Aug 25, 2026
entertainment

RAN Tutup TRANS TV Festival lewat Pelukan Rindu Ribuan Penonton

Malam mulai menua ketika satu per satu lampu ponsel berkedip di kegelapan Lapangan Sunburst. Minggu itu, hawa gerimis yang nyaris turun justru menjadi saksi bagaimana ribuan orang menolak pulang. Di a...

RAN Tutup TRANS TV Festival lewat Pelukan Rindu Ribuan Penonton

Malam mulai menua ketika satu per satu lampu ponsel berkedip di kegelapan Lapangan Sunburst. Minggu itu, hawa gerimis yang nyaris turun justru menjadi saksi bagaimana ribuan orang menolak pulang. Di atas panggung, tiga sosok muncul dengan senyum yang seolah baru saja mengenang masa-masa awal mereka bermusik. Ini bukan sekadar penampilan terakhir—ini adalah sebuah penegasan bahwa kerinduan yang tertunda selama dua dekade selalu menemukan jalannya kembali.

Sebuah Pertemuan yang Ditulis Ulang

Di sudut barisan depan, seorang perempuan dengan kaus lusuh bertuliskan "RAN for your life" menggenggam erat tangan sahabatnya. Matanya berkaca-kaca bahkan sebelum nada pertama mengalun. Ia mengisahkan bahwa kaus itu ia beli saat konser pertama RAN tahun 2008. Hari ini, delapan belas tahun berselang, ia datang bersama orang yang sama, berharap mendengar ulang lagu yang mengantarnya jatuh cinta di bangku SMA dulu. "Rasanya seperti diundang ke reuni tanpa harus menjelaskan apa-apa," bisiknya.

Di belakangnya, pasangan suami istri membawa dua anak kecil yang tak henti bertanya kapan lagu "Dekat di Hati" dimulai. Sang ibu, yang dulu mendengarkan lagu itu lewat CD bajakan di kamar kos, kini mengajarkan liriknya kepada anak-anaknya. Di momen seperti inilah musik berhenti menjadi sekadar hiburan dan berubah menjadi jembatan lintas generasi.

Bukan Sekadar Urutan Lagu

Ketika intro piano mengawali malam, RAN tidak langsung membawa penonton ke puncak euforia. Mereka justru mengajak semua orang menyusuri lorong waktu dengan aransemen ulang yang lebih intim. Asta, yang dulu kerap bergerak lincah di atas panggung, kali ini lebih banyak tersenyum, membiarkan matanya menyapu lautan manusia yang ikut bernyanyi. Sesekali ia menunduk, seolah tidak percaya bahwa lagu-lagu yang mereka ciptakan di kamar sempit kontrakan kini dinyanyikan oleh puluhan ribu suara.

Nino, dengan gitarnya yang setia, menyelipkan cerita di sela-sela transisi lagu. "Dulu, waktu kami bikin yang ini, kami cuma tiga orang kuper yang nggak tahu mau jadi apa," katanya, disambut tawa penonton. Namun di balik tawa itu, ada kejujuran yang jarang terucap: bahwa perjalanan bermusik adalah tentang bertahan lebih lama dari keraguan sendiri. Rayi, yang belakangan lebih sering berada di balik layar sebagai penulis, tampil dengan tenang—suaranya yang khas justru menjadi fondasi yang merekatkan tiga vokal berbeda menjadi satu harmoni.

Sebuah Penutup yang Enggan Berlalu

Menjelang lagu pamungkas, sesuatu yang tak direncanakan terjadi. Layar besar di belakang panggung tiba-tiba menampilkan potongan-potongan video lawas: sesi latihan pertama di garasi, wawancara canggung di televisi lokal, hingga momen ketika mereka pertama kali menerima penghargaan. Penonton yang tadinya bersorak tiba-tiba terdiam. Yang terdengar kemudian bukan lagi teriakan, melainkan isak tangis yang ditahan-tahan.

Seorang pria paruh baya yang berdiri di dekat panggung tidak kuasa menyeka matanya. Ia mengisahkan bahwa ia sempat berhenti mendengarkan RAN selama bertahun-tahun setelah kehilangan pekerjaan dan harus menjual semua koleksi kasetnya. Malam itu, ia datang sendirian, membawa serta kenangan tentang dirinya yang lebih muda—dirinya yang percaya bahwa segala sesuatu mungkin terjadi. "Saya pikir saya datang buat nostalgia," katanya dengan suara serak. "Ternyata saya datang buat menuntaskan sesuatu yang belum selesai."

Rindu yang Selalu Punya Alamat

Ketika semua kru mulai bersiap merapikan kabel dan peralatan, RAN memutuskan untuk melakukan sesuatu yang jarang mereka lakukan: turun dari panggung dan berjalan menyusuri pagar pembatas. Mereka menyalami penonton satu per satu, menerima pelukan, menerima cerita-cerita singkat yang disampaikan dengan mata berbinar. Di situlah terlihat bahwa apa yang mereka bangun bukan hanya karier, melainkan sebuah keluarga besar yang tidak dibatasi oleh jarak dan waktu.

Malam itu di Lapangan Sunburst BSD bukanlah akhir dari sebuah konser. Ia adalah awal dari kesadaran bahwa lagu-lagu RAN tidak pernah benar-benar pergi. Mereka hanya menunggu—sabar, setia—sampai kita cukup dewasa untuk memahami setiap bait yang dulu kita nyanyikan tanpa benar-benar mengerti artinya. Dan ketika kerinduan itu menemukan bentuknya di panggung terbuka dengan langit yang nyaris menangis, tidak ada yang bisa menyalahkan siapa pun yang memilih untuk tinggal lebih lama, menolak beranjak meski not terakhir telah lama menghilang ke udara malam.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User