Di sebuah ruangan hotel di jantung Jakarta, Rabu (19/8/2026) sore, lampu kamera berkedip tanpa henti mengarah ke satu panggung kecil. Di balik meja panjang itu duduk Rian Ekky Pradipta, vokalis D'MASIV, dengan senyum yang tak pernah pudar meski hari sudah berjalan panjang. Suasana hangat justru terasa lebih kental daripada gemerlap lampu: hari itu, band yang namanya sudah melekat di hati jutaan pendengar Indonesia itu resmi mengumumkan perjalanan terbaru mereka, D'MASIV Asia Home Run.
Bagi Rian, momen ini bukan sekadar agenda promosi biasa. Lebih dari itu, ia menjadi titik kumpul dari perjalanan panjang yang ia dan kawan-kawannya lalui selama lebih dari dua dekade. Dari panggung-panggung kecil di kampus, dari studio sederhana di pinggiran kota, hingga akhirnya bersiap menyapa penonton di berbagai negara di Asia.
Perjalanan yang Berawal dari Mimpi Sederhana
Mengisahkan perjalanan D'MASIV tentu tak bisa lepas dari ingatan tentang masa-masa awal yang jauh dari kata glamor. Rian bercerita bagaimana mereka biasa berlatih di ruangan berukuran sempit dengan peralatan seadanya, dan mimpi yang justru tumbuh semakin besar di tengah segala keterbatasan itu.
“Dulu kami hanya bermimpi bisa tampil di panggung kampus yang lebih ramai. Sekarang Allah memberi kesempatan untuk membawa lagu-lagu kami ke luar negeri. Ini benar-benar di luar bayangan kami,” ujar Rian dengan mata yang sedikit berkaca-kaca.
Baginya, keberhasilan hari ini tidak pernah lepas dari air mata dan kerja keras yang tidak terlihat orang banyak. Ada malam-malam ketika mereka harus memilih antara membeli alat musik atau sekadar makan, ada juga masa ketika lagu mereka ditolak di sana-sini. Namun dari situlah mereka belajar bahwa mimpi tidak pernah salah — yang salah adalah berhenti sebelum mencoba.
Di Balik Layar Persiapan yang Tidak Pernah Mudah
Nama “Asia Home Run” bukanlah pilihan yang asal. Bagi Rian, istilah itu menggambarkan harapan untuk memukul bola sejauh mungkin dalam satu ayunan — sebuah metafora tentang keberanian melangkah keluar dari zona nyaman.
“Kami ingin membuktikan bahwa musik Indonesia bisa berdiri sejajar di panggung Asia. Ini bukan soal siapa yang paling populer, tapi bagaimana kami bisa menyentuh hati orang-orang yang bahkan tidak berbicara dalam bahasa yang sama,” jelasnya.
Di balik layar, persiapan berlangsung berbulan-bulan. Latihan vokal, aransemen baru, hingga pemilihan lagu yang paling mewakili perasaan pendengar dilakukan dengan teliti. Rian mengaku kerap begadang di studio hanya untuk memastikan satu nada terasa pas. Baginya, penonton di luar negeri berhak mendapatkan pertunjukan yang sama berkelasnya dengan penonton di dalam negeri.
Mimpi yang Kini Menyentuh Banyak Hati
Yang paling mengharukan bagi Rian, kata dia, bukanlah tiket yang terjual atau panggung yang megah, melainkan tanggapan penggemar lintas negara yang mulai menyanyikan lagu-lagu D'MASIV. Ada pesan-pesan dari pendengar di luar Indonesia yang mengaku terharu mendengar lirik tentang cinta dan perjuangan, meski mereka tidak sepenuhnya memahami bahasanya.
“Itu momen yang membuat saya hampir menangis di tengah panggung. Musik ternyata bisa bicara lebih dalam dari kata-kata,” katanya pelan.
Rian juga tak lupa menyebut nama-nama besar yang pernah menginspirasinya sejak kecil. Baginya, berdiri di panggung Asia adalah cara untuk meneruskan tongkat estafet yang sudah diwariskan para musisi pendahulu, sekaligus membuka jalan bagi generasi muda Indonesia yang bermimpi serupa.
“Kami tidak mau berhenti di sini. Ini baru awal. Masih banyak kota, masih banyak hati yang ingin kami sapa,” ujarnya penuh semangat.
Menjelang akhir konferensi pers, Rian menyempatkan diri berfoto bersama awak media dan para penggemar yang setia menunggu di luar ruangan. Dari kejauhan, ia melambaikan tangan sambil tersenyum — sebuah gestur kecil yang terasa begitu sederhana, namun menyentuh. Di tengah hingar-bingar industri musik yang kerap berubah cepat, Rian dan D'MASIV tetap memilih jalan yang sama seperti dua dekade lalu: berangkat dari mimpi, berpegang pada kerja keras, dan percaya bahwa setiap perjalanan, sekecil apa pun, pantas dirayakan.
Comments (0)