Sep 19, 2026
Nasional

Prabowo Tegaskan Ketahanan Pangan Kunci Kedaulatan Bangsa di KTT BRICS

Di hadapan para pemimpin dunia yang berkumpul dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS di India, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menyampaik

Prabowo Tegaskan Ketahanan Pangan Kunci Kedaulatan Bangsa di KTT BRICS

Di hadapan para pemimpin dunia yang berkumpul dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS di India, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menyampaikan pesan mendalam tentang hakikat kekuatan sebuah negara. Dengan nada mantap dan penuh penekanan, Presiden menegaskan bahwa kehormatan serta ketangguhan suatu bangsa tidak sekadar diukur dari kecanggihan alutsista atau pertumbuhan angka statistik ekonomi, melainkan dari hal paling mendasar: kemampuan pemerintahnya dalam memenuhi kebutuhan pangan seluruh rakyatnya.

Kehadiran Indonesia di forum megah ini menjadi sorotan utama, terutama saat Prabowo memaparkan pandangan strategisnya mengenai peta jalan kedaulatan nasional di tengah ketidakpastian geopolitik global. Narasi ketahanan pangan menjadi isu sentral yang ia perjuangkan di hadapan negara-negara anggota BRICS.

Soroti Ketahanan Pangan dan Kedaulatan Bangsa

Dalam pidato puncaknya, Presiden Prabowo menggarisbawahi bahwa krisis pangan global yang dipicu oleh perubahan iklim dan konflik geopolitik harus menjadi alarm keras bagi semua pihak. Bagi Indonesia, ketahanan pangan bukan lagi sekadar program pembangunan biasa, melainkan benteng pertahanan paling vital bagi keberlangsungan negara dengan populasi lebih dari 280 juta jiwa.

"Bangsa yang tangguh dan dihormati adalah bangsa yang mampu memberi makan rakyatnya sendiri. Tidak ada artinya kemajuan teknologi jika masih ada warga yang kelaparan," ujar Presiden Prabowo di hadapan para kepala negara BRICS.

Pandangan ini mempertegas langkah politik luar negeri Indonesia yang berorientasi pada kesejahteraan konkret masyarakat. "Kedaulatan pangan adalah fondasi dari seluruh bentuk kedaulatan lainnya. Tanpa perut yang terisi, stabilitas politik dan ekonomi hanyalah ilusi semu," tegas seorang pengamat politik internasional mengomentari arah pidato tersebut.

5 Poin Utama Pidato Prabowo di Panggung BRICS

Secara komprehensif, orasi diplomatik Presiden Prabowo di India merangkum lima pilar utama yang menjadi perhatian serius pemerintah Indonesia dalam menjalin kerja sama internasional:

Poin Utama Fokus Strategis
1. Swasembada Pangan Menjamin kecukupan gizi dan ketersediaan bahan pokok secara mandiri.
2. Kemandirian Energi Mendorong transisi energi hijau berbasis potensi sumber daya lokal.
3. Kerjasama Selatan-Selatan Memperkuat kolaborasi ekonomi antarnegara berkembang di wadah BRICS.
4. Reformasi Keuangan Global Mendorong arsitektur keuangan dunia yang lebih adil dan inklusif.
5. Perdamaian & Stabilitas Menyerukan penghentian konflik militer yang merusak rantai pasok global.

Resonansi Program Domestik ke Arena Internasional

Pernyataan Prabowo di KTT BRICS ini berelasi langsung dengan kebijakan domestik yang tengah diakselerasi di dalam negeri. Pemerintah Indonesia saat ini sedang menggenjot implementasi program strategis Makan Gizi Gratis (MBG) serta pencetakan jutaan hektar sawah baru untuk mengamankan stok beras nasional.

Langkah berani ini mendapat sambutan hangat dari peserta KTT, mengingat banyak negara berkembang anggota BRICS menghadapi tantangan serupa terkait kerentanan rantai pasok pangan pascapandemi dan perang berkepanjangan di berbagai belahan dunia.

Dengan menyampaikan gagasan ini di forum internasional, Indonesia tidak hanya memposisikan diri sebagai pengamat, tetapi juga sebagai motor penggerak aspirasi Global South. Prabowo menutup pidatonya dengan ajakan solidaritas global agar negara-negara BRICS dapat saling menopang dalam pemenuhan kebutuhan dasar manusia, sehingga ketimpangan sosial dan kemiskinan ekstrem dapat dihapuskan secara permanen.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS kartika-dewi

Reporter Cybersecurity. Fokus pada keamanan siber, privasi data, dan regulasi digital.

Comments (0)

User