Aug 25, 2026
entertainment

Ria Ricis dan Keharuan di Balik Pesta Kecil Moana

Di sudut ruang berukuran tak lebih dari lima kali empat meter itu, tirai balon berwarna pastel meliuk pelan ditiup angin dari kipas kecil di ujung meja. Lilin mungil berbentuk bintang berdiri tegak di...

Ria Ricis dan Keharuan di Balik Pesta Kecil Moana

Di sudut ruang berukuran tak lebih dari lima kali empat meter itu, tirai balon berwarna pastel meliuk pelan ditiup angin dari kipas kecil di ujung meja. Lilin mungil berbentuk bintang berdiri tegak di atas kue ulang tahun berhias karakter laut, menanti satu tiupan dari bibir mungil yang bahkan belum fasih menyebut namanya sendiri. Ria Ricis berlutut di depan putrinya, Moana, yang baru saja genap berusia dua tahun. Jemari kecil Moana menunjuk-nunjuk lilin, sementara sang ibu menatap dengan mata berkaca-kaca, seolah setiap detik di ruangan itu adalah lembar yang ingin ia simpan selamanya. "Tiup, Nak," bisik Ricis, dan seluruh ruangan seketika sunyi, hanya menyisakan suara helaan napas kecil yang penuh makna.

Sebuah Pesta yang Lahir dari Cerita Pengantar Tidur

Tak banyak yang tahu, pesta ulang tahun bertema bawah laut itu bukan sekadar pilihan estetika. Ria Ricis mengisahkan bahwa setiap malam, sebelum memejamkan mata, ia selalu mendongengkan kisah tentang lautan kepada Moana. Nama anaknya sendiri, yang ia ambil dari karakter Disney yang berlayar menjelajahi samudra, menjadi doa agar putrinya tumbuh menjadi pemberani yang mampu melintasi gelombang kehidupan. Di balik layar, Ricis menghabiskan dua bulan menyiapkan dekorasi sederhana itu—sebagian besar ia buat sendiri bersama ibunya. "Saya ingin Moana merasakan bahwa cinta tidak harus megah, cukup hangat dan dekat," ujarnya lirih, sambil mengelus kepala putrinya yang tertidur pulas di pangkuan selepas sesi foto bersama keluarga.

Lukisan ikan-ikan kertas yang digantung di langit-langit adalah hasil kerja malam-malam panjang Ricis setelah Moana tertidur. Ia menggunting, mewarnai, dan merangkainya satu per satu—sebuah proses yang ia sebut sebagai terapi. "Setiap potongan kertas, saya titipkan harapan. Saya ingin Moana tahu bahwa ibunya mungkin bukan yang paling sempurna, tapi selalu berusaha menghadirkan keajaiban kecil," kata Ricis, suaranya serak menahan tangis.

"Moana mungkin belum mengerti apa arti ulang tahun. Tapi saya yang paling merayakan hari itu—sebab di hari kelahirannya, saya juga lahir kembali sebagai seorang ibu."

Air Mata di Tengah Nyanyian Selamat Ulang Tahun

Saat lilin dinyalakan dan para tamu mulai menyanyikan "Selamat Ulang Tahun", momen mengharukan tak terbendung. Ricis, yang biasanya ceria di depan kamera, justru menunduk dan merapatkan pelukannya ke tubuh mungil Moana. Air mata jatuh satu per satu, mungkin karena lelah, mungkin karena haru, mungkin karena ia teringat perjalanan panjangnya menjadi seorang ibu—dari masa-masa penuh perjuangan saat awal kehamilan, komentar-komentar yang kadang melukai di media sosial, hingga akhirnya tiba di titik ini: melihat anaknya tertawa sambil mengacak-acak kue dengan tangan penuh krim.

"Waktu itu saya hanya bisa membayangkan, bagaimana ya rasanya memangku anak sendiri di hari ulang tahunnya? Sekarang nyata, dan rasanya seperti mimpi yang Tuhan kasih tanpa saya minta," ucap Ricis, matanya masih merah. Ia lalu menceritakan sebuah kebiasaan sederhana: setiap ulang tahun Moana, ia akan menulis surat yang akan diberikan saat putrinya dewasa nanti. Surat itu berisi tentang bagaimana ia berjuang menjaga kehamilannya, bagaimana ia belajar memandikan bayi, dan bagaimana ia menangis di malam-malam pertama saat Moana demam. "Saya ingin Moana tahu bahwa ia dicintai bahkan sebelum ia bisa mencintai dirinya sendiri."

Pelajaran Bersahaja dari Sebuah Perayaan

Bagi Ricis, pesta kecil itu adalah pernyataan tentang makna kebahagiaan. Ia sengaja tidak mengundang banyak orang, hanya keluarga inti dan beberapa sahabat yang sudah ia anggap seperti saudara. Tak ada dekorasi mewah atau pertunjukan yang menyita perhatian—hanya kue sederhana, lagu anak-anak, dan tawa yang memenuhi ruangan. "Saya belajar bahwa momen terbaik itu justru hadir dari kesederhanaan," katanya, menunjuk ke arah Moana yang tengah sibuk merobek kertas kado ditemani sang nenek.

Di tengah hingar-bingar dunia maya yang kadang memaksanya untuk selalu tampil sempurna, Ricis justru menemukan kedamaian di dalam ruang kecil itu. "Di sini saya hanya seorang ibu. Bukan YouTuber, bukan publik figur. Hanya seorang perempuan yang ingin melihat anaknya bahagia," ucapnya, dengan senyum yang tampak lebih lega dari biasanya. Ia menatap ke arah kue yang tinggal separuh, lalu berbisik seolah pada dirinya sendiri, "Selamat ulang tahun, Moana. Terima kasih sudah memilihku." Di sudut lain ruangan, pita-pita kado berserakan, dan lilin yang tadi padam masih mengepulkan asap tipis—sebuah pertanda bahwa perayaan boleh usai, tapi kehangatannya akan terus membekas.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User