Oct 12, 2026
entertainment

Roman King dan Zafran: Perjalanan Remaja di Balik Layar 5CM

Di sebuah sudut ruangan yang dipenuhi cahaya lampu dan suara kamera yang sesekali berbunyi, seorang remaja berdiri dengan tatapan kosong. Bukan tatapan hampa, melainkan mata yang tengah menyelami pera...

Roman King dan Zafran: Perjalanan Remaja di Balik Layar 5CM

Di sebuah sudut ruangan yang dipenuhi cahaya lampu dan suara kamera yang sesekali berbunyi, seorang remaja berdiri dengan tatapan kosong. Bukan tatapan hampa, melainkan mata yang tengah menyelami perasaan seorang Zafran—sosok yang ia hidupkan dalam film 5CM: Revolusi Hati. Roman King, nama yang kini mulai dikenal, mengisahkan perjalanan panjangnya dari sekadar anak biasa yang gemar menonton film hingga berdiri di depan kamera dengan beban emosi yang tak ringan.

"Aku nggak pernah bayangin bisa sampai di titik ini," ujarnya pelan, seperti mengenang setiap langkah yang telah ia lewati. "Dari dulu, aku cuma anak yang suka nonton film di kamar. Sekarang, aku jadi bagian dari cerita yang mungkin akan dikenang banyak orang."

Mimpi yang Tumbuh di Ruang Sederhana

Roman mengisahkan bahwa kecintaannya pada dunia akting tidak lahir dari keluarga seniman. Ia tumbuh di lingkungan sederhana, tempat mimpi besar jarang diucapkan dengan lantang. Namun justru dari kesederhanaan itu, ia belajar arti perjuangan. Setiap kali ia menonton film, ia membayangkan dirinya berdiri di posisi aktor yang ia kagumi.

"Aku sering dianggap aneh karena ngobrol sendiri di kamar, latihan dialog," kenangnya sambil tersenyum tipis. "Tapi itu momen di mana aku merasa paling hidup."

Ketika kesempatan mengikuti audisi 5CM: Revolusi Hati datang, Roman tidak menyia-nyiakannya. Ia mempersiapkan diri sebaik mungkin, meski bayang-bayang keraguan terus menghantui. "Aku takut gagal. Tapi aku lebih takut kalau nanti aku menyesal karena nggak nyoba," ucapnya.

Menjadi Zafran: Antara Karakter dan Kenyataan

Mendapatkan peran Zafran bukan berarti perjalanan menjadi mudah. Roman mengaku harus mendalami karakter yang jauh berbeda dari dirinya. Zafran adalah sosok dengan pergulatan batin yang kompleks—remaja yang mencari jati diri di tengah tekanan pertemanan dan harapan orang tua.

"Ada adegan di mana Zafran harus nangis, dan aku benar-benar harus mengingat sesuatu yang menyakitkan dari hidupku sendiri," ungkapnya dengan suara bergetar. "Aku nggak bisa bohong di depan kamera. Semua perasaan itu harus asli."

Di balik layar, Roman juga membangun kedekatan dengan para pemain lain. Mereka sering berdiskusi, bertukar cerita, dan saling menguatkan. "Kami seperti keluarga. Kalau ada yang down, kami bangkit bareng-bareng," katanya.

Proses syuting yang melelahkan justru menjadi momen mengharukan bagi Roman. Ia belajar bahwa akting bukan hanya soal berdiri di depan kamera, tetapi juga tentang memahami manusia lain, tentang merasakan apa yang tidak terlihat.

Inspirasi bagi Remaja yang Berjuang

Bagi Roman, film ini bukan sekadar proyek akting. Ia berharap kisah Zafran dapat menjadi cermin bagi banyak remaja yang tengah berjuang dengan mimpi dan ketakutan mereka sendiri.

"Aku pengin anak-anak di luar sana tahu, kalau mereka merasa sendirian, mereka nggak sendiri. Perjuangan itu nyata, dan mimpi itu layak diperjuangkan," tuturnya penuh semangat.

Ia juga berpesan agar generasi muda tidak takut mencoba. "Gagal itu bagian dari proses. Air mata itu bukan tanda lemah, tapi tanda kita peduli," ujarnya.

Perjalanan Roman King sebagai Zafran mungkin baru permulaan. Namun di balik setiap adegan yang ia mainkan, ada kisah tentang seorang remaja yang berani bermimpi, jatuh, lalu bangkit kembali. Kisah yang sederhana, namun menyentuh—seperti potongan kehidupan yang ia bagi kepada siapa saja yang menontonnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS galih-pratama

Editor Teknologi. Mantan software engineer. Meliput AI, cloud, dan transformasi digital.

Comments (0)

User