Di sebuah ruang kasting yang tidak istimewa, seorang remaja lelaki duduk dengan gugup. Naskah di tangannya sudah lecek, tanda dibaca berulang kali. Di luar, namanya mungkin belum banyak dikenal. Namun di dalam ruangan itu, ia membawa sesuatu yang lebih berharga dari popularitas: keberanian untuk bermimpi. Roman King, aktor muda yang kini dipercaya memerankan tokoh Zafran dalam film 5CM: Revolusi Hati, mengisahkan perjalanannya menuju layar lebar dengan mata yang berbinar.
Bagi Roman, mendapatkan peran ini bukan sekadar pencapaian karier. Ini adalah momen mengharukan yang membawanya kembali pada kenangan masa kecil, ketika ia duduk di bangku sekolah dan membaca novel 5CM karya Donny Dhirgantoro untuk pertama kalinya. "Aku masih ingat bagaimana cerita itu membuatku ingin mendaki gunung, ingin memiliki sahabat seperti mereka," tuturnya dengan suara pelan, seolah sedang membuka lembaran album lama.
Dari Halaman Buku ke Layar Lebar
Tokoh Zafran dalam cerita 5CM bukanlah karakter yang mudah. Ia adalah sosok yang keras kepala, penuh prinsip, namun menyimpan luka yang dalam. Roman mengaku butuh waktu berbulan-bulan untuk benar-benar memahami isi hati Zafran. Ia membaca ulang novelnya, menonton film versi sebelumnya, dan berbicara dengan banyak orang untuk menangkap nuansa karakter tersebut. "Zafran itu bukan cuma cowok pemberontak. Dia sedang berjuang melawan dirinya sendiri," ujarnya. "Aku ingin penonton merasakan itu, bukan cuma melihatnya."
Proses syuting membawa Roman ke berbagai lokasi, dari kota hingga alam terbuka. Ada hari-hari ketika ia harus berdiri di bawah terik matahari selama berjam-jam, atau basah kuyup karena adegan hujan. Namun di balik layar, ada cerita-cerita kecil yang justru menjadi kenangan paling menyentuh. Ia bercerita tentang kru yang berbagi jaket saat cuaca dingin, tentang sutradara yang selalu menyempatkan bertanya kabar, dan tentang malam-malam panjang yang diisi dengan diskusi tentang makna persahabatan.
"Aku belajar bahwa film ini bukan tentang siapa yang paling kuat, tapi tentang siapa yang mau tetap tinggal ketika semuanya sulit."
Air Mata dan Pelukan di Balik Layar
Salah satu momen paling mengharukan bagi Roman terjadi saat adegan puncak. Adegan itu menuntut ia menumpahkan emosi yang sudah lama dipendam. Setelah sutradara berteriak "cut", seluruh ruangan hening. Roman masih meneteskan air mata. Beberapa kru mendekat, memeluknya tanpa banyak bicara. "Momen itu sederhana, tapi aku merasa diterima. Bukan cuma sebagai aktor, tapi sebagai manusia," kisahnya.
Ia juga menyebut peran keluarganya sebagai penopang utama. Ibunya, kata Roman, selalu mengirim pesan singkat sebelum ia berangkat syuting. Pesan itu sederhana: "Semangat, nak. Mama bangga." Bagi Roman, kalimat itu lebih kuat dari tepuk tangan mana pun. "Aku berjuang bukan buat jadi terkenal. Aku berjuang supaya orang-orang yang percaya padaku tidak kecewa," ucapnya lirih.
Inspirasi bagi Generasi Muda
Perjalanan Roman King menjadi Zafran adalah kisah tentang mimpi yang tidak datang dalam semalam. Ia pernah ditolak di beberapa audisi, pernah merasa tidak cukup baik, dan pernah hampir menyerah. Namun ia memilih bangkit. "Setiap penolakan itu bukan tanda berhenti. Itu tanda kita harus belajar lagi," katanya memberi semangat.
Kini, menjelang perilisan 5CM: Revolusi Hati, Roman berharap kisah ini bisa menyentuh hati penonton dengan cara yang sama seperti buku itu menyentuh hatinya dulu. Ia ingin remaja di luar sana melihat bahwa keberanian bukan berarti tidak punya rasa takut. Keberanian adalah tetap melangkah meski takut. "Kalau ada satu pesan yang ingin aku sampaikan, itu adalah: jangan takut bermimpi besar, tapi jangan lupa berjuang untuk mimpi itu," tutupnya dengan senyum yang tulus. Di balik sosok Zafran yang keras, ada Roman King yang lembut, yang berjuang, dan yang percaya bahwa kisah sederhana tentang persahabatan bisa mengubah banyak hal.
Comments (0)