Di sudut ruangan berukuran 3x4 meter itu, Ryan Goutama berlutut di lantai keramik yang dingin, memilah setumpuk buku bekas hasil sumbangan warga. Lampu neon putih di langit-langit menyorot debu-debu kecil yang menari di udara, seolah ikut menyaksikan ritual harian yang telah ia jalani selama tiga tahun terakhir. Tangan kanannya yang berdarah dingin menggenggam spidol hitam, menulis nama-nama anak di kardus pengiriman dengan tulisan tangan yang rapi. Pukul dua dini hari, ketika kota sudah tertidur lelap, momen mengharukan itu kembali terulang—seorang pemuda berusia 28 tahun yang memilih berjuang di balik layar demi menyalakan mimpi anak-anak di pelosok kampung.
Perjalanan yang Dimulai dari Luka
Kisah Ryan tidak selalu berwarna. Tiga tahun lalu, ia berada di titik terendah dalam hidupnya. Kehilangan pekerjaan di tengah pandemi dan ditinggal sang ibu karena sakit membuat dunianya seperti runtuh seketika. "Saya ingat malam itu, saya duduk sendirian di teras rumah, menatap langit gelap dan bertanya pada diri sendiri, apa yang masih bisa saya berikan pada dunia ini," ujar Ryan, suaranya bergetar saat mengenang kembali masa-masa kelam tersebut. Air mata sempat menetes, namun justru di situlah benih inspirasi pertama kali tumbuh.
Dari rasa kehilangan yang mendalam, Ryan mulai menyadari bahwa kesedihan terbesarnya adalah tidak bisa membaca buku terakhir bersama ibu. Dari situ, lahir sebuah tekad sederhana: ia ingin memastikan tidak ada anak yang kehilangan kesempatan membaca karena tidak punya buku. Tanpa dana besar, tanpa relasi, Ryan memulai perjalanannya dengan mengumpulkan buku-buku bekas dari tetangga sekitar rumahnya di Jakarta Selatan. Satu per satu, buku itu dikumpulkan, dipilah, dan dikirim ke daerah-daerah terpencil di Nusa Tenggara dan Kalimantan.
Di Balik Layar Setiap Senyuman
Tidak banyak yang tahu betapa beratnya perjuangan yang dijalani Ryan di balik layar. Setiap paket buku yang tiba di tangan anak-anak adalah hasil dari ratusan jam kerja keras yang jarang terekspos. Pagi hari, ia bekerja sebagai kurir paket untuk biaya operasional pengiriman buku. Sore hingga malam, ia mengurus administrasi, membalas pesan dari relawan di desa-desa, dan memastikan setiap buku layak baca sebelum dikemas.
"Saya sering pulang dengan punggung terasa remuk. Tapi begitu melihat foto anak-anak memeluk buku pertama mereka, semua lelah itu sirna. Itu adalah momen mengharukan yang tidak bisa dibeli dengan apa pun."
Ryan bercerita bahwa ada kalanya ia hanya makan sekali sehari demi menghemat uang untuk ongkos kirim. Namun, justru dalam keterbatasan itulah ia menemukan makna sesungguhnya dari berbagi. "Kita tidak perlu menjadi kaya untuk memberi. Kadang, yang paling menyentuh hati justru datang dari tindakan paling sederhana," tuturnya. Kini, melalui inisiatif yang ia bangun dari nol, lebih dari lima ribu buku telah berhasil ia salurkan ke 37 titik di seluruh Indonesia.
Bangkit untuk Menerangi yang Lain
Dari kamar kecilnya, Ryan kini mulai melangkah lebih jauh. Ia membentuk komunitas relawan yang menyebar di berbagai kota, mengajak anak muda lain untuk ikut menyumbangkan waktu dan buku. Bagi Ryan, proses ini bukan hanya soal pengiriman buku, tetapi juga tentang membangun jembatan empati antarmanusia. "Setiap kali kita membantu seseorang bangkit dari keterbatasannya, kita sebenarnya juga sedang menyembuhkan diri sendiri," ujarnya dengan lembut.
Momen-momen kecil itulah yang kini menjadi bahan bakar baginya untuk terus melangkah. Ia tidak berencana berhenti, bahkan ketika tangan yang memegang spidol mulai kerap terasa kaku dan mata yang terbiasa begadang sering merasa perih. Bagi Ryan, mimpi yang paling indah adalah mimpi yang dibagikan. Dan di balik setiap buku yang terkirim, tersimpan kisah tentang seorang pemuda biasa yang memilih untuk tetap peduli, membuktikan bahwa kebaikan sejati selalu bermula dari hati yang berani menderita demi senyuman orang lain.
Comments (0)