Aug 25, 2026
entertainment

Raffi dan Nagita Bawa Bantuan Rp1 Miliar ke Kampung Adat Sade

Asap hitam itu sudah lama hilang dari langit Lombok Tengah, tetapi jejaknya masih tersisa di setiap sudut Kampung Adat Sade. Di antara puing-puing rumah beratap alang-alang yang hangus, warga sibuk me...

Raffi dan Nagita Bawa Bantuan Rp1 Miliar ke Kampung Adat Sade

Asap hitam itu sudah lama hilang dari langit Lombok Tengah, tetapi jejaknya masih tersisa di setiap sudut Kampung Adat Sade. Di antara puing-puing rumah beratap alang-alang yang hangus, warga sibuk memilah sisa-sisa barang yang bisa diselamatkan. Suasana haru itu mendadak berubah ketika sebuah kabar baik datang: Raffi Ahmad dan Nagita Slavina memutuskan untuk hadir langsung di tengah warga yang sedang berduka.

Kedatangan pasangan selebritas itu bukan sekadar seremoni. Mereka menyusuri jalan setapak di antara rumah-rumah yang tersisa, menyapa para orang tua yang kehilangan tempat tinggal, dan menenangkan anak-anak yang masih membekas trauma. Raffi tampak larut dalam suasana. Ia tidak banyak bicara, tetapi tangannya sibuk menggenggam tangan para warga yang ditemuinya.

Perjalanan Menyentuh Hati di Tengah Puing

Kampung Adat Sade dikenal sebagai salah satu permukiman tradisional Sasak yang paling dijaga kelestariannya. Rumah-rumahnya yang sederhana, berdinding anyaman bambu dan beratap alang-alang, selama ini menjadi saksi bisu kehidupan warga yang berpegang teguh pada adat. Kebakaran yang melanda beberapa waktu lalu tak hanya menghanguskan bangunan, tetapi juga kenangan dan perjuangan hidup yang tersimpan di dalamnya.

Di tengah suasana itulah Raffi dan Nagita hadir. Mereka datang bukan dengan rombongan besar yang ramai, melainkan dengan pendekatan yang lebih manusiawi. Raffi memilih duduk di bawah pohon, mendengarkan cerita para tetua adat tentang rumah-rumah yang mereka bangun dengan tangan sendiri puluhan tahun lalu.

"Ini bukan soal besar kecilnya bantuan. Ini soal kami hadir, mendengar, dan merasakan apa yang mereka rasakan," begitu kira-kira pesan yang mengalir dari pertemuan yang mengharukan tersebut.

Nagita, yang biasanya tampil ceria, sore itu terlihat menahan air mata saat melihat seorang nenek tua menceritakan koleksi kain tenun warisan yang ikut hangus. Bagi warga Sade, kain tenun bukan sekadar kain. Di dalamnya tersimpan cerita leluhur, kerja keras, dan harga diri yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Bantuan Rp1 Miliar untuk Bangkit Kembali

Di tengah perjalanan itu, Raffi dan Nagita menyerahkan bantuan senilai Rp1 miliar yang akan digunakan untuk membangun kembali rumah-rumah warga yang terbakar. Angka yang besar itu, kata mereka, bukanlah tujuan utama. Yang lebih penting adalah bagaimana warga bisa kembali memulai hidup dan menjaga adat yang nyaris hilang bersama asap kebakaran.

Bantuan tersebut direncanakan untuk dialokasikan pada pembangunan kembali rumah-rumah adat, pemulihan alat tenun, serta kebutuhan pokok warga selama masa pemulihan. Raffi menegaskan bahwa proses pemulihan tidak akan berhenti pada satu kunjungan saja, melainkan akan terus dipantau hingga warga benar-benar bisa berdiri kembali.

Momen itu menjadi salah satu momen mengharukan yang jarang terlihat di layar kaca. Di balik layar, ada kerja nyata yang tak banyak diekspos. Raffi dan Nagita tidak hanya menyerahkan uang, tetapi juga waktu, tenaga, dan kehadiran yang membuat warga merasa tidak sendirian.

Mimpi Sederhana Warga Sade

Bagi sebagian orang, bantuan Rp1 miliar mungkin terasa besar. Tetapi bagi warga Sade, mimpi mereka jauh lebih sederhana: sebuah atap untuk berteduh, kain tenun untuk ditenun kembali, dan suasana adat yang kembali hidup seperti sedia kala. Mereka tidak menuntut kemewahan, hanya ingin bangkit dari keterpurukan dengan cara yang mereka kenal.

Seorang warga menuturkan bahwa kebakaran telah mengambil banyak hal, tetapi tidak pernah bisa menghapus semangat mereka untuk bertahan. "Kami kehilangan rumah, tetapi tidak kehilangan keluarga dan semangat," ujarnya lirih. Kata-kata itu menggema di antara reruntuhan, menjadi pengingat bahwa pemulihan sejati selalu dimulai dari dalam hati.

Inspirasi di Balik Kabar Duka

Kisah ini menjadi inspirasi bahwa solidaritas tidak selalu datang dari mereka yang berdekatan secara geografis. Raffi dan Nagita, yang hidup dalam kemewahan, rela menempuh perjalanan jauh hanya untuk berdiri di samping warga yang sedang berjuang. Kehadiran mereka mengajarkan bahwa kepedulian sejati diukur dari kedekatan hati, bukan dari besarnya pemberitaan.

Malam mulai turun di Kampung Adat Sade ketika rombongan berpamitan. Di belakang mereka, warga masih sibuk menyusun rencana. Lampu-lampu kecil mulai menyala di antara tenda darurat, dan untuk pertama kalinya sejak kebakaran, terdengar tawa anak-anak kembali bermain. Di situlah harapan itu tumbuh — sederhana, tetapi nyata, seperti kehidupan yang selalu mereka jaga.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS galih-pratama

Editor Teknologi. Mantan software engineer. Meliput AI, cloud, dan transformasi digital.

Comments (0)

User