Di sudut ruangan berukuran 3x4 meter itu, Rani duduk menghadap cermin kecil yang disandarkan ke dinding. Sebuah kursi plastik, handuk putih yang sudah sedikit pudar, dan botol-botol perawatan yang tertata rapi di atas meja lipat. Bukan salon mewah dengan aroma kopi dan musik jazz. Tapi di sinilah, setiap Sabtu pagi, ia menemukan kembali dirinya.
"Dulu saya pikir self-care itu harus mahal, harus ke salon bagus, harus ditemani teman. Ternyata yang saya butuhkan cuma waktu untuk diri sendiri," ujarnya lirih, sembari mengoleskan masker ke wajahnya. Momen sederhana itu menjadi semacam ritual yang menyelamatkannya dari kejenuhan panjang selama pandemi.
Cerita Rani bukan kisah tunggal. Di berbagai kota, banyak orang mulai melirik kembali perawatan diri yang dilakukan di rumah. Bukan karena malas keluar, melainkan karena mereka merindukan sentuhan personal yang selama ini luput dari rutinitas. Pandemi, dengan segala pembatasannya, justru memaksa orang untuk berhenti sejenak dan menatap cermin lebih lama dari biasanya.
Ketika Stres Mengetuk Pintu
Dr. Anita Wijaya, seorang psikolog klinis yang mendampingi klien selama masa pandemi, mengisahkan bahwa keluhan yang paling sering muncul bukan soal virus itu sendiri, melainkan kelelahan emosional yang menumpuk. "Banyak orang merasa bersalah ketika ingin merawat diri. Padahal, itu bukan kemewahan, itu kebutuhan," tuturnya.
Ia menjelaskan bahwa aktivitas seperti merawat rambut, memijat wajah, atau sekadar berendam air hangat dapat menurunkan kadar kortisol, hormon stres yang membuat tubuh dan pikiran tegang. "Ketika tangan menyentuh wajah dengan lembut, otak melepaskan oksitosin. Itu momen mengharukan secara biologis. Tubuh seolah berkata, kamu aman," tambahnya.
Rani merasakan betul hal itu. Ia bercerita, puncak kelelahan datang ketika harus bekerja dari rumah sambil mengurus dua anak yang sekolah daring. "Saya sampai lupa kapan terakhir kali menyisir rambut dengan benar. Rasanya seperti robot," kenangnya. Hingga suatu malam, ia menangis di kamar mandi. Air mata itu menjadi titik balik.
Esoknya, ia memutuskan membuat "salon kecil" di rumah. Ia mengumpulkan sisa-sisa produk perawatan yang lama tak tersentuh, menyalakan lilin aromaterapi, dan mulai merawat dirinya selama tiga puluh menit setiap pekan. "Suami saya bingung. Tapi saya bilang, ini bukan soal cantik. Ini soal waras," ujarnya sambil tersenyum getir.
Merangkai Perawatan dari Hal Sederhana
Perjalanan Rani mengajarkan bahwa salon di rumah tidak menuntut peralatan mahal. Ia memulai dari hal-hal paling dasar: mencuci rambut dengan pijatan lembut, memakai masker dari bahan dapur seperti madu dan yogurt, lalu merendam kaki dengan air garam hangat. "Kedengarannya sepele. Tapi ketika saya lakukan dengan niat, rasanya seperti pergi ke tempat yang jauh," kisahnya.
Ia juga belajar membuat scrub dari ampas kopi. Aromanya mengingatkannya pada kedai kopi favorit yang dulu sering ia kunjungi sebelum pandemi. "Saya menutup mata, menghirup aromanya, dan seolah-olah saya sedang duduk di sana. Imajinasi itu menyembuhkan," ucapnya penuh haru.
Hal serupa dilakukan Dimas, seorang karyawan swasta yang tinggal sendiri di apartemen kecil. Ia mengaku awalnya ragu. "Cowok perawatan wajah? Dulu saya mikir itu tabu. Tapi rambut saya rontok karena stres, kulit saya kusam. Saya sadar, tidak ada yang akan merawat saya selain diri saya sendiri," katanya.
Dimas mulai rutin memijat kulit kepala dengan minyak kelapa sebelum tidur. Ia juga belajar mencukur dengan lebih teliti, bukan sekadar asal jadi. "Ada kepuasan tersendiri ketika saya melihat hasilnya di cermin. Bukan karena saya jadi ganteng, tapi karena saya menghargai diri saya," ujarnya sambil tertawa kecil.
Bangkit dari Keterpurukan
Kisah-kisah kecil ini menunjukkan bahwa perawatan diri bukan sekadar urusan penampilan. Ia adalah bentuk perlawanan halus terhadap kekacauan yang tak terkendali. Pandemi merenggut banyak hal: rencana, pekerjaan, bahkan orang-orang terdekat. Namun di ruang sempit dengan cermin retak, orang-orang seperti Rani dan Dimas menemukan kembali kendali atas hidup mereka.
"Yang paling menyentuh adalah ketika klien saya bilang, 'Dok, saya akhirnya bisa tersenyum lagi saat melihat wajah saya sendiri.' Itu bukan soal krim atau serum. Itu soal penerimaan," ujar Dr. Anita.
Rani kini menjadikan Sabtu pagi sebagai waktu sakral. Anak-anaknya sudah paham, jangan ganggu ibu selama satu jam. "Mereka kadang ikut duduk, minta masker juga. Jadi momen lucu dan hangat," kenangnya. Ia berharap lebih banyak orang tidak menunda merawat diri karena merasa tidak pantas.
"Kalau bukan sekarang, kapan? Kalau bukan kita, siapa?" katanya menutup percakapan. Kalimat itu menggantung di udara, sederhana namun menggema. Di tengah dunia yang serba tak pasti, salon kecil di rumah mungkin bukan solusi besar. Tapi ia cukup untuk membuat seseorang bangkit, satu pijatan lembut pada satu waktu.
Comments (0)