. Di banyak rumah, segelas air bahkan menjadi semacam bahasa kasih: ketika seseorang cegukan, anggota keluarga lain refleks berdiri mengambilkan air, seolah berkata, aku di sini, aku peduli.

"Di rumah saya, cegukan itu seperti alarm kebersamaan," tutur Rani mengenang. "Siapa pun yang cegukan, pasti ada yang buru-buru ke dapur. Sekarang saya sadar, yang menyembuhkan mungkin bukan cuma airnya, tapi juga perasaan diperhatikan."

Apa yang Sebenarnya Terjadi di Dalam Tubuh

Di balik keyakinan turun-temurun itu, ilmu kedokteran punya penjelasannya sendiri. Cegukan terjadi ketika diafragma — otot besar pemisah rongga dada dan perut yang berperan penting dalam pernapasan — berkontraksi secara tiba-tiba dan tak terkendali. Kontraksi mendadak ini membuat pita suara menutup seketika, dan lahirlah bunyi khas itu: hik.

Pemicunya bermacam-macam. Makan terlalu cepat, menelan udara berlebih, minuman bersoda, perubahan suhu mendadak di perut, hingga stres dan kegugupan — seperti yang dialami Rani sebelum wawancaranya — semua bisa membuat diafragma "tersentak".

Lalu mengapa air putih kerap berhasil? Para praktisi kesehatan menjelaskan bahwa meneguk air perlahan dan berulang kali merangsang ritme menelan yang teratur. Gerakan menelan ini melibatkan saraf yang sama jalurnya dengan saraf pengatur diafragma. Ketika ritme menelan kembali stabil, kejang diafragma pun ikut mereda. Teknik menahan napas bekerja dengan cara serupa: kadar karbon dioksida dalam darah naik sedikit, dan tubuh "melupakan" kejangnya.

Dengan kata lain, nenek-nenek kita mungkin tidak pernah membaca buku anatomi, tetapi pengamatan mereka selama puluhan tahun ternyata berjalan seiring dengan sains.

Kapan Cegukan Perlu Diwaspadai

Meski umumnya tidak berbahaya dan hilang dalam hitungan menit, cegukan kadang bertahan lebih lama dari seharusnya. Jika cegukan berlangsung lebih dari 48 jam, mengganggu makan dan tidur, atau disertai gejala lain seperti nyeri dada, sesak napas, dan muntah, itulah saatnya memeriksakan diri ke dokter. Cegukan menahun bisa menjadi tanda gangguan pada saraf, saluran pencernaan, hingga kondisi yang lebih serius.

Namun untuk cegukan sehari-hari, langkah sederhana biasanya cukup: minum air putih dingin dengan tegukan kecil yang berkesinambungan, menahan napas sebentar, bernapas dalam kantong kertas, atau berkumur perlahan. Kuncinya satu — jangan panik, karena ketegangan justru bisa memperpanjang kejang.

Lebih dari Sekadar Segelas Air

Di penghujung hari itu, Rani lolos ke tahap wawancara berikutnya. Ia tidak tahu pasti apakah cegukannya berhenti karena air, karena napas yang ia tahan, atau karena senyum ibu asing di ruang tunggu itu. Yang ia tahu, pengalaman kecil tersebut meninggalkan sesuatu yang hangat di dadanya.

"Sekarang kalau lihat orang cegukan, saya yang menawarkan air," katanya sambil tertawa. "Rasanya seperti meneruskan pesan berantai kebaikan."

Barangkali itulah pelajaran terindah dari hal-hal sederhana. Segelas air putih bukan sekadar penawar cegukan, melainkan pengingat bahwa tubuh kita butuh jeda, bahwa kepanikan bisa diredakan dengan napas yang tenang, dan bahwa kepedulian kecil dari sesama manusia sering kali menjadi obat yang paling mujarab. Di tengah hidup yang serba cepat, kadang yang kita perlukan hanyalah berhenti sejenak, meneguk air perlahan, dan membiarkan diri ditenangkan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS eko-saputra

Reporter Gadget. Review smartphone, laptop, dan consumer tech.

Comments (0)

User