Di salah satu sudut Hall B JIExpo Kemayoran, Jakarta, seorang pemuda berdiri termangu di depan kostum Iron Man berukuran manusia. Matanya berkaca-kaca, bukan karena karakter superhero itu, melainkan karena ia mengenang sepuluh tahun lalu ketika pertama kali datang ke acara ini sebagai anak SMP yang menabung uang jajan demi membeli tiket. "Dulu saya cuma bisa lihat dari jauh. Sekarang saya bawa karya sendiri," katanya pelan, hampir tak terdengar di tengah riuhnya pengunjung, Sabtu (3/10).
Pemandangan semacam itu bukan hal langka di Indonesia Comic Con (ICC) 2026. Ajang yang telah memasuki satu dekade penyelenggaraan ini bukan lagi sekadar pameran komik dan budaya pop. Ia telah menjelma menjadi semacam rumah bagi ribuan orang yang datang membawa kisah, mimpi, dan perjuangan masing-masing.
Ketika Kostum Bukan Sekadar Kostum
Di area cosplay, seorang perempuan paruh baya duduk di bangku lipat sambil merapikan sayap buatan dari kertas dan kain flanel. Namanya tidak ingin disebutkan, tetapi ceritanya mengisahkan perjalanan panjang. Ia mulai membuat kostum untuk anaknya yang kini telah kuliah di luar kota. "Anak saya dulu yang ajak. Sekarang dia sibuk, saya tetap datang. Rasanya seperti menjaga janji," ujarnya sambil tersenyum tipis.
Di sekelilingnya, puluhan cosplayer lain berfoto, berpelukan, dan bertukar cerita. Ada yang datang dari Surabaya, ada pula yang menempuh perjalanan dari Makassar hanya demi tiga hari berkumpul bersama komunitas. Bagi mereka, ICC bukan tentang menang lomba atau mendapat sorotan kamera. Ia tentang diterima.
Perjalanan Sepuluh Tahun yang Tak Selalu Mulus
Mengisahkan perjalanan satu dekade, penyelenggaraan ICC tidak selalu berjalan mulus. Ada masa ketika pandemi memaksa acara digelar terbatas, ada pula tahun-tahun ketika animo pengunjung menurun. Namun semangat komunitas justru menjadi bahan bakar yang membuat acara ini bertahan.
Seorang pengrajin mainan kayu yang telah berjualan sejak edisi pertama bercerita bahwa ia sempat hampir menutup lapaknya. "Tahun itu sepi sekali. Saya pikir sudah selesai. Tapi ada anak muda datang, bilang dia beli mainan saya waktu kecil dan sekarang mau koleksi lagi. Air mata saya jatuh," tuturnya.
Inspirasi yang Tumbuh dari Lorong-lorong Pameran
Di lorong antara stan komik lokal dan panggung utama, seorang ilustrator muda menunjukkan buku sketsanya kepada pengunjung. Ia mengaku pertama kali menginjak ICC sebagai pengunjung biasa, lalu memberanikan diri membawa portofolio. Kini karyanya telah diterbitkan.
"Di sini saya belajar bahwa mimpi itu tidak harus besar dulu. Cukup datang, lihat, dan berani tunjukkan," katanya.
Menjelang senja, lampu-lampu stan mulai dinyalakan. Pengunjung masih memadati setiap sudut. Ada yang menangis haru saat bertemu idola, ada yang tertawa lepas bersama teman baru. Di balik gemerlapnya, ICC 2026 menyimpan sesuatu yang sederhana namun menyentuh: sebuah ruang di mana orang-orang biasa berjuang untuk diakui, dan pada akhirnya menemukan tempat pulang.
Comments (0)